Formasi 11 Pelatih di Liga Champions Saat Jadi Pemain
Bagi sebagian pelatih klub yang tampil di Liga Champions musim ini, kasta tertinggi di sepakbola Eropa itu bukan hal yang asing. Beberapa di antara mereka bahkan pernah merasakan atmosfer Liga Champions sebagai pemain.
Tak hanya merasakan tampil di Liga Champions, ada juga pelatih yang merasakan kebahagiaan saat menjadi juara bersama klubnya. Termasuk segelintir yang sukses menjuarai Liga Champions saat masih menjadi pemain maupun ketika sudah menjadi pelatih. Bahkan ada juga yang sudah mencatatkan hasil apik sebagai pemain dalam buku sejarah Liga Champions.
Uefa.com merilis formasi posisi para pelatih ini ketika masih aktif bermain. Menggunakan pola 3-5-1-1 yang dinilai cocok mengakomodir peran dan kemampuan para pelatih tersebut saat masih diandalkan sebagai pemain. Berikut INDOSPORT menyajikan para pelatih hebat ini berdasarkan posisi yang jadi andalan mereka.
1. Kiper: Senol Gunes (Besiktas)
Senol Gunes merupakan legenda hidup bagi klub Turki, Trabzonspor. Bersama klub tersebut, Senol Gunes sukses meraih enam titel juara Liga Turki dan tiga trofi Piala Turki. Kiper kharismatik ini membela Trabzonspor selama 15 tahun, antara 1972 hingga 1987.
Senol Gunes pun sempat dipercaya untuk menjadi kiper utama Timnas Turki saat membela Trabzonspor. Dia tampil dalam 31 pertandingan Timnas dan sempat dipercaya mengemban ban kapten dalam lima laga.
2. Wing Back Kanan: Sergio Conceicao (FC Porto)
Nama Sergio Conceicao seolah identik dengan posisi sayap kanan di setiap klub yang dibelanya. Baik saat masih membela FC Porto maupun ketika memutuskan untuk pindah ke Lazio.
Bersama Porto, Conceicao sempat merasakan dua trofi juara Liga Portugal. Kemampuannya kala itu dipercaya untuk membela Timnas Portugal. Conceicao pun meraih 56 caps dan mencetak 12 gol bagi Seleccao.
Sementara saat bersama Lazio, Conceicao juga merasakan manisnya trofi juara kompetisi Eropa. Tepatnya Piala Winners, Piala Super Eropa, Coppa Italia, dan tentu saja Scudetto Serie A.
3. Bek Tengah: Mauricio Pochettino (Tottenham Hotspur)
Mauricio Pochettino punya pengalaman berharga saat mengawali karier sebagai pemain sepakbola. Dia pernah bermain bersama legenda Argentina, Diego Armando Maradona, di klub Newell's Old Boys.
Pochettino kemudian pindah ke Espanyol dan menjadi pemain andalan di klub yang klub yang bertetangga dengan Barcelona itu. Saat menjadi pemain, Pochettino dikenal sebagai bek tangguh yang sulit dilewati lawan. Pochettino pun sempat membela Timnas Argentina dalam 20 pertandingan.
4. Bek Tengah: Massimo Carrera (Spartak Moskow)
Bergabung dengan Juventus pada 1991, nama Massimo Carrera dikenal sebagai bek yang kerap tampil impresif saat berada di atas lapangan. Mengawali karier sebagai bek kanan namun kemudian beralih menjadi libero.
Pada 1993, Carrera membantu Juventus meraih titel Piala UEFA dan ikut merasakan manisnya juara Liga Champions 1995/96 meski tidak dimainkan. Carrera mengakhiri karier sepakbola bersama Pro Vercelli di Serie C2 pada usia 44 tahun.
5. Bek Tengah: Darko Milanic (Maribor)
Darko Milanic baru berusia 17 saat direkrut oleh Partizan Belgrade. Milanic pun mencicipi titel juara Liga Yugoslavia pada 1987 dan Piala Liga Yugoslavia pada 1989 dan 1992.
Karier Milanic kemudian dilanjutkan bersama Strum Graz. Milanic pun mempersembahkan dua titel juara Liga Austria dan tiga Piala Austria.
Sedikit berbeda, Milanic sempat tampil membela Yugoslavia dalam 5 pertandingan. Namun setelah Yugoslavia pecah menjadi beberapa negara kecil, dia pun memilih untuk membela Slovenia dan tampil dalam 42 pertandingan.
6. Wing Back Kiri: Giovanni van Bronckhorst (Feyenoord)
Giovanni van Bronckhorst merupakan pemain didikan asli Feyenoord. Perjalanan kariernya di Eropa dimulai saat hijrah ke Glasgow Rangers. Di musim pertamanya bersama klub Skotlandia itu, Van Bronckhorst sukses meraih trebel winners.
Saat pindah ke Arsenal, pemain berdarah Indonesia ini juga merasakan trofi ganda. Kemudian menjadi bagian dari kesuksesan Barcelona di final Liga Champions 2006, melawan Arsenal. Van Bronckhorst mengakhiri kariernya di Timnas Belanda saat kalah dari Spanyol di final Piala Dunia 2010. Total, Van Bronckhorst meraih 106 caps bersama De Oranje.
7. Midfielder: Josep Guardiola (Manchester City)
Bagi fans Barcelona, sosok Josep Guardiola tak akan pernah dilupakan. Pep merupakan pengatur serangan ulung di kubu Blaugrana. Pemain didikan Akademi Barcelona ini meraih banyak trofi sepanjang berkostum Barcelona. Di antaranya 6 tofi La Liga, 1 Piala Winners, 1 Piala Champions, dan 2 trofi Copa del Rey.
Usai dari Barcelona, Pep sempat melanglang buana. Setelah membela AS Roma dan Brescia, Pep sempat membela Al-Ahly di Liga Qatar dan Dorados de Sinola di Meksiko. Bersama Timnas Spanyol, Pep tampil dalam 40 caps dan meraih Medali Emas Olimpiade.
8. Midfielder: Antonio Conte (Chelsea)
Mengawali karier bersama klub kota kelahirannya, Lecce, Antonio Conte justru kemudian menjadi ikon bagi Juventus. Sepanjang 13 musim bersama Bianconeri, Conte merasakan 5 Scudetto Serie A, Liga Champions 1995/96, dan Piala UEFA 1992/93. Conte pun dipercaya sebagai kapten tim Juventus sejak 1996.
Kemampuan Conte pun sangat diandalkan di Timnas Italia. Dia menjadi bagian dari skuat Gli Azzurri di Piala Dunia 1994 dan Piala Eropa 2000. Total, Conte sudah tampil dalam 20 pertandingan bersama Timnas Italia.
9. Midfielder: Diego Simeone (Atletico Madrid)
Hampir di semua klub Eropa yang pernah dibela, selalu ada trofi yang diraih Diego Simeone. Berposisi sebagai gelandang bertahan, Simeone pernah meraih Piala UEFA bersama Inter Milan, Piala Super Eropa di Lazio, dan juara La Liga bersama Atletico Madrid. Hanya bersama Sevilla, Simeone gagal meraih trofi.
Simeone pun menjadi salah satu pemain yang memiliki caps terbanyak di Timnas Argentina. Sudah 105 pertandingan yang dilakoni bersama Tim Tango. Momen paling spesial tentu saja saat membuat David Beckham dikartu merah ketika Argentina bertemu Inggris di Piala Dunia 1998.
10. Second Striker: Zinedine Zidane (Real Madrid)
Tidak banyak pemain Eropa bernomor punggung 10 yang mampu menyihir penonton setiap kali dia bermain. Zinedine Zidane adalah salah satunya. Zidane sudah bersinar sejak membela Juventus. Meraih trofi Serie A dan runner-up Liga Champions dalam dua musim pertamanya bersama Bianconeri.
Kariernya semakin cemerlang ketika direkrut Real Madrid pada 2001, yang membuat dirinya menjadi pemain termahal saat itu. Bersama Los Blancos, Zidane sukses mempersembahkan trofi La Liga dan Liga Champions 2001/02. Tendangan voli Zidane yang berbuah gol ke gawang Bayer Leverkusen di partai final, terpilih menjadi gol terbaik Liga Champions sepanjang masa.
11. Striker: Ernesto Valverde (Barcelona)
Ernesto Valverde dijuluki Txingurri yang artinya semut pekerja karena karakternya yang tak pernah lelah ketika bermain. Dia merupakan mantan pemain legendaris bagi fans Athletic Bilbao. Valverde tampil dalam 170 laga dan mengoleksi 44 gol bersama Bilbao.
Valverde pun sempat membantu Espanyol tampil di final Piala UEFA 1988. Sayang Espanyol kalah dalam adu penalti melawan Bayer Leverkusen. Valverde sempat membela Barcelona dan Real Mallorca sebelum memutuskan untuk gantung sepatu.