Seberapa Hebat Guglielmo Vicario? Kiper Baru Juventus yang Sangat Dibutuhkan Pelatih Spalletti
INDOSPORT.COM - Bursa transfer musim panas 2026 membawa Juventus pada satu kebutuhan yang sejak awal dianggap mendesak oleh Luciano Spalletti, yakni penjaga gawang berpengalaman. Setelah beberapa pilihan utama gagal didapat, Guglielmo Vicario akhirnya muncul sebagai solusi paling realistis bagi Juventus.
Juventus mencapai kesepakatan dengan Tottenham Hotspur untuk meminjam Guglielmo Vicario selama satu musim, disertai opsi pembelian permanen sekitar 10 juta euro. Kesepakatan itu datang setelah upaya mendapatkan Emiliano Martínez terhenti karena perbedaan valuasi dan kondisi cedera sang kiper Argentina.
Sebelumnya, Juventus juga sempat mengejar Alisson Becker, penjaga gawang Liverpool yang memiliki pengalaman juara Liga Champions dan Premier League. La Gazzetta dello Sport melaporkan Alisson sempat masuk rencana serius sebelum akhirnya memilih bertahan, memaksa Juventus mengalihkan perhatian.
Menariknya, Guglielmo Vicario bukan sosok yang sejak awal sepenuhnya meyakinkan Spalletti karena sang pelatih pernah mempertanyakan alasan Tottenham bersedia melepasnya. Namun setelah kesepakatan tercapai, Spalletti menegaskan Juventus mendapatkan penjaga gawang berpengalaman yang kualitasnya tetap berada pada level tinggi.
Situasi tersebut membuat transfer Guglielmo Vicario menjadi menarik karena Juventus tidak membeli nama besar, melainkan pemain yang sedang mencari momentum kebangkitan. Pada usia 29 tahun, ia datang dengan kombinasi pengalaman Serie A, Premier League, kompetisi Eropa, dan tim nasional Italia.
Guglielmo Vicario Menempuh Jalan Panjang Sebelum Juventus
Karier Guglielmo Vicario jauh dari gambaran pemain muda yang langsung mendapat panggung besar setelah lulus akademi klub elite. Lahir di Udine pada 7 Oktober 1996, ia melewati jalur panjang dari sepak bola kasta bawah sebelum akhirnya mencapai Premier League.
Vicario sempat berada dalam sistem akademi Udinese, tetapi kesempatan bermain senior justru diperolehnya ketika dipinjamkan ke Fontanafredda pada musim 2014/15. Ia mencatat sekitar 30 penampilan di sana, pengalaman awal yang membentuk keberanian serta ketahanan mentalnya sebagai penjaga gawang.
Perjalanan berikutnya membawa Guglielmo Vicario ke Venezia, klub yang menjadi tempat penting dalam proses pembentukan karier profesionalnya. Selama periode 2015 hingga 2019, ia mencatat 89 penampilan dan membantu Venezia promosi ke Serie B serta menjuarai Coppa Italia Lega Pro.
Cagliari kemudian merekrutnya pada 2019, tetapi Guglielmo Vicario masih harus menjalani masa peminjaman bersama Perugia untuk mendapatkan menit bermain reguler. Ia tampil 39 kali bersama klub tersebut sebelum akhirnya kembali dan mencatat debut Serie A bersama Cagliari pada April 2021.
Nama Guglielmo Vicario benar-benar melejit ketika bergabung dengan Empoli, awalnya dengan status pinjaman sebelum dipermanenkan pada musim berikutnya. Dalam dua musim, ia mengoleksi 71 penampilan dan dikenal sebagai penjaga gawang dengan refleks cepat yang kemudian menarik perhatian Juventus.
Penampilan bersama Empoli kemudian membuat Tottenham Hotspur memboyongnya pada musim panas 2023 untuk menggantikan Hugo Lloris sebagai pilihan utama. Guglielmo Vicario langsung beradaptasi cepat dan tampil dalam seluruh 38 pertandingan Premier League pada musim pertamanya bersama klub London sebelum Juventus.
Mengapa Juventus Membutuhkan Guglielmo Vicario?
Kebutuhan Juventus terhadap penjaga gawang baru tidak semata berkaitan dengan kualitas penyelamatan, tetapi juga keinginan Spalletti meningkatkan pengalaman dan kompetisi internal. Pelatih asal Toscana itu sejak awal bursa transfer menempatkan posisi kiper sebagai salah satu prioritas utama pembangunan skuad.
Guglielmo Vicario menawarkan profil yang cukup sesuai karena telah merasakan tekanan Serie A sekaligus intensitas Premier League, dua lingkungan berbeda yang menuntut adaptasi cepat. Juventus juga mendapatkan pemain berbahasa Italia yang tidak memerlukan proses panjang memahami kultur sepak bola domestik.
Hubungan profesional dengan Spalletti menjadi faktor tambahan karena keduanya pernah berada dalam lingkungan tim nasional Italia, ketika Vicario dipanggil sebagai pelapis Gianluigi Donnarumma. Sang kiper menjalani debut senior pada Maret 2024 dan mengakhiri musim 2025/26 dengan lima penampilan internasional.
Status tersebut menjadikan Guglielmo Vicario salah satu penjaga gawang Italia paling berpengalaman di level klub meskipun belum mampu menggeser Donnarumma sebagai pilihan utama Azzurri. Bagi Juventus, kedatangannya memberi alternatif berbeda dibanding Michele Di Gregorio maupun Mattia Perin.
Keunggulan Guglielmo Vicario: Refleks dan Shot-Stopping
Kekuatan terbesar Guglielmo Vicario terletak pada refleks jarak dekat dan kemampuan bereaksi terhadap perubahan arah bola dalam waktu sangat singkat. Karakter ini sudah terlihat sejak Empoli dan menjadi alasan Tottenham mempercayainya sebagai pengganti Hugo Lloris sebelum menuju Juventus.
Premier League mencatat Vicario sebagai penjaga gawang yang berulang kali masuk nominasi Save of the Month, bahkan memenangkan penghargaan tersebut pada April 2025. Penyelamatan terhadap Jadon Sancho memperlihatkan kemampuan eksplosif yang dapat menjadi senjata penting bagi Juventus menghadapi situasi darurat.
Kemampuan shot-stopping Guglielmo Vicario juga terbukti dalam pertandingan dengan tekanan tinggi, bukan hanya ketika menghadapi klub papan tengah. Pada final Liga Europa 2025, ia menggagalkan peluang Alejandro Garnacho dan sundulan Luke Shaw untuk menjaga kemenangan Tottenham atas Manchester United.
Momen pada menit 90+7 itu penting untuk membaca mentalitas Guglielmo Vicario karena ia tetap fokus ketika Tottenham berada di bawah tekanan besar. Juventus membutuhkan karakter seperti tersebut, terutama ketika pertandingan ketat ditentukan oleh satu penyelamatan pada menit-menit terakhir.
Distribusi Guglielmo Vicario Cocok untuk Juventus Era Spalletti
Selain refleks, Guglielmo Vicario memiliki pengalaman sebagai penjaga gawang yang ikut terlibat dalam fase pembangunan serangan dari belakang. Pada periode awalnya di Tottenham, ia mampu menjalankan tuntutan sistem penguasaan bola yang meminta kiper berani menerima operan di bawah tekanan.
Data Premier League pada November 2024 mencatat akurasi operannya 85,3 persen dari 1.763 umpan sejak debutnya. Angka itu menunjukkan Guglielmo Vicario bukan sekadar penjaga garis gawang, melainkan pemain yang dapat membantu Juventus mengatur sirkulasi awal.
Kemampuan tersebut relevan dengan pendekatan Juventus era Spalletti yang membutuhkan penjaga gawang nyaman menguasai bola serta mampu memberi jalur umpan ketika lawan melakukan pressing. Namun distribusi Vicario tetap harus diasah karena kualitas umpan panjangnya tidak selalu konsisten menghadapi tekanan tinggi.
Pada Juventus, Guglielmo Vicario kemungkinan tidak dituntut memainkan bola seagresif periode awalnya bersama Tottenham, tetapi tetap harus berani menjadi opsi ekstra. Kehadirannya dapat membantu bek tengah mendapatkan sudut umpan lebih baik sekaligus memancing tekanan lawan sebelum progresi dilakukan.
Mental Juara Guglielmo Vicario yang Dibutuhkan Juventus
Gelar Liga Europa 2025 menjadi pembeda penting dalam profil Guglielmo Vicario dibanding beberapa penjaga gawang lain yang masuk daftar alternatif Juventus. Tottenham mengalahkan Manchester United 1-0 di Bilbao dan mengakhiri penantian 17 tahun klub tersebut terhadap sebuah trofi.
Vicario bukan sekadar anggota skuad dalam keberhasilan itu karena ia tampil sebagai starter dan menghasilkan penyelamatan menentukan hingga detik terakhir. Pengalaman merasakan final Eropa memberi Juventus seorang kiper yang sudah mengetahui tekanan ketika kesalahan kecil dapat menentukan keberhasilan satu musim.
Mentalitas tersebut semakin terlihat karena Guglielmo Vicario pernah menyelesaikan pertandingan melawan Manchester City pada November 2024 meski mengalami patah tulang pergelangan kaki. Setelah pertandingan, cedera itu memaksanya menjalani operasi dan absen selama beberapa bulan sebelum kembali menuju Juventus.
Bagi Spalletti, ketahanan menghadapi cedera dan tekanan merupakan aset penting karena Juventus membutuhkan pemain yang tidak mudah terguncang ketika hasil buruk datang. Guglielmo Vicario memiliki pengalaman menghadapi sorotan besar di London, termasuk kritik keras ketika performanya menurun.
Kelemahan Guglielmo Vicario yang Harus Diperbaiki Juventus
Meski memiliki refleks kuat, Guglielmo Vicario bukan penjaga gawang tanpa kelemahan, terutama ketika menghadapi bola udara dan situasi sepak pojok. Pada masa awal bersama Tottenham, lawan beberapa kali sengaja menempatkan pemain dekat dengannya untuk mengganggu pergerakan di area enam yard.
Masalah tersebut terlihat dalam sejumlah pertandingan Premier League ketika Tottenham kesulitan mempertahankan situasi bola mati dan Vicario dianggap kurang dominan menguasai kotak penalti. Gary Neville bahkan pernah menyoroti ketidakmampuannya mendominasi area tersebut setelah gol Arsenal dalam derbi London Utara.
Kelemahan Guglielmo Vicario pada duel udara sebagian berkaitan dengan kecenderungannya menunggu bola lebih dekat daripada mengambil keputusan keluar lebih agresif. Juventus harus memastikan struktur pertahanan bola mati memberikan perlindungan cukup agar lawan tidak mudah mengisolasi sang penjaga gawang.
Distribusi panjang juga menjadi area yang belum sepenuhnya stabil, terutama ketika lawan menutup opsi umpan pendek dan memaksanya menendang melewati lini pertama. Bagi Juventus, akurasi Guglielmo Vicario dalam situasi semacam itu dapat menurun dan memberi lawan kesempatan mengambil penguasaan kedua.
Mengapa Performa Vicario Menurun di Tottenham?
Musim terakhir Guglielmo Vicario bersama Tottenham memang tidak berjalan semulus periode debutnya, terlebih setelah operasi hernia pada Maret 2026 membuatnya absen sekitar dua bulan. Kondisi tersebut ikut memengaruhi kontinuitas permainan dan akhirnya membuka jalan bagi Antonin Kinsky menjadi pilihan utama.
Tottenham menyelesaikan musim 2025/26 dengan Guglielmo Vicario mencatat 43 penampilan seluruh kompetisi, termasuk 31 laga Premier League dan 11 pertandingan Liga Champions. Secara keseluruhan, ia membukukan 117 penampilan untuk Spurs dalam tiga musim sebelum Juventus datang menawarkan jalan kembali.
Karena itulah harga opsi beli sekitar 10 juta euro dapat menjadi kesempatan pasar yang menarik bagi Juventus apabila Guglielmo Vicario kembali menemukan performa terbaik. Nilainya relatif rendah untuk penjaga gawang berusia matang dengan pengalaman Premier League serta trofi kompetisi Eropa.
Skema pinjaman juga mengurangi risiko Juventus karena klub dapat mengevaluasi Guglielmo Vicario selama satu musim sebelum mengambil keputusan permanen. Jika performanya meningkat, Juventus memperoleh kiper berpengalaman dengan biaya terkendali, sedangkan risiko finansial tetap lebih kecil jika adaptasinya gagal.
Apakah Guglielmo Vicario Cukup Hebat untuk Juventus?
Jika dibandingkan Alisson Becker atau Emiliano Martínez, Guglielmo Vicario jelas belum memiliki reputasi, koleksi trofi, maupun pengalaman pertandingan besar sebanyak dua nama tersebut. Namun Juventus tidak selalu membutuhkan penjaga gawang paling glamor, melainkan pemain yang cocok dengan struktur tim Spalletti.
Dalam kondisi terbaiknya, Guglielmo Vicario menawarkan refleks elite, keberanian menghadapi tembakan jarak dekat, pengalaman membangun serangan, serta mental bertanding yang sudah teruji. Kekurangannya pada bola udara dan distribusi panjang merupakan persoalan nyata, tetapi masih dapat diperbaiki melalui struktur permainan.
Spalletti pun mengubah nada setelah transfer tercapai dengan menyebut dirinya puas dan menilai Juventus mendapatkan pemain kelas atas yang sudah mencapai kematangan. Pernyataan tersebut menunjukkan Guglielmo Vicario kini memiliki kepercayaan pelatih, meskipun sebelumnya bukan kandidat yang sepenuhnya meyakinkan.
Pada akhirnya, keberhasilan Guglielmo Vicario di Juventus akan ditentukan oleh kemampuan mengembalikan konsistensi yang pernah membuatnya menjadi salah satu kiper menarik Premier League. Jika mampu memperbaiki penguasaan kotak penalti, kepulangannya ke Serie A bisa menjadi titik balik penting.
Juventus memang gagal mendapatkan Alisson dan Emiliano Martínez, tetapi kegagalan tersebut belum tentu membuat pilihan terakhir menjadi pilihan yang buruk. Guglielmo Vicario datang tanpa status superstar, namun membawa pengalaman, trofi Eropa, dan motivasi kuat untuk membuktikan dirinya kembali.