Selamat Tinggal Papa Tinju Indonesia

Selasa, 17 Maret 2015 15:18 WIB
Editor: Irfan Fikri
 Copyright:

Daniel Bahari adalah pelatih tinju, manager dan promotor tinju yang berasal dari Denpasar, Bali. Di sasananya yang bernama Cakti Bali (Candradimuka Tinju Bali), telah lahir petinju-petinju tingkat nasional dan internasional, baik amatir maupun profesional.

“Jajaran Kemenpora dan semua stakeholder olahraga nasional ikut berduka atas meninggalnya Pak Daniel Bahari. Indonesia telah kehilangan salah satu tokoh legendaris di bidang olahraga. Kontribusinya pada perkembangan dan kemajuan tinju nasional sangat besar. Mudah-mudahan beliau diterima di sisi-Nya,” tutur Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Di tangannya, telah lahir petinju-petinju besar seperti Adi Swandana, Fransisco Lisboa, Yulianus Bunga, Pino Bahari, Nemo Bahari, Daudy Bahari, dan lain-lain. Daniel Bahari juga pernah menangani mantan juara IBF kelas bantam yunior Ellyas Pical.

“Pak Daniel dan keluarganya merupakan teladan bagi pelatih dan para petinju nasional dan yunior saat ini. Atlet-atlet muda harus memiliki motivasi besar yang sama untuk meraih prestasi gemilang untuk mengharumkan nama bangsa seperti keluarga Bahari,”  tambah Menpora.

Daniel Bahari meninggal dunia di usia 67 tahun pada Senin (16/3) pukul 06.00 WITA di Denpasar, Bali. Ayah sekaligus pelatih dari Pino dan Nemo Bahari itu memang menetap di Denpasar dan hingga saat ini bersama anak-anaknya mengelola camp tinju.

Nama Sasana Cakti Bali telah diabadikan sebagai sebuah nama jalan di dekat kediaman Daniel Bahari, sebagai penghargaan Pemerintah Daerah (Pemda) Denpasar terhadap dedikasi Daniel Bahari sebagai pembina tinju di kota itu.

Tidak bersinar saat menjadi atlet, Daniel Bahari justru sukses sebagai pelatih dan promotor tinju. Banyak petinju top Indonesia tercetak dari tangan pria kelahiran Denpasar 23 Maret 1948 ini. Sebut saja Ada Fransisco Lisboa, Thomas Americo, Alexander Wassa, dan Adi Suandana. Suami Agustina L Rundengan ini juga mendidik empat anaknya menjadi petinju dengan prestasi yang membanggakan.

Seperti Pino Bahari yang meraih emas Asian Games Peking, 1990, saat usianya 17 tahun. Kemudian Nemo Bahari dan Pino Bahari juga lolos ke Olimpiade Atlanta 1996. Kemudian Dauddy Bahari lebih terkenal yang menapak karier dalam dunia tinju profesional, dan Champ Bahari lebih dulu meninggal dunia saat baru masuk menjadi atlet nasional.  

Sebelum terjun sebagai pembina tinju, Daniel Bahari juga tercatat sebagai mantan petinju, namun diakuinya prestasi bertinjunya tidaklah sebaik prestasinya dalam membina tinju di Indonesia.

1