x

Neymar Menuju Piala Dunia 2026, 3 Bintang Liga Inggris Ini Dicoret Ancelotti dari Timnas Brasil

Selasa, 19 Mei 2026 06:23 WIB
Editor: Redaksi
Selebrasi pemain Timnas Brasil saat unggul atas Korea Selatan di babak 16 besar Piala Dunia 2022 (Foto: REUTERS/Annegret Hilse).

INDOSPORT.COM - Keputusan Carlo Ancelotti memasukkan Neymar ke skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026 langsung memicu perdebatan besar di kalangan pecinta sepak bola. Banyak pihak terkejut karena 3 pemain bintang di Liga Inggris justru tersingkir dari daftar akhir Selecao.

Ancelotti memilih mempertaruhkan pengalaman dan nama besar Neymar serta potensi mentah Rayan yang baru berusia 19 tahun. Pelatih asal Italia itu tampaknya lebih mengutamakan keseimbangan skuad, kesiapan fisik terkini, serta kesesuaian taktik ketimbang sekadar nama besar.

Baca Juga

Pilihan terhadap Neymar memang terkesan kontroversial mengingat usianya sudah 34 tahun. Namun, performanya bersama Santos dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan grafik pemulihan yang cukup meyakinkan.

Sementara itu, Rayan dipilih sebagai simbol regenerasi Brasil yang mulai diarahkan sejak dini. Penyerang muda Bournemouth itu dianggap punya karakter agresif yang sesuai dengan sepak bola vertikal racikan Ancelotti.

Sebaliknya, absennya tiga bintang Premier League memberi sinyal tegas bahwa nama besar tidak lagi menjamin tempat. Semua pemain dinilai berdasarkan performa aktual, statistik produksi, dan kondisi fisik paling mutakhir.

Berikut tiga pemain Liga Inggris yang harus menelan pil pahit karena dilupakan Carlo Ancelotti untuk Piala Dunia 2026.

1. Richarlison (Tottenham Hotspur)

Richarlison pernah menjadi salah satu penyerang paling diandalkan Brasil dalam beberapa turnamen besar sebelumnya. Ia bahkan sempat menjadi wajah generasi baru Selecao setelah tampil tajam pada Piala Dunia 2022.

Namun, kariernya sejak bergabung dengan Tottenham tak pernah benar-benar stabil secara konsisten. Cedera berulang membuat ritmenya rusak dan performanya sulit mencapai level terbaik dalam jangka panjang.

Musim ini, Richarlison hanya mencatatkan produktivitas yang jauh di bawah ekspektasi publik Brasil. Catatan golnya menurun drastis dibanding musim terbaiknya bersama Everton beberapa tahun lalu.

Masalah terbesar bukan semata soal statistik gol yang minim. Yang paling mengkhawatirkan adalah kebugarannya yang terus terganggu cedera otot dan masalah kebugaran minor sepanjang musim.

Ancelotti dikenal sangat pragmatis dalam memilih pemain untuk turnamen singkat seperti Piala Dunia. Ia membutuhkan pemain yang siap bertanding intens dalam interval waktu rapat tanpa risiko kambuh.

Dalam konteks itu, Richarlison kalah bersaing dari Neymar yang justru menunjukkan progres pemulihan lebih stabil bersama Santos. Sang veteran dinilai lebih siap secara teknis dan mental meski usia tak lagi muda.

Selain itu, karakter Richarlison sebagai striker pekerja keras tak terlalu cocok dengan struktur fleksibel Brasil saat ini. Ancelotti menginginkan penyerang yang mampu bergerak cair di antara lini.

Kehadiran Vinicius Junior, Raphinha, Matheus Cunha, dan Endrick sudah memberi banyak opsi serupa di sektor depan. Richarlison akhirnya tersingkir karena tak punya keunggulan taktis yang benar-benar unik.

Keputusan ini jelas pukulan berat bagi pemain Tottenham tersebut. Namun secara objektif, absennya Richarlison lebih disebabkan performa stagnan ketimbang faktor non-teknis.

2. Joao Pedro (Chelsea)

Nama Joao Pedro menjadi kejutan terbesar dalam daftar pemain yang gagal dipanggil. Padahal, penyerang Chelsea itu menjalani musim cukup produktif di Premier League.

Dengan torehan 15 gol dan 5  assist, statistiknya bahkan melampaui beberapa penyerang Brasil lain yang justru masuk skuad akhir. Secara angka, ia seharusnya memiliki argumen kuat.

Namun sepak bola modern tak lagi hanya bicara angka mentah di atas kertas. Ancelotti melihat konteks performa secara lebih mendalam dari sekadar kontribusi statistik.

Meski produktif, Joao Pedro dinilai belum konsisten dalam pertandingan besar dengan tekanan tinggi. Beberapa golnya datang saat menghadapi lawan kelas menengah ke bawah.

Di laga-laga krusial, kontribusinya kerap menghilang. Hal ini menjadi perhatian serius karena Piala Dunia menuntut mentalitas tinggi pada momen paling menentukan.

Selain faktor konsistensi, kebugaran Joao Pedro sempat menjadi perhatian staf medis Brasil. Ia beberapa kali mengalami gangguan minor yang membuat ritme performanya terputus.

Ancelotti tampaknya tak ingin mengambil risiko terhadap pemain yang belum sepenuhnya teruji dalam atmosfer turnamen besar internasional. Pengalaman menjadi pertimbangan penting dalam keputusan akhir.

Neymar, meski lebih tua, punya jam terbang elite yang sulit disaingi siapa pun di skuad Brasil saat ini. Rayan juga memberi nilai tambah berupa energi eksplosif yang bisa menjadi pembeda dari bangku cadangan.

Joao Pedro terjebak di tengah-tengah dua kutub tersebut. Ia belum cukup matang untuk mengungguli Neymar, tetapi juga tak cukup eksplosif untuk mengalahkan daya tarik Rayan.

Absennya dari Piala Dunia bukan akhir jalan bagi karier internasionalnya. Namun, ia harus membuktikan bahwa produktivitas domestiknya bisa diterjemahkan ke level tekanan tertinggi.

3. Gabriel Jesus (Arsenal)

Gabriel Jesus mungkin nama paling mengejutkan dalam daftar pemain yang dicoret Ancelotti. Statusnya sebagai penyerang Arsenal dan mantan andalan Brasil membuat absennya terasa sangat besar.

Namun realitas di lapangan berbicara berbeda sepanjang musim ini. Produktivitas Jesus terus menurun dan tak lagi mencerminkan reputasi besarnya beberapa tahun lalu.

Cedera lutut serta gangguan kebugaran berkepanjangan menghambat ritmenya secara signifikan. Ketika bermain pun, ketajamannya terlihat belum benar-benar pulih.

Jumlah golnya musim ini jauh dari standar elite yang dibutuhkan Brasil untuk turnamen sebesar Piala Dunia. Ia juga beberapa kali gagal memaksimalkan peluang emas dalam laga penting Arsenal.

Ancelotti dikenal sangat menuntut efisiensi di area akhir. Penyerang yang terlalu banyak membuang peluang biasanya sulit mendapat tempat dalam sistemnya.

Masalah lain adalah perubahan profil permainan Jesus sendiri. Ia kini lebih sering turun membantu build-up ketimbang menjadi predator murni di kotak penalti.

Peran seperti itu sebenarnya berguna dalam skema klub. Namun Brasil saat ini membutuhkan eksekutor klinis, bukan sekadar penyerang yang aktif membuka ruang.

Ketika dibandingkan dengan Endrick yang lebih tajam atau Neymar yang lebih kreatif, Jesus kehilangan identitas taktis paling kuatnya. Ia tak lagi unggul pada satu aspek tertentu.

Faktor usia juga mulai berbicara meski ia belum tergolong veteran. Ancelotti tampaknya lebih memilih investasi jangka panjang pada pemain muda dibanding mempertahankan nama besar yang sedang menurun.

Bagi Gabriel Jesus, kegagalan ini menjadi alarm keras untuk membangun ulang kariernya. Jika tak segera bangkit, posisinya di Brasil bisa benar-benar diambil generasi baru.

Era Baru Brasil di Tangan Ancelotti

Keputusan mencoret 3 bintang Liga Inggris menandai transformasi besar di tubuh Selecao. Ancelotti jelas sedang membangun skuad berbasis fungsi, bukan popularitas.

Pemanggilan Neymar menunjukkan pengalaman masih sangat dihargai jika dibarengi kesiapan fisik nyata. Sebaliknya, kehadiran Rayan membuktikan keberanian membuka ruang regenerasi sejak dini.

Brasil kini berada di persimpangan antara romantisme masa lalu dan keberanian menuju masa depan. Pilihan Ancelotti memperlihatkan bahwa ia siap mengambil risiko demi hasil maksimal.

Apakah keputusan ini akan berbuah gelar keenam Piala Dunia untuk Brasil masih harus dibuktikan di lapangan. Namun satu hal pasti, era nyaman bagi pemain besar di Selecao resmi telah berakhir.

BrasilPiala DuniaPiala Dunia 2026

Berita Terkini