x

Derby della Mole: Ketika Torino Lebih Besar Dari Juventus di Kota Turin

Sabtu, 4 Juli 2020 09:10 WIB
Penulis: Subhan Wirawan | Editor: Theresia Ruth Simanjuntak

INDOSPORT,COM - Catatan menarik jelang Derby della Mole dalam lanjutan Liga Italia musim 2019/20, di mana Torino mampu lebih besar dari Juventus di kota Turin.

Pertandingan sengit di Serie A Liga Italia sendiri bakal tersaji pada pekan ke-30 hari Sabtu (04/07/20) malam WIB, dengan laga bertajuk Derby Turin antara Juventus vs Torino. 

Bertanding di Allianz Stadium, tuan rumah Juventus dipastikan bermain dengan kekuatan penuh demi menjaga dominasi mereka atas rival sekota serta memperkokoh posisi di puncak klasemen sementara Liga Italia.

Baca Juga
Baca Juga

Walau bertajuk derby, namun laga Juventus kontra Torino dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi sepanas era 90-an atau saat Serie A masih menguasai kompetisi top Eropa.

Derby Turin atau Derby della Mole kali ini sendiri menjadi pertemuan ke 243 kali kedua kesebelasan dalam sejarah, atau yang ke 150 dalam ajang Serie A Italia sejak 1929 silam.

Dalam ratusan pertemuan tersebut, statistik mencatat bahwa Juventus jauh lebih unggul ketimbang Torino. Apalagi, catatan kemenangan Si Nyonya Tua hampir dua kalinya milik Il Toro.

Disebutkan bahwa Juventus telah mencatatkan 105 kemenangan, berbeda jauh dengan Torino yang cuma 73 kali menang dan 64 sisanya berakhir dengan hasil imbang.

Bahkan, dalam lima tahun terakhir, Torino tidak pernah meraih kemenangan atas Juventus. Kemenangan terakhir Torino terjadi pada 26 April 2015 silam, yakni saat menang tipis 2-1 dalam laga lanjutan pekan ke-32 Liga Italia 2014/15.

Meski kedua tim berada pada level yang tumpang-tindih, namun ego serta hasrat menaklukan rival sekota dipastikan dapat menaikan tensi laga di Derby della Mole kali ini.

Mengulas sedikit tentang sejarah awal perseteruan kedua tim, serta momen saat Torino yang meski kerap kalah dari Juventus namun sukses menguasai wilayah kota Turin.

Jika melihat dari waktu terbentuknya, Juventus merupakan tim yang lebih tua sembilan tahun ketimbang Torino. Bahkan, Il Toro terbentuk melalui beberapa pengurus Juventus yang membangkang, termasuk mantan presiden sekaligus penyandang dana terbesar mereka, Alfredo Dick.

Dengan terbentuknya Torino yang dilandaskan rasa tidak puas dan diisi oleh para pembangkang, maka terbentuklah citra Torino sebagai klub pemberontakan dan langsung cocok dengan sebagian masyarakat kota Turin yang mayoritas adalah kelas pekerja.

Turin sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Italia, merupakan tempat industri termasuk pusat bisnis dan kebudayaan di bagian barat laut Italia. 

Di daerah yang memiliki luas 130.17 km2 tersebut, Turini menjadi pusat tempat penghasil Kain Kafan serta markas dari perusahaan otomotif dunia, FIAT.

Dengan banyaknya pekerja di wilayah Turin, membuat Torino yang dicap sebagai klub pemberontak langsung mudah menarik simpati warga setempat.

Namun walau hanya datang dari kelas menengah ke bawah, jangan pernah mempertanyakan loyalitas pendukung Torino. Bahkan, para pekerja tersebut berani membayar tiket pertandingan saat tim kesayangan mereka tandang ke AS Roma yang cenderung jauh atau di Palermo yang berada di kawasan Sisilia.

Baca Juga
Baca Juga

Berbeda halnya dengan Juventus. Meski tenar dan memiliki banyak gelar ketimbang Torino, namun citra Si Nyonya Tua citra yang lebih elegan dan industrialis membuat warga Turin antipati terhadap mereka.

Sebaliknya, Juventus justru memiliki lebih banyak pendukung di luar kota Turin yang sebagian besar berasal dari bagian selatan Italia dan kawasan Sicilia, dua kawasan yang memang cukup megah di Italia.


1. Juventus dan Torino yang Senasib dan Jadi Bahan Olokan

Stadion Heysel dan Hillsborough Roboh

Walau berbeda citra dan image, namun baik Torino dan Juventus pernah sama-sama merasakan nasib nahas serta tragis yang menimpa anggota serta suporter kedua kesebelasan. Adalah tragedi Superga dan Heysel. 

Superga ialah tragedi kecelakaan pesawat ini menewaskan 18 skuat inti Torino pada tahun 1949 silam. Padahal, saat itu, Torino tengah menjadi kesebelasan tertangguh di Italia dan salah satu kesebelasan terkuat di Eropa.

Torino bahkan mampu menjuarai Serie A dari tahun 1943 sampai 1949 tanpa putus. Namun sayang, kehilangan generasi emas tersebut membuat Torino gagal mengulang kejayaan mereka lagi sampai saat ini.

Sedangkan Heysel merupakan tragedi yang menewaskan 39 nyawa pendukung Juventus di ajang Liga Champions tahun 1985 silam. Hal itu disebabkan oleh aksi pendukung Liverpool yang membuat dinding Heysel Stadium roboh sebelum pertandingan dimulai.

Menariknya, dua tragedi silam tersebut malah menjadi bahan olok-olokan kedua suporter saat derby Turin berlangsung. Selama bertahun-tahun, pendukung Juventus selalu merentangkan tangan sembari meniru gestur mirip pesawat terbang ketika line up pemain Torino disebutkan, ketika usai seluruh pendukung Juventus pun bersorak; “Boom! Superga!” 

Hal itu seolah-olah mereka mengejek para pemain Torino yang meninggal akibat kecelakaan pesawat beberapa dekade silam, mengusik luka lama dan tentunya bertujuan merendahkan Torino.

Aksi yang sama juga dilakukan pendukung Torino. Mereka kerap mengeluarkan yel-yel "Grazie Liverpool" atau "Darci un'altra Heysel (Beri kami Heysel yang lain)", ketika pemain Juventus menggiring bola mendekati tribun.

Yang jelas, pertandingan Juventus vs Torino nanti dipastikan tanpa tensi tinggi di tribun lantaran duel masih akan berlangsung tanpa dukungan fans akibat protokol virus corona.

Meski demikian, dengan sederet fakta serta sejarah kedua tim, akankah laga derby Turin malam nanti bakal menghadirkan kejutan? Atau sama seperti lima tahun sebelumnya, yakni saat Juventus menang mudah lagi atas Torino.

Serie A ItaliaJuventusTorinoDerby della MoleTragedi HeyselLiga ItaliaBola InternasionalBerita Liga Italia

Berita Terkini