5 Legenda Sepakbola yang Tidak Mendapat Penghargaan
Setiap sosok legenda sepakbola, pastinya akan selalu dikenang maupun dihargai oleh para fans atau klub yang dibela semasa aktif sebagai pemain.
Jika tidak mendapat penghargaan dalam bentuk benda, setidaknya mereka tetap dihargai atau dianggap sebagai sosok legenda dalam klub.
Sebut saja beberapa nama seperti David Beckham, Ryan Giggs, John Terry, Frank Lampard, Xavi Hernandez, Ronaldinho, Iker Casillas, Philipp Lahm yang merupakan deretan nama legenda sepakbola yang pastinya selalu mendapat penghormatan saat kembali ke klubnya masing-masing maupun di negara asalnya.
- Hampir Pasti ke Piala Asia, Fakhri Beberkan Rahasia Timnas U-16 Permalukan Thailand
- Selangkah Lagi Lolos ke Babak Utama AFC U-16, Warganet Kirim Doa Terbaik untuk Timnas U-16
- Mantan Bintang Persib Bawa Persis Solo Curi Poin
- Hadapi Irfan Bachdim, Kim Singkirkan Kekeluargaan
- Rebut Puncak, Simon Akui Borneo Sempat Sulitkan Bhayangkara
Bagus di lapangan, tentunya juga harus memiliki sikap yang bagus juga saat berada di luar lapangan. Tentu, hal tersebut akan membuat sang pemain lebih dihormati maupun dihargai oleh pihak klub maupun para fans-nya.
Biasanya, sosok pemain yang disebut legenda adalah mereka yang memiliki kontribusi lebih bagi klubnya maupun negara yang ia bela.
Tidak hanya kontribusi, tetapi juga memiliki sikap loyalitas atau kesetiaan yang tinggi. Contoh legenda sepakbola yang paling dekat karena kesetiaannya pada klub adalah Francesco Totti. Sepanjang kariernya, ia hanya membela satu klub saja, yakni AS Roma.
Ya, Totti nyaris selama 25 tahun hanya membela satu klub saja, yakni klub Ibu Kota Italia tersebut. Tidak heran, jika dirinya dikenal sebagai nama One Man Club dan selalu mendapat penghormatan maupun penghargaan dari AS Roma.
Nah, dari sekian banyak legenda sepakbola, ternyata tidak sedikit juga para legenda si kulit bundar ini yang tidak mendapatkan penghormatan atau dihargai.
Siapa sajakah mereka? Berikut ini INDOSPORT membagikannya:
1. Matt Le Tissier
Bagi pencinta sepakbola sejati, terutama sepakbola Inggris, mungkin sosok nama yang satu ini tidak asing untuk didengar, terutama di era pertengahan 90-an.
Ya, pemain yang dulunya akrab disapa Le God ini berposisi sebagai playmaker memiliki kecepatan menggiring bola yang luar biasa, serta sangat pintar dalam memberikan umpan nan akurat.
Pria asal Inggris tersebut dikenal sebagai pahlawan dan legenda bagi klub Liga Primer Inggris, Southampton. Tercatat, Le God sukses mencetak 161 gol dalam 443 penampilan di seluruh kompetisi bersama So’ton.
Di luar lapangan, ia juga terkenal akrab dengan banyak orang, terutama bagi mereka para fans Southampton. Sayangnya, sosok yang kini telah berusia 48 tahun dikabarkan sering menghabiskan waktunya di pub atau diskotik dan banyak minum alkohol.
Alhasil, dirinya pun mulai tidak disukai oleh para fans Soton karena menganggap ia tidak mengembangkan bakatnya sebagai pesepakbola. Kontribusi golnya untuk klub pun seakan tertutupi oleh sikapnya di luar lapangan, sehingga dirinya tidak heran tidak mendapatkan penghargaan, bahkan tidak dianggap sebagai legenda Southampton.
Saat ini, Matt Le Tissier juga termasuk dalam bagian komentator sepakbola di beberapa televisi olahraga Inggris, termasuk Sky Sports.
2. Ruud Krol
Timnas Belanda telah banyak memiliki nama-nama tenar, seperti Johan Cruyff, Marco van Basten, Edwin van der Sar, Ruud Gullit, dan Ruud van Nistelrooy.
Dalam beberapa tahun silam, para pencinta sepakbola Belanda tentunya tidak akan melupakan nama-nama tersebut.
Namun harus diakui, jika ada juga beberapa nama yang memiliki kontribusi maksimal bagi mereka di kancah internasional, salah satunya adalah Ruud Krol.
Saat masih aktif bermain, Krol merupakan pemain yang berposisi sebagai bek kiri. Namun, dirinya juga bisa ditempatkan sebagai bek tengah, bek kanan, maupun gelandang bertahan, termasuk gelandang serang.
Mampu menempati di segala posisi serta mempunyai kualitas permainan yang bagus, tentu membuat dirinya selalu disenangi oleh siapapun pelatihnya. Krol juga yang menghabiskan karier persepakbolaannya bersama Ajax Amsterdam.
Sayangnya, nama Krol kalah tenar dengan beberapa kompatriotnya, sehingga keberadaannya pun tidak terlalu dianggap banyak orang sebagai legenda sepakbola Belanda.
Padahal dapat dikatakan Ruud Krol juga berperan besar dalam membawa Timnas Belanda menjadi finalis Piala Dunia 1978 silam.
3. Jari Litmanen
Satu lagi sosok mantan pemain Ajax Amsterdam yang berjasa, namun keberadaannya tidak dianggap sebagai sosok legenda.
Padahal, Litmanen mampu mencetak 91 gol dalam 159 penampilan bersama Ajax di periode pertama dan turut membantu klub Ibu Kota Belanda tersebut meraih gelar Liga Champions di tahun 1995 silam.
Sayangnya, karena sering terbekap dengan cedera, karier Litmanen mulai meredup dan namanya pun mulai dilupakan, apalagi ia juga sering pindah klub dan performanya juga tak kunjung membaik.
Ditambah, adanya beberapa nama pemain Belanda yang justru bersinar saat dirinya cedera, seperti Marc Overmars, Clarence Seedorf, dan Frank Rijkaard yang membuat namanya semakin menghilang.
Situasi inilah yang membuat kontribusi dan peranan pria asal Finlandia ini tidak dianggap sebagai salah satu legenda Ajax Amsterdam.
4. Gunter Netzer
Dapat dikatakan, jika Gunter Netzer merupakan sosok legenda sepakbola yang dilupakan dengan alasan yang kurang masuk akal.
Ya, Netzer menghabiskan kariernya di klub Bundesliga Jerman, Borussia Monchengladbach. Ia juga sukses memberikan 2 gelar Bundesliga untuk Monchengladbach selama dua musim beruntun, yakni di musim 1969/70 dan 1970/71. Tidak hanya itu, dirinya juga berhasil persembahkan gelar DFB-Pokal di musim 1972/73.
Dua gelar Bundesliga ini membuat klubnya mampu mematahkan dominasi Bayern Munchen, yang kala itu juga diperkuat dua pemain bernama besar, seperti Franz Beckenbeuer dan Gerd Muller.
Pada tahun 1974, ia pindah ke Real Madrid dan Gunter juga turut menyumbangkan dua delar La Liga Spanyol (1974/75 dan 1975/76) serta Copa del Rey (1973/74, 1974/75).
Dia juga pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik Jerman sebanyak dua kali. Uniknya, Guten Netzer yang mengalami penurunan performa dan tidak dapat mengembangkannya lagi membuat keberadaannya langsung dilupakan begitu saja.
5. Carlos Dunga
Siapa yang tidak kenal sosok yang satu ini? Dalam beberapa tahun terakhir, Dunga mungkin lebih dikenal sebagai pelatih Timnas Brasil.
Namun, bagi kebanyakan orang awam, pastinya tidak mengetahui jika Dunga pernah memiliki peranan yang sangatlah penting dalam menjaga keseimbangan permainan Timnas Brasil.
Ya, Dunga dikenal sebagai pemain yang dapat merusak atau mematahkan serangan yang dibangun oleh tim lawan. Mempunyai tackle yang keras tapi bersih, agresif, serta kuat dalam duel fisik dengan pemain lawan membuat Dunga juga berandil besar dalam memberikan gelar Piala Dunia untuk Timnas Brasil di Piala Dunia 1994 silam.
Hanya saja, Dunga yang dulunya berposisi sebagai gelandang bertahan ini memiliki nasib yang sama seperti Ruud Krol. Dirinya kalah tenar dengan beberapa pemain Brasil lainnya, sehingga membuat nama Dunga tidak terlalu dianggap.