x

Liga 1 2019 yang Tak Ramah Bagi Para Pelatih

Minggu, 11 Agustus 2019 14:49 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
Pelatih Persebaya Djadjang Nurdjaman ketika melihat penampilan anak didiknya melawan Persipura, Jumat (02/08/19). Foto: Fitra Herdian/INDOSPORT

INDOSPORT.COM - Manajemen Persebaya Surabaya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerjasamanya dengan Djadjang Nurdjaman. Keputusan itu diambil manajemen usai Persebaya diimbangi Madura United pada Sabtu (10/08/19) di Stadion GBT.

Persebaya meraih hasil minor dalam tujuh laga terakhir. Dari tujuh laga, Bajul hanya meraih satu kemenangan. Sisanya Irfan Jaya dkk meraih empat imbang dan dua kalah.

Pemecatan Djadjang Nurdjaman menambah panjang daftar pelatih yang lengser di Liga 1 2019. Ya, Liga 1 2019 terbilang tak ramah bagi para pelatih. 

Baca Juga

Belum genap paruh musim sudah ada delapan pelatih yang diganti. Jumlah itu hampir separuh dari peserta Liga 1 yang keseluruhannya 18 tim. 

Kedelapan pelatih yang diganti itu adalah Ivan Kolev (Persija), Luciano Leandro (Persipura), Jacksen F. Tiago (Baritoo Putera), Aji Santoso (Persela), Syafrianto Rusli (Semen Padang), Jan Saragih (Badak Lampung), Jafri Sastra (PSIS), dan Djanur (Persebaya). 

Lebih Ganas dari Musim 2018

Faktanya, pergantian pelatih yang terjadi di Liga 1 2019 lebih tinggi dari musim 2018 lalu. Hingga pekan ke-13 Liga 1 2018, total hanya ada lima pelatih yang lengser. 

Kelima pelatih itu adalah Iwan Setiawan (Borneo), Joko Susilo (Arema FC), Rudy Priyambada (PS Tira), Milomir Seslija (Madura United), dan Peter Butler (Persipura).

Sampai pekan ke-17 atau paruh musim, Liga 1 2018 total memakan 8 korban pelatih. Jumlah ini sudah menyamai total pelatih yang dipecat/mengundurkan diri di Liga 1 2019 hingga pekan ke-13. 

Jika melihat kecenderungan yang ada, kemungkinan besar jumlah pelatih yang lengser di paruh musim 2019 bakal lebih besar dari pada musim lalu. 

Target 'Muluk-muluk' ala Klub Liga 1 2019

Banyaknya pelatih yang dipecat atau mengundurkan diri dari Liga 1 2019 diyakini karena target tinggi yang disematkan klub. 

Jika bicara target awal musim, seperempat klub peserta Liga 1 menargetkan untuk juara. Misalnya saja Persebaya yang menargetkan jadi jawara Liga 1 2019.

Padahal, secara skuat mereka tidak belanja besar-besaran di Liga 1 2019 ini. Sejumlah target seperti Andik Vermansah dan Evan Dimas terlepas dari genggaman. 

Target serupa juga ditanamkan oleh Persija sampai Barito Putera. Juara bertahan Persija tentunya ingin mengulang prestasi yang sama seperti musim lalu. 

Sejumlah pemain asing baru didatangkan sambil mempertahankan pilar yang ada. Namun, nyatanya kekuatan mereka masih belum bisa bersaing. 

Sementara untuk Barito Putera, pelatih Jackson F. Tiago pernah sesumbar timnya bisa menjuarai Liga 1 2019. Apalagi setelah kedatangan Evan Dimas dan Bayu Pradana. 

Namun apa daya, alih-alih bersaing di jalur juara, Laskar Antasari justru terbenam di zona degradasi. Maka, perubahan pun terpaksa dilakukan manajemen dengan mendepak Jacksen. 

Selain target yang terlalu tinggi, salah satu alasan mengapa banyak pelatih yang dipecat tak lain adalah faktor finansial. 

Klub-klub Liga 1 tentunya sangat hati-hati dengan keseimbangan keuangan mereka. Manajemen tak ingin uang belanja pemain yang sudah dikeluarkan sia-sia. 

Maka dari itu, jika tim gagal, secepat mungkin perubahan harus dilakukan, dan cara tercepat untuk melakukan hal itu adalah dengan pemecatan pelatih. 

Kekuatan Tim yang Merata dan Kultur Suporter Indonesia

Tak ada klub yang benar-benar mendominasi di Liga 1 sejak 2017 lalu. Selisih poin antar klub tipis. Bahkan, di Liga 1 2018 tim peringkat 1 dan tim juru kunci hanya dipisahkan 28 poin saja. 

Maka tak heran banyak klub yang menelan kekalahan dan hasil seri lebih banyak. Walau posisi di klasemen cukup bagus (seperti Persebaya yang ada di posisi tujuh), namun dengan jumlah kekalahan dan hasil imbang yang cukup mencolok tentu berimbas pada evaluasi kinerja pelatih. 

Lalu, faktor terakhir yang membuat Liga 1 2019 kurang ramah adalah kultur dari suporter klub itu sendiri. Sebagian suporter klub di Indonesia bisa dibilang masih belum dewasa dalam menyikapi hasil pertandingan. 

Seringkali ketika klub meraih hasil imbang beruntun suporter sudah melakukan tindak anarkis. Bahkan, satu kekalahan di kandang saja bisa jadi alasan suporter menekan pelatih. 

Baca Juga

Tekanan-tekanan ini sedikit banyak berkontribusi terhadap psikologis pelatih dan kondisi intern klub. Akhirnya ada pelatih yang harus mengundurkan diri walaupun tim yang ditangani tengah berkembang. 

Persebaya SurabayaPersija JakartaSuporterPelatihLiga IndonesiaLiga 1Shopee Liga 1

Berita Terkini