Legenda Arsenal Beri Saran Saliba dan Gabriel untuk Hentikan Serangan PSG di Final Liga Champions
INDOSPORT.COM - Martin Keown memberikan pesan khusus kepada duet bek tengah Arsenal, William Saliba dan Gabriel Magalhaes, jelang final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain. Legenda The Gunners itu menilai keduanya akan menghadapi tantangan paling sulit musim ini saat bertarung menghadapi lini serang eksplosif PSG di Budapest.
Arsenal datang ke final Liga Champions dengan kepercayaan diri tinggi setelah memastikan gelar Premier League pertama dalam 22 tahun terakhir. Tim asuhan Mikel Arteta kini berpeluang menutup musim dengan raihan double winners bersejarah jika mampu menaklukkan PSG pada Sabtu mendatang.
Perjalanan Arsenal menuju final tidak lepas dari penampilan luar biasa duet William Saliba dan Gabriel Magalhaes di lini belakang. Keduanya menjadi fondasi utama kebangkitan Arsenal hingga berkembang menjadi salah satu tim terbaik di Eropa dalam beberapa musim terakhir.
Martin Keown bahkan menyebut Arsenal saat ini memiliki pasangan bek tengah terbaik di Eropa. Mantan pemain bertahan Arsenal itu memberikan pujian besar kepada Gabriel dan Saliba yang dianggap tampil sangat dominan sepanjang musim ini.
“Saya pikir Arsenal mungkin memiliki dua bek tengah terbaik di Eropa saat ini. Gabriel benar-benar sensasional musim ini, baik ketika bertahan maupun membantu serangan,” kata Keown kepada football.london.
Keown juga memberikan pujian khusus kepada William Saliba yang disebutnya sebagai pemain bertipe elegan dan komplet. Ia menggambarkan bek asal Prancis tersebut seperti mobil mewah Rolls-Royce karena memiliki kualitas teknik dan fisik yang sangat sempurna.
“Saliba seperti Rolls-Royce dalam sepak bola. Dia tenang, bagus menguasai bola, besar, kuat, dan sangat mobile. Dia memiliki semua yang dibutuhkan seorang bek modern,” ujar Keown menjelaskan kualitas pemain Timnas Prancis tersebut.
Legenda Arsenal itu kemudian menyinggung perjalanan sulit Saliba sebelum akhirnya menjadi andalan utama di Emirates Stadium. Menurut Keown, kekuatan mental Saliba sangat luar biasa karena harus menjalani masa peminjaman panjang sebelum dipercaya bermain reguler.
“Dia dipinjamkan selama tiga musim dan itu tidak mudah secara mental. Ketika terlalu lama dipinjamkan, seorang pemain bisa mulai berpikir bahwa dirinya tidak cukup bagus untuk Arsenal,” lanjut Keown.
Keown mengaku masih mengingat debut Saliba bersama Arsenal saat menghadapi Crystal Palace beberapa musim lalu. Penampilan luar biasa Saliba pada pertandingan tersebut langsung membuat Keown terkejut sekaligus bertanya mengapa pemain itu terlalu lama dipinjamkan.
“Saya berada di stadion saat laga debutnya melawan Crystal Palace dan langsung berpikir, ‘ke mana saja pemain ini selama ini?’ Dia dipinjamkan tiga tahun lalu kembali tampil luar biasa,” ucap Keown.
Selain memuji Saliba, Keown juga mengaku sangat menikmati gaya bermain Gabriel Magalhaes sepanjang musim ini. Ia menyukai karakter agresif Gabriel ketika melakukan duel fisik maupun tekel keras terhadap lawan.
“Saya sangat menikmati cara Gabriel bermain karena fisiknya sangat kuat. Cara dia melakukan duel dan tekel benar-benar memuaskan untuk ditonton,” kata mantan bek Timnas Inggris tersebut.
Keown bahkan menilai Gabriel merupakan pemimpin utama di lini belakang Arsenal saat ini. Menurutnya, kombinasi Gabriel dan Saliba telah membentuk duet pertahanan yang sangat sulit ditembus lawan sepanjang musim.
“Saya pikir Gabriel adalah pemimpin di lini belakang Arsenal. Mereka berdua sangat tangguh dan memang harus tampil seperti itu akhir pekan nanti karena PSG akan memberi tekanan besar,” ujar Keown.
Meski tampil impresif sepanjang musim, Saliba dan Gabriel diperkirakan akan menghadapi ujian paling berat saat melawan PSG di final Liga Champions. Kecepatan dan pergerakan lini depan PSG dianggap bisa menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Arsenal.
Keown secara khusus memperingatkan Saliba dan Gabriel mengenai pergerakan dinamis para penyerang PSG. Menurutnya, situasi bisa menjadi sangat sulit ketika bek tengah harus menghadapi rotasi posisi dan mobilitas tinggi lawan.
“Kadang ketika bermain, Anda terbiasa menjaga satu pemain saja. Namun tiba-tiba harus menjaga tiga pemain sekaligus dan itu bisa menjadi mimpi buruk,” ujar Keown memberikan peringatannya.
Ia menilai Ousmane Dembele akan menjadi ancaman utama karena memiliki kemampuan bergerak keluar masuk ruang kosong dengan sangat cepat. Selain itu, Khvicha Kvaratskhelia juga disebut dapat menyerang ruang kosong layaknya kereta ekspres.
“Dembele akan bergerak keluar dari ruang kosong lalu tiba-tiba menghilang. Setelah itu Kvaratskhelia datang seperti kereta ekspres menuju area tersebut,” kata Keown menjelaskan ancaman lini depan PSG.
Keown meminta duet bek Arsenal untuk tetap disiplin menjaga garis pertahanan dan tidak terlalu mudah mundur ke area dalam. Ia menilai keputusan membaca situasi pertandingan akan menjadi faktor penting dalam partai final nanti.
“Jangan terlalu mundur ke dalam. Jika sudah memutuskan maju merebut bola, maka kalian harus memenangkannya. Bermain melawan PSG adalah tugas yang sangat sulit,” ujar Keown.
Mantan bek Arsenal itu juga memberikan julukan baru untuk skuad Arsenal musim ini. Jika generasi Arsenal era 2004 dikenal sebagai The Invincibles, maka Keown ingin tim asuhan Mikel Arteta disebut sebagai “The Number Ones”.
“Mereka akan menjadi para pemenang dan itu sudah cukup bagi saya. Jika berhasil juara Liga Champions, mereka akan menjadi tim Arsenal pertama yang melakukannya,” kata Keown penuh optimisme.
“Karena itu saya menyebut mereka sebagai The Number Ones. Mereka bukan hanya Invincibles atau Unforgettables, tetapi tim nomor satu karena belum ada Arsenal lain yang pernah memenangkan Liga Champions,” lanjutnya.
Keown juga menyinggung sejarah buruk Arsenal di kompetisi Eropa dalam beberapa dekade terakhir. Ia merasa klub London Utara itu sudah terlalu lama gagal meraih trofi besar di level kontinental.
“Kami pernah gagal di Piala Winners dan kalah adu penalti dari Galatasaray di final Piala UEFA. Arsenal sekarang harus melakukan sesuatu yang besar di Eropa,” ujar Keown mengenang kegagalan masa lalu.
Arsenal musim lalu sebenarnya sempat disingkirkan PSG pada babak semifinal Liga Champions. Namun, Keown percaya situasi kali ini berbeda karena skuad Arsenal datang dengan mental juara usai memenangkan Premier League.
“Saat mendengar lagu We Are The Champions, ada sesuatu yang berubah dalam diri pemain. Mereka mulai percaya bisa meraih apa pun,” kata Keown menjelaskan dampak mental menjadi juara liga.
Menurut Keown, keberhasilan menjadi juara Premier League telah menciptakan fondasi baru bagi Arsenal untuk mendominasi Eropa. Ia percaya pencapaian tersebut bisa menjadi titik awal era besar Arsenal bersama Mikel Arteta.
“Langit menjadi batasnya bagi Arsenal sekarang. Gelar liga menciptakan platform besar untuk klub dan memberi mereka sayap untuk melakukan sesuatu yang sangat spesial,” tutup Keown.