x

Djajang Nurdjaman, Sang Legenda Sejati Persib Bandung yang Dicintai Sekaligus Dicaci

Kamis, 17 Januari 2019 15:24 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
Djajang Nurdjaman.

INDOSPORT.COM - Persib Bandung merupakan salah satu klub terbesar di tanah air. Berbagai prestasi berhasil diraih klub kebanggan masyarakat Jawa Barat tersebut seperti lima gelar perserikatan dan dua trofi Liga Indonesia. 

Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Maung Bandung pun melahirkan banyak legenda-legenda besar. 

Legenda-legenda itu terbentang dari berbagai zaman mulai dari Omo Suratmo, Aang Witarsa, Adeng Hudaya, Robby Darwis, Adjat Sudrajat, Yana Rodiana, Subangkit, sampai Zainal Arif. 

Baca Juga

Namun, dari sekian banyak nama tersebut ada satu nama yang paling jadi perhatian. Nama itu adalah Djajang Nurdjaman

Apa yang membedakan Djajang dibanding legenda lainnya adalah bahwa pria 54 tahun ini menjadi pahlawan Persib saat aktif sebagai pemain maupun sebagai pelatih. 

Pria asal Majalengka itu telah mempersembahkan tinta emas kejayaan Persib Bandung. Untuk mengingat kembali perjalanan sang legenda, berikut INDOSPORT tuliskan kisah tentang dirinya. 


1. Kejayaan Era Perserikatan

Skuat Persib Bandung saat menjadi juara di Piala Perserikatan 1990.

Lahir di Majalengka, 17 Oktober 1964, Djajang Nurdjaman (Djanur) bergabung dengan Persib saat usianya masih 17 tahun.  

Djanur sudah menggeluti sepak bola sejak usia kecil. Di tanah kelahirannya, Majalengka, Djanur sudah menunjukkan minatnya pada si kulit bundar. 

Dengan keterbatasan akses, Djanur akhirnya berhasil bergabung dengan klub internal Persib. 

Dalam perjalanan kariernya, Djanur sempat memutuskan untuk meninggalkan Persib Bandung dan memilih bermain di kompetisi Liga Sepak Bola Utama (Galatama). 

Di Galatama, Djajang pernah memperkuat tim Sari Bumi Raya Bandung (1979-1980), Sari Bumi Raya Yogyakarta (1980-1982), dan Mercu Buana Medan (1982-1985).

Setelah klub yang dibelanya, Mercu Buana, mengalami kebangkrutan, Djajang memutuskan kembali ke Persib pada tahun 1985. Ia pun diterima dengan tangan terbuka oleh pelatih saat itu, Nandar ISkandar. 

Djajang pun langsung tembus tim senior dan merasakan sukses di tahun pertamanya kembali. Djajang berhasil membawa Maung Bandung merebut gelar juara Perserikatan tahun 1986. 

Bahkan, Djanur menjadi pahlawan di partai final usai mencetak gol semata wayang kemenangan Persib atas Perseman Manokwari. 

Torehan tinta emas Djanur bersama Persib terus berlanjut. Pada musim 1989-1990, ia kembali membawa Persib sebagai juara perserikatan usai mengandaskan Persebaya Surabaya dengan skor 2-0 di partai puncak. 


2. Kesuksesan yang Berulang Sebagai Pelatih

Djajang Nurdjaman (kedua dari kanan) berfoto dalam peresmian Hansamu Yama (dua dari kiri) sebagai pemain anyar Persebaya.

Setelah memutuskan pensiun, Djanur terjun ke dunia kepelatihan. Ia memulai karier kepelatihanya saaat menjadi asisten Indra Thohir di musim terakhir perserikatan. 

Ternyata kesuksesan juga terus menghampiri Djanur. Di musim terakhir perserikatan tahun 1993/94, ia mampu membantu Persib merengkuh gelar perserikatan kelima mereka. 

Trofi juara kembali didapatkan setahun kemudian di musim perdana era Liga Indonesia (1994/95). Di partai final kala itu Persib mengandaskan Petrokimia Putra dengan skor 1-0. 

Atas peran besarnya ini, Djanur pun dikenang oleh masyarakat Bandung serta dianggap sebagai pahlawan. 

Usai sukses sebagai pemain dan asisten pelatih, Djanur mulai meniti karier kepelatihan profesional. 

Ia menjadi pelatih utama di tim junior Persib mulai dari U-15, U-16, U-17, sampai U-23.

Usai menimba pengalaman di tim junior, Djanur akhirnya melenggang sebagai pelatih kepala di tim senior klub Indonesia. Tim pertama yang ditangani kala itu adalah Pelita Jaya. 

Tiga tahun di Pelita Jaya, ia kembali dihubungi oleh manajer Persib, Umuh Muhctar. Umuh meminta Djajang untuk menahkodai tim senior Maung Bandung. Djanur pun langsung menerima tawaran ini. 

Di musim perdananya, Djanur belum bisa langsung memberikan trofi bagi Persib Bandung. Namun, ia mampu membawa Persib finis di posisi lima. Pencapaian itu dirasa cukup baik lantaran ada peningkatan dibanding musim lalu. 

Akhirnya, dengan buah kesabaran, Djanur berhasil memberikan prestasi maksimal. Pada gelaran ISL musim 2014, Djanur mampu membawa Persib keluar sebagai juara setelah mengandaskan Persipura di partai final. 

Gelar juara ini pun menjadi kepingan pelengkap yang menjadikan Djanur sebagai salah satu legenda terbesar Persib. 

Apalagi, setahun kemudian ia mampu memberika trofi juara Piala Presiden 2015 untuk Persib Bandung. 

Djanur pun sukses menjadi juara baik di level pemain maupun sebagai pelatih. Namanya pun dielu-elukan oleh para Bobotoh. 

Hujatan

Djanur masih menangani Persib di kompetisi ISC A 2016. Namun, pada tanggal 15 Juli 2017, Djajang secara resmi mengundurkan diri sebagai pelatih kepala Persib Bandung lantaran gagal mendongkrak prestasi klub yang terus terpuruk di papan tengah. 

Selain itu, tekanan dan hujatan dari Bobotoh yang mengarah langsung kepada dia ditengarai menjadi alasan pengunduruan diri Djanur. Bahkan, tagar #DjanurOut sempat menjadi trending kala itu. 

Penampilan buruk Persib di paruh pertama Liga 1 2017 seakan-akan menghapus semua jasa-jasa Djajang untuk Persib di mata Bobotoh. 

Djajang pun mundur sebelum akhirnya kembali melatih klub Liga 2 PSMS Medan. Kini, menyongsong musim 2019, Djanur masih menjalankan kariernya sebagai pelatih. Namun, bukan Persib tim yang dibelanya, melainkan sang rival lama, Persebaya Surabaya. 

Persebaya SurabayaPersib BandungDjajang NurdjamanLegenda OlahragaLiga Indonesia

Berita Terkini