5 Klub Sepak Bola yang Tetap Berprestasi Meski Irit di Bursa Transfer
INDOSPORT.COM - Tottenham Hotspur jadi bahan lelucon karena tidak membeli satu pemain pun di bursa transfer musim panas 2018/19. Klub yang berbasis di London Utara ini diragukan bisa bersaing di Liga Inggris musim ini.
Di satu sisi bisa dimaklumi juga jika Spurs agak irit karena sudah habis-habisan membiayai pembangunan stadion baru yang sayangnya belum bisa digunakan musim ini.
Terkait transfer, terkadang tak selamanya klub yang boros beli pemain akhirnya bisa meraih gelar. Contoh, musim 2012/13, Paris Saint-Germain (PSG) rela menggelontorkan dana 140 juta Euro atau Rp2,3 trilyun hanya untuk mendatangkan enam pemain. Target mereka adalah bisa jadi juara Liga Champions Eropa. Namun ternyata, PSG harus kalah atas Barcelona di babak 8 besar Liga Champions.
Sebaliknya, ada beberapa klub top Eropa yang adem ayem di bursa transfer, namun berhasil meraih prestasi gemilang di akhir musim. Siapa saja klub itu? Berikut INDOSPORT.com merangkumnya untuk pembaca setia.
1. Blackburn Rovers (1994)
Blackburn jelas bukan siapa-siapa dibanding Manchester United, Liverpool atau Arsenal. Namun mereka berhasil 'merusak' dominasi Setan Merah yang tengah berjaya di bawah asuhan Sir Alex Ferguson dengan menjuarai Liga Inggris musim 1994/1995.
Saat itu, Rovers dilatih legenda Liverpool Kenny Dalgslish. Sekalipun ada orang kaya di balik mereka yaitu Jack Walker, klub ini tak jor-joran di bursa transfer. Fokus mereka adalah membangun mental juara pemain.
Di musim tersebut, Blackburn melahirkan beberapa pemain bintang seperti Alan Shearer, Chris Sutton, Graeme La Saux dan Tim Sherwood. Tahun 1994 klub berlambang bunga ini hanya merekrut dua pemain dengan menghabiskan 5 juta poundsterling.
Prestasi Blackburn sedikit banyak mengingatkan kita pada Leicester City yang juara tahun 2015/16. Sayangnya, nama Blackburn tenggelam setelah juara dan saat ini Blackburn main di divisi satu Liga Inggris.
2. Barcelona (2015)
El Barca saat itu dilatih Luis Enrique. Skuat Barcelona memang membeli beberapa pemain, namun tak ada perubahan drastis di musim sebelumnya. Masih diperkuat duo legendaris Andres Iniesta dan Xavi Hernandez serta duet Lionel Messi-Neymar.
Enrique tidak terlalu suka banyak perubahan. Memang Barcelona mendatangkan Arda Turan dan Aleix Vidal, namun karena Barcelona masih terkena larangan transfer jadi kedua pemain tersebut belum bisa bermain hingga Januari.
Kehematan Barcelona di debut Enrique berbuah manis. Barcelona meraih tiga gelar sekaligus: La Liga, Piala Raja (Copa del Rey) dan Liga Champions Eropa.
Ini mengingatkan pada tahun 2005 dimana Los Blaugrana hanya merekrut Santiago Ezquerro dan Mark van Bommel namun bisa meraih gelar Liga Champions Eropa dan La Liga Spanyol (saat masih dilatih Frank Riijkard).
3. Chelsea (2009)
Chelsea yang dikenal boros justru irit saat Carlo Ancelotti melatih klub kaya raya kota London ini. Berbeda dengan era Jose Mourinho, pelatih Italia ini fokus pada memperbaiki gaya bermain tim ketimbang boros di bursa transfer.
The Blues memang membeli pemain, namun tidak jor-joran. Saat itu mereka merekrut Nemanja Matic, Yuri Zhirkov, Daniel Sturridge. Jika di total Chelsea hanya menghabiskan 28 juta poundsterling. Ancelotti hanya ingin fokus merombak gaya bermain dari 4-4-2 menjadi jadi 4-3-2-1, 4-3-3 atau 4-2-3-1.
Hasilnya tidak sia-sia. Chelsea berhasil mencetak 103 gol sepanjang musim 2009/10 dan meraih gelar Liga Inggris dan Piala FA.
Didier Drogba meraih sepatu emas dengan torehan 29 gol. Frank Lampard juga tengah bagus-bagusnya mencetak 22 gol di Liga Inggris. Namun Ancelotti gagal semusim berselang. Meski begitu, kontribusi eks legenda Milan yang saat ini melatih Napoli tak bisa dilupakan fans Chelsea.
4. Manchester United (1995)
Kisah ini bisa jadi pelajaran pentingnya pengembangan pemain usia dini. Para pemain berpengaruh Paul Ince, Andrei Kancheilkis dan Mark Hughes tinggalkan Old Trafford di musim 1995/96. Ketimbang boros, Sir Alex Ferguson memberdayakan para pemain muda yang bergabung dalam akademi milik Setan Merah (kerap disebut Class of 92).
Disitulah dunia mengenal nama-nama seperti David Beckham, Nicky Butt, Paul Scholes, Neville bersaudara dan tentunya Ryan Giggs. Laga pembuka Setan Merah berakhir kalah 3-1 atas Aston Villa. Namun, mereka membuktikan mampu meraih dua gelar domestik (Liga Inggris dan Piala FA).
5. Athletic Bilbao (2011)
Berprestasi dalam hal ini tidak selalu harus ada piala. Athletic Bilbao saat itu tidak meraih apa-apa dan belum bisa mematahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona di La Liga Spanyol, namun setidaknya mereka bisa mengejutkan.
Saat itu Bilbao dilatih Marcelo Bielsa yang saat ini melatih Leeds United. Pelatih asal Argentina ini fokus pada bagaimana cara bermain yang efisien, menggunakan pikiran untuk menang dan ternyata berhasil setidaknya di tingkat Eropa.
Bilbao yang musim tersebut hanya membeli Ander Herrera dari Real Zaragoza dengan harga 6 juta poundsterling di luar dugaan melaju ke final Piala Europa sebelum kalah oleh Athletico Madrid yang masih diperkuat Radamel Falcao. Bilbao juga keluar sebagai runner-up Piala Raja (kalah dari Barcelona).
Salah satu alumnus Bilbao, Ander Herrera menjadi salah satu pemain yang diandalkan Manchester United. Bilbao menjadi klub yang kerap melepas pemain intinya dengan klausul pelepasan bernilai 'wah'. Teranyar, klub berjuluk Los Leones ini melepas kiper Kepa Arrizabalaga ke Chelsea dengan dana 80 juta euro atau sekitar Rp1,3 triliun.