x

Nadim, Kabur dari Taliban Jadi Pesepakbola Terbaik Eropa

Jumat, 6 April 2018 18:35 WIB
Editor: Gerry Crisandy
Nadia Nadim, pesepakbola yang mengawali hidupnya di bawah kekuasaan Taliban.

Menjadi pesepakbola profesional adalah impian banyak kanak-kanak di dunia. Tapi tidak untuk Nadim kecil. 

Jangankan menjadi salah satu yang terbaik di Eropa, Nadim kecil bahkan tidak pernah membayangkan bahwa sepakbola profesional adalah sebuah pilihan karier.

Nadia Nadim kala itu masih berusia 10 tahun. Ia hanya memiliki seorang ibu dan empat orang saudari perempuan. Sebelumnya, sang ayah beranjak keluar melewati pintu rumah, tapi tidak pernah memasuki pintu rumah itu lagi.

Baca Juga

1. Lepas dari Kekangan Taliban

Keadaan wanita-wanita Afganistan di bawah kekuasaan Taliban.

Sang ayah, Rabani, adalah seorang jenderal tentara Afganistan. Taliban, organisasi yang menguasai negaranya saat itu, memanggil ayahnya untuk sebuah pertemuan. Enam bulan berselang, sang ibu menemukan bahwa suaminya dibawa ke sebuah gurun dan dieksekusi.

Hidup untuk satu keluarga yang berisi enam perempuan kala itu sangat sulit, bahkan bisa dibilang hampir mustahil. Anak-anak peremuan tidak diizinkan bersekolah, sang ibu tidak dapat bekerja. 

Tidak ada lagi yang tersisa bagi Nadim dan keluarganya di Afganistan -- mereka memutuskan untuk menyelundup keluar. Dengan paspor Pakistan palsu, mereka menuju London, Inggris. 

Kala itu Nadia telah beranjak dua tahun lebih tua, tumbuh menjadi seorang remaja berusia 12 tahun. Menggunakan satu truk kargo, ia melangkahkan kakinya keluar. Tapi ia tidak berada di Britania Raya, bumi yang dipijaknya berada di Skandinavia.


2. Mengenal Sepakbola

Nadia Nadim dalam balutan seragam Timnas Denmark

Denmark, tepatnya -- negara yang kemudian akan menjadi rumah bagi Nadim dan keluarganya.

"Saya sangat bahagia saya mendapatkan kesempatan kedua," ungkap Nadim dikutip dari laman resmi Manchester City. "Saya dan keluarga saya mendapatkan yang terbaik dari keadaan tersebut."

Keluarganya dikirim ke suatu pusat pengugsian. Di sana lah, pertama kalinya Nadim bermain sepakbola di depan umum, dengan anak-anak lain sebayanya. 

Di Afganistan, perempuan dilarang berolahraga. Tapi terkadang, ia diam-diam bermain dengan saudari-saudarinya di halaman rumahnya, bersama sang mendiang ayah.

Bersama teman-temannya, Nadim dan teman-temannya dari pusat pengungsian menemukan sebuah lapangan. Pemandangan yang tidak pernah dilihatnya tersebut adalah pusat pelatihan untuk tim sepakbola lokal, Gug Boldklub, di mana Nadim kerap menghabiskan waktunya berlatih. 

Ia berlatih untuk bersenang-senang -- mengalihkan pikirannya dari masa lalunya yang seharusnya tidak pernah dialami anak-anak seusianya.


3. Di Tim Laki-laki

Turnamen sepakbola pertamanya, Nadim bermain di tim laki-laki.

Tidak lama sesudah itu, Nadim, meskipun dengan keterbatasannya dalam bahasa Inggris maupun Denmark, menanyai pelatih-pelatih setempat apakah ia dapat bermain. Ia bahkan mengingat turnamenpertamanya, sebuah kompetisi lokal yang tidak memiliki tim perempuan.

"Saya berada di tim laki-laki dan kami bermain melawan tim yang memiliki beberapa pemain yang sangat baik, beberapa dari tim nasional U-15. Saat itu, saya pikir itu adalah hal besar," kenangnya dikutip dari laman UEFA.

"Saya tidak berpikir saya bermain sejak awal. Kami saat itu tertinggal 1-0, saya masuk, mencetak gol pertama dan memberikan assist untuk gol kedua."

"Biasanya setelah setiap pertandingan mereka memberi trofi kecil untuk pemain terbaik dan saya mendapatkannya -- itu adalah hal yang luar biasa, salah satu momen-momen pertama saya menyadari bahwa saya tidak buruk (dalam sepakbola)," tambahnya.


4. Bukti Nyata Kerja Keras

Nadia Nadim di Final Piala Eropa Wanita 2017

Ketika Nadim berusia 18 tahun, ia menandatangani kontrak profesional pertamanya untuk IK Skovbakken. Ia juga sempat membela Fortuna Hjorring, Sky Blue FC, Portland Thorns, sebelum kini berseragam biru muda Manchester City.

Bukan hanya di level klub, Nadim juga telah tampil sebanyak 74 kali di level negara -- bukan untuk Afganistan, melainkan Denmark -- dan mencetak 22 gol. Ia juga menjadi bagian dalam sejarah perjalanan Denmark ke final Piala Eropa di Belanda.

Nadim adalah bukti nyata bahwa bakat dan keinginan adalah modal utama kesuksesan. Dari seorang anak perempuan kecil yang bahkan tidak bisa meninggalkan rumahnya dengan bendera kebabasan, ia menjadi seorang pesepakbola wanita terbaik di Eropa saat ini, setidaknya salah satunya. 

"Saya harap di akhir karier saya, saya telah menunjukkan kepada orang-orang bahwa apapun mungkin terjadi," pesannya. 

"Tidak peduli dari mana kamu berasal atau apa yang telah kamu lalui. Hanya dibutuhkan kerja keras dan kepercayaan pada diri sendiri dan mimpi-mimpi akan menjadi kenyataan."

Manchester CityDenmarkAfganistan

Berita Terkini