x

Billy Gilmour: Dulu Dipuja, Kini Terabaikan oleh Tuchel dan Chelsea

Minggu, 21 Maret 2021 11:32 WIB
Editor: Zulfikar Pamungkas Indrawijaya
Billy Gilmour berduel dengan Takumi Minamino dalam laga Chelsea vs Liverpool di Piala FA 2019/20, Rabu (04/03/20) dini hari WIB.

INDOSPORT.COM – Nama Billy Gilmour kian meredup seiring sedikitnya menit bermain yang ia dapatkan di Chelsea sejak kedatangan Thomas Tuchel. Kini, bagaimana nasibnya di Stamford Bridge? Akankah terus diacuhkan atau malah ia dipinjamkan?

Gilmour menjadi salah satu pemain yang naik daun musim lalu di Chelsea di bawah arahan Frank Lampard. Pemain asal Skotlandia ini bahkan menuai banyak pujian dari para pesohor karena aksinya.

Pujian tersebut mengalir pada 2020 lalu saat Gilmour terpilih menjadi Man of the Match dalam dua laga beruntun saat Chelsea menghadapi duo Merseyside yakni Liverpool dan Everton.

Baca Juga
Baca Juga

Saat melawan Liverpool di ajang Piala FA 2019/20, Gilmour  yang bertubuh mungil dan bak remaja bau kencur ini mampu tampil apik di jantung lapangan melawan para pemain berpengalaman seperti Fabinho dan Sadio Mane.

Lalu, di laga melawan Everton di Liga Inggris, Billy Gilmour kembali tampil cemerlang dengan mengontrol permainan Chelsea sehingga mampu menang dengan skor 4-0.

Usai dua penampilan apik tersebut, banyak yang memprediksi masa depan Gilmour akan cerah bersama Chelsea. Apalagi, usianya masih cukup belia kala itu yakni 18 tahun.

Baca Juga
Baca Juga

Namun, saat pandemi Corona menyerang, ia terhantam cedera cukup parah. Setelahnya, permainannya tak kembali seperti semula seperti di dua laga itu.

Harapan besar muncul di awal musim 2020/21. Gilmour sesekali tampil menjadi starter di bawah arahan Lampard. Sayangnya, menjelang berakhirnya musim, nasib tak enak menghampirinya.

Pergantian dari Lampard ke Thomas Tuchel membuat menit bermainnya sedikit kendati fit. Kini, banyak pihak menerka bagaimana nasib Billy Gilmour bersama Chelsea di usianya yang telah 19 tahun?


1. Alasan Tuchel Mengabaikan Potensi Billy Gilmour

Wonderkid Chelsea Billy Gilmour.

Bila dilihat dari gaya bermainnya, Billy Gilmour biasa beroperasi di jantung permainan sebagai gelandang tengah atau menempati posisi Regista atau Deel Lying Playmaker.

Peran yang ia mainkan tak lain sebagai pemain yang mendikte permainan, terutama untuk timnya. Terlihat di dua laga melawan Liverpool dan Everton, Gilmour menjadi orkestra dalam permainan Chelsea.

Namun di era Lampard, Gilmour bertugas pula sebagai gelandang bertahan dalam formasi 4-3-3 Double 8. Hal ini terkesan dipaksakan, mengingat Gilmour memiliki tubuh yang tak begitu atletis dan terkesan mungil.

Meski begitu, Gilmour memainkan peran tersebut dengan apik. Hal ini terlihat dari statistiknya, terutama dalam bertahan saat menjalani peran gelandang bertahan.

Selama membela tim utama Chelsea di dua musim terakhir di Liga Inggris saja, Gilmour mampu menekan lawan dalam membawa bola atau melepaskan umpanrata-rata  sebanyak 46 kali, tekel 9 kali, intersep 8 kali per 90 menit pertandingan.

Sebagai catatan, angka ini terbilang apik karena menit bermain Gilmour di Liga Inggris baru 225 menit atau kurang dari 3 laga secara penuh dalam dua musim terakhir.

Dalam perannya sebagai Regista, dengan menit bermain yang hanya 224 menit dalam dua musim terakhir, Gilmour kerap menyentuh bola hingga 44 kali per 90 menit dan mampu melepaskan umpan secara sukses dengan tingkat presentase 83.3 persen per 90 menit.

Dengan catatan ini di usia muda, Gilmour sejatinya memiliki masa depan cerah. Namun, masa depan itu tertutup dengan kepragmatisan Chelsea di musim 2020/21 ini, terlebih setelah pergantian pelatih.

Gilmour mungkin disebut beruntung karena Chelsea dilatih Lampard yang ada dalam fase transisi sehingga ia mampu mendapat porsi lebih dalam bermain.

Namun, Tuchel berbeda. Memang Tuchel menyukai bakat muda. Akan tetapi, ia datang dengan misi membawa Chelsea meraih hasil terlebih dahulu. Dan beban itu tak bisa serta merta ia berikan ke pemain muda seperti Gilmour.

Apalagi, di Chelsea terdapat tiga pemain dengan posisi yang sama seperti Gilmour yakni Jorginho, Mateo Kovacic, dan N’Golo Kante. Dengan beban diwajibkan meraih hasil di sisa musim 2020/21, tentu Tuchel memilih pemain berpengalaman atau ketiga pemain tersebut.

“Kami banyak berbicara beberapa kali karena terkadang saya tak memasukkannya ke-18 pemain (skuat untuk bertanding) karena kami bermain dengan dua gelandang dan saya punya tiga pemain lain.

“Tapi itu bukan berarti ketika Anda tak masuk dalam skuat, Anda harus mencari cara untuk menjadi cadangan. Anda masih bisa menjadi starter,” tutur Tuchel.

“Saya senang dia (Gilmour) di sini. Sayangnya, itu keputusanku (untuk tak meminjamkannya). Keputusanku itu untuk Chelsea dan bukan keputusanku untuk Billy.

“Dia menerima perbincangan kami selama lima menit. Saya harap dia mengerti bagaimana saya mengapresiasinya. Hanya saja, dia punya tiga masalah yakni N’Golo Kante, Mateo Kovacic, dan Jorginho,” pungkasnya.

Kini dengan fakta itu, Gilmour hanya bisa berharap musim depan akan ada perubahan di Chelsea dan benak Tuchel. Namun, jika keadaan tak kunjung berubah, opsi hengkang dengan status pinjaman akan ia ambil demi menyelamatkan kariernya di Chelsea.

ChelseaFrank LampardThomas TuchelIn Depth SportsSepak Bola

Berita Terkini