x

Skuad Awal Pep Guardiola di Manchester City 2016/2017, Bagaimana Nasib Mereka Saat Ini?

Kamis, 7 Mei 2026 09:27 WIB
Editor: Redaksi
Pelatih Manchester City Pep Guardiola saat memberikan instruksi di pinggir lapangan pada laga Liga Primer Inggris di Stadion Etihad, Inggris, Minggu (03/12/23). (Foto: REUTERS/Carl Recine)

INDOSPORT.COM - Manchester City memasuki babak baru setelah John Stones dikabarkan akan meninggalkan klub pada akhir musim. Kepergian bek timnas Inggris itu menjadi penanda simbolis: tak ada lagi pemain dari skuad pertama Pep Guardiola musim 2016/2017 yang tersisa di Etihad Stadium.

Kedatangan Pep Guardiola ke Manchester City pada 2016 menjadi titik awal perubahan besar dalam sejarah klub. Pada musim panas pertamanya, pelatih asal Catalunya itu mulai menyusun tim sesuai gagasan sepak bolanya: penguasaan bola, build-up dari belakang, intensitas tinggi, dan pemain yang mampu mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.

Salah satu rekrutan penting pada periode awal itu adalah John Stones. Bek asal Inggris tersebut datang dari Everton dan perlahan berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam era paling sukses Manchester City. Selama hampir satu dekade di Etihad, Stones ikut memenangi enam gelar Premier League, dua Piala FA, tiga Piala Liga Inggris, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub.

Kini, setelah Stones disebut siap hengkang, skuad pertama Guardiola di City benar-benar tinggal menjadi arsip sejarah. Para pemain yang dahulu mengawali perjalanan bersama sang pelatih telah menyebar ke berbagai klub, pensiun, menjadi pelatih, komentator, direktur, hingga memasuki dunia sepak bola dari jalur berbeda.

Kepergian Stones juga terasa lebih emosional karena ia bukan sekadar pemain bertahan biasa. Dalam beberapa musim terakhir, Guardiola mengubah perannya menjadi bek tengah yang mampu naik ke lini tengah. Peran hybrid tersebut menjadi salah satu simbol evolusi taktik City, terutama ketika klub meraih treble bersejarah.

Di bawah ini adalah perjalanan para pemain dari skuad pertama Guardiola di Manchester City musim 2016/2017 dan di mana mereka berada sekarang.

Claudio Bravo

Claudio Bravo datang ke Manchester City pada musim panas 2016, bersamaan dengan John Stones. Kiper asal Chile itu didatangkan karena Guardiola membutuhkan penjaga gawang yang nyaman memainkan bola dari belakang.

Namun, perjalanan Bravo di City tidak selalu mudah. Ia sempat mengalami masa sulit pada musim pertamanya dan akhirnya kehilangan posisi utama setelah kedatangan Ederson pada musim berikutnya.

Meski begitu, Bravo tetap bertahan hingga 2020 sebelum pindah ke Real Betis. Di klub Spanyol itu, ia menjalani fase terakhir karier profesionalnya. Setelah pensiun, Bravo beralih ke dunia media sebagai komentator ESPN Chile dan juga terlibat dalam pengembangan pemain muda bersama Eluno Campus.

Willy Caballero

Willy Caballero menjalani musim terakhirnya bersama Manchester City pada era awal Guardiola. Setelah meninggalkan Etihad, kiper asal Argentina itu pindah ke Chelsea dan menghabiskan empat musim di Stamford Bridge.

Bersama Chelsea, Caballero ikut merasakan sukses besar, termasuk gelar Liga Europa dan Liga Champions. Setelah itu, ia sempat memperkuat Southampton selama dua musim sebelum pensiun.

Caballero kemudian masuk ke dunia kepelatihan. Ia sempat menjadi bagian dari staf pelatih Chelsea dan ikut dalam periode ketika klub meraih trofi Conference League dan Piala Dunia Antarklub, sebelum akhirnya meninggalkan klub setelah kepergian Enzo Maresca.

Bacary Sagna

Bacary Sagna meninggalkan Manchester City pada akhir musim pertama Guardiola. Mantan bek kanan Arsenal itu kemudian melanjutkan karier ke Italia bersama Benevento pada Februari 2018.

Setelah itu, Sagna menutup karier bermainnya di Montreal Impact dan meninggalkan klub tersebut pada akhir musim 2019.

Kini, Sagna beralih ke dunia kepelatihan. Ia menjadi pelatih kepala Banaat FC, sebuah tim sepak bola wanita yang berbasis di Uni Emirat Arab.

Vincent Kompany

Vincent Kompany adalah salah satu figur paling ikonik dalam sejarah modern Manchester City. Ia meninggalkan klub pada 2019 dan kembali ke Anderlecht untuk menutup karier bermainnya.

Setelah gantung sepatu, Kompany memulai karier manajerial di Anderlecht. Ia kemudian mengambil tantangan di Inggris bersama Burnley dan sukses membawa The Clarets promosi ke Premier League.

Meski Burnley kemudian kembali terdegradasi ke Championship, karier Kompany sebagai pelatih tetap menarik perhatian. Ia kemudian dipercaya menangani Bayern Munich dan disebut berhasil membangun kembali reputasi klub Jerman tersebut sebagai salah satu kekuatan besar Eropa.

Pablo Zabaleta

Pablo Zabaleta meninggalkan City pada akhir musim 2016/2017 dan bergabung dengan West Ham United. Bek asal Argentina itu menghabiskan tiga musim terakhir kariernya di London sebelum pensiun.

Setelah pensiun, Zabaleta tidak jauh dari sepak bola. Ia kini menjadi asisten pelatih tim nasional Albania. Selain itu, ia juga aktif sebagai komentator di Inggris dan Spanyol.

Zabaleta tetap dikenang sebagai salah satu bek kanan paling disukai suporter City karena loyalitas, karakter, dan kontribusinya sejak era sebelum Guardiola.

Aleksandar Kolarov

Aleksandar Kolarov juga meninggalkan Manchester City pada akhir musim pertama Guardiola. Bek kiri asal Serbia itu bergabung dengan AS Roma dan menghabiskan tiga musim di ibu kota Italia.

Setelah itu, Kolarov pindah ke Inter Milan dan bermain dua tahun sebelum pensiun. Sempat disebut menjabat sebagai direktur olahraga Pisa pada Juni 2013, ia hanya bertahan singkat di posisi tersebut.

Kolarov kemudian kembali ke Inter Milan dalam peran berbeda. Ia kini menjadi asisten pelatih di bawah Cristian Chivu.

Gael Clichy

Gael Clichy menjadi bagian dari eksodus pemain senior pada awal era Guardiola. Bek kiri asal Prancis itu pindah ke Istanbul Basaksehir dan meraih gelar liga Turki pada 2020.

Setelah itu, Clichy melanjutkan karier ke Servette dan bermain selama 18 bulan sebelum pensiun.

Kini, mantan pemain Arsenal tersebut meniti karier kepelatihan. Ia menjadi manajer Caen di Championnat National dan menjalani musim pertamanya dengan target membawa klub bersaing stabil di papan tengah.

John Stones

John Stones menjadi pemain terakhir dari skuad pertama Guardiola yang masih bertahan di Manchester City sebelum akhirnya disebut akan meninggalkan klub pada akhir musim.

Selama berada di Etihad, Stones mengalami perkembangan besar. Ia datang sebagai bek muda berbakat, lalu berkembang menjadi salah satu bek tengah paling cerdas secara taktik di Eropa.

Puncaknya terjadi ketika Guardiola memaksimalkan kemampuan Stones sebagai bek yang bisa naik ke lini tengah. Peran tersebut membuat struktur permainan City semakin sulit ditebak dan menjadi bagian penting dari era kejayaan klub.

Meski akan berusia 32 tahun pada musim panas mendatang, Stones diperkirakan masih dapat melanjutkan karier bermain di level tinggi. Ia juga masih berharap masuk skuad Inggris asuhan Thomas Tuchel untuk Piala Dunia 2026, yang kemungkinan menjadi kesempatan terakhirnya memenangi turnamen besar bersama The Three Lions.

Nicolas Otamendi

Nicolas Otamendi menjadi bagian dari skuad Guardiola selama empat musim. Bek asal Argentina itu kemudian pindah ke Benfica dan masih bermain di Portugal hingga usia 38 tahun.

Di Benfica, Otamendi ikut mengangkat trofi liga Portugal. Ia juga menjadi bagian penting dalam skuad Argentina yang menjuarai Piala Dunia 2022.

Otamendi kini masih berambisi memperpanjang karier internasionalnya. Ia berharap tetap menjadi bagian dari Argentina dalam upaya mempertahankan gelar dunia.

Fernando

Fernando meninggalkan Manchester City setelah musim pertama Guardiola dan bergabung dengan Galatasaray. Gelandang asal Brasil itu menghabiskan dua musim bersama klub Turki tersebut.

Setelah itu, Fernando melanjutkan karier sebelum akhirnya pensiun pada akhir musim lalu setelah satu tahun bersama Internacional di Brasil. Ia pensiun pada usia 38 tahun.

Kini, Fernando disebut bekerja sebagai pelatih di Caioba dan membantu pengembangan generasi muda pesepak bola.

Ilkay Gundogan

Ilkay Gundogan adalah salah satu rekrutan pertama Guardiola di Manchester City. Gelandang asal Jerman itu kemudian menjadi figur penting dalam dominasi City, bahkan menjadi kapten saat klub meraih treble.

Gundogan meninggalkan City pada musim panas 2023 setelah mengangkat tiga trofi besar dalam satu musim. Ia bergabung dengan Barcelona, tetapi periode di Spanyol tidak berjalan lama.

Setelah sempat kembali ke Etihad selama satu musim, Gundogan kini bermain untuk Galatasaray dan bertekad memenangi gelar liga Turki.

Kevin De Bruyne

Kevin De Bruyne sebenarnya sudah bergabung dengan Manchester City sebelum kedatangan Guardiola, tetapi di bawah pelatih asal Catalunya itu, ia berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik dalam sejarah Premier League.

Pemain asal Belgia tersebut menjadi pusat kreativitas City selama bertahun-tahun. Umpan, visi bermain, dan kemampuannya menentukan pertandingan membuatnya menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam era Guardiola.

De Bruyne kemudian meninggalkan City pada musim panas 2025 untuk bergabung dengan Napoli, juara Serie A saat itu. Ia masih bermain di Italia dan melanjutkan kariernya setelah masa panjang penuh trofi di Inggris.

Fabian Delph

Fabian Delph bertahan di Manchester City hingga 2019. Ia menjadi pemain serbaguna yang kerap digunakan Guardiola sebagai gelandang maupun bek kiri.

Setelah meninggalkan City, Delph bergabung dengan Everton dan menghabiskan tiga musim di Goodison Park. Ia kemudian memutuskan pensiun dari sepak bola.

Sejak pensiun, Delph bekerja sebagai duta Manchester City dan juga tampil sebagai komentator sepak bola.

David Silva

David Silva tetap menjadi salah satu pemain paling elegan yang pernah memperkuat Manchester City. Gelandang asal Spanyol itu bertahan hingga 2020 sebelum pindah ke Real Sociedad dengan status bebas transfer.

Di Sociedad, Silva masih menunjukkan kualitasnya sebagai pengatur tempo permainan. Namun, kariernya terpaksa berakhir setelah mengalami cedera ligamen anterior cruciate.

Setelah pensiun, Silva tidak menutup kemungkinan kembali ke sepak bola sebagai pelatih atau manajer. Untuk saat ini, ia disebut menekuni Hyrox sebagai hobi baru.

Fernandinho

Fernandinho menjadi salah satu pemain paling penting dalam struktur permainan Guardiola. Gelandang asal Brasil itu dikenal cerdas, disiplin, dan mampu menjaga keseimbangan tim.

Ia meninggalkan City pada musim panas 2022 dan kembali ke Athletico Paranaense, klub tempat ia memulai karier profesionalnya. Fernandinho bermain dua musim di sana sebelum pensiun pada usia 39 tahun.

Setelah pensiun, ia bekerja sebagai pelatih di Caioba dan ikut membantu pembinaan pemain muda.

Yaya Toure

Yaya Toure bertahan di Manchester City hingga 2018 sebelum pindah ke Olympiacos. Namun, periode keduanya di klub Yunani itu berlangsung singkat.

Setelah hanya tampil beberapa kali, Toure melanjutkan karier ke Qingdao Huanghai di China selama satu musim. Setelah pensiun, ia mulai masuk dunia kepelatihan.

Toure pernah bekerja dengan beberapa klub, termasuk Olimpik Donetsk, Tottenham Hotspur, dan Standard Liege. Ia juga sempat menjadi asisten pelatih tim nasional Arab Saudi di bawah Roberto Mancini hingga Oktober 2024.

Raheem Sterling

Raheem Sterling menjalani karier luar biasa bersama Manchester City. Di bawah Guardiola, ia berkembang menjadi salah satu penyerang sayap paling produktif di Premier League.

Sterling meninggalkan City pada musim panas 2022 dan bergabung dengan Chelsea. Namun, masa-masanya di London tidak selalu berjalan mulus, termasuk ketika menjalani periode pinjaman di Arsenal.

Dalam bahan yang tersedia, Sterling disebut terikat kontrak dengan Chelsea hingga Februari 2026 sebelum bergabung dengan Feyenoord untuk mencoba menghidupkan kembali kariernya.

Nolito

Nolito hanya menghabiskan satu musim di Manchester City. Pemain asal Spanyol itu kembali ke negaranya untuk bergabung dengan Sevilla.

Ia bermain tiga musim di Sevilla, lalu melanjutkan karier bersama Celta Vigo selama dua musim. Setelah itu, Nolito memperkuat Ibiza selama satu musim sebelum pensiun pada musim panas 2023.

Belakangan, Nolito menjadi wajah dari kompetisi sepak bola Piala Ganafote di Spanyol.

Jesus Navas

Jesus Navas meninggalkan Manchester City dan kembali ke Sevilla, klub yang sangat lekat dengan kariernya. Ia bermain delapan musim lagi di sana sebelum resmi pensiun pada Desember 2024 akibat cedera pinggul kronis.

Navas menjadi figur penting bagi Sevilla, termasuk ketika klub berjuang menghadapi ancaman degradasi di La Liga dalam beberapa musim terakhir.

Setelah pensiun, mantan pemain timnas Spanyol itu menjadi duta Copa del Rey musim ini.

Leroy Sane

Leroy Sane bertahan di Manchester City hingga musim panas 2020 sebelum pindah ke Bayern Munich.

Di Jerman, Sane menghabiskan lima musim bersama Bayern. Setelah itu, ia bergabung dengan Galatasaray dan bereuni dengan Ilkay Gundogan.

Di Turki, Sane disebut bertekad memenangi gelar liga bersama klub barunya.

Sergio Aguero

Sergio Aguero adalah salah satu legenda terbesar Manchester City. Striker asal Argentina itu telah menjadi ikon klub sejak bergabung pada 2011.

Aguero meninggalkan City pada 2021 dalam momen emosional yang membuat Guardiola menangis. Ia kemudian bergabung dengan Barcelona, tetapi hanya bermain beberapa pertandingan La Liga sebelum terpaksa pensiun karena masalah kesehatan.

Setelah pensiun, Aguero tetap aktif di dunia sepak bola dan hiburan digital. Ia kini menjabat sebagai ketua King's League Mexico, KRU FC, setelah bergabung dengan kompetisi tersebut pada November 2022.

Gabriel Jesus

Gabriel Jesus meninggalkan Manchester City pada musim panas 2022 dan bergabung dengan Arsenal. Striker asal Brasil itu menjadi bagian dari proyek Mikel Arteta di London Utara.

Meski belum meraih trofi besar bersama Arsenal, Jesus tetap menjadi pemain penting dalam skuad The Gunners. Ia memiliki kesempatan untuk memainkan peran besar saat Arsenal berusaha menyaingi Manchester City dalam perebutan gelar Premier League.

Kini, bab itu hampir resmi ditutup. John Stones mungkin menjadi nama terakhir yang pergi, tetapi jejak skuad pertama Guardiola akan tetap melekat dalam sejarah Manchester City.

Manchester CityPep GuardiolaLiga Inggris

Berita Terkini