Maxi Nahak yang merupakan pemegang gelar juara WBC Asia usai menaklukan petinju Korea Selatan, Eun Chang-lee di kelas menengah (72,5 Kg) pada Juli 2016 lalu, kini mencoba peruntungannya pada ajang tarung bebas tradisional pencak dor di Tulungagung, Jawa Timur.
Maxi menjelaskan bahwa keterlibatannya pada ajang olahraga tradisional tersebut adalah untuk menjaga stamina dan kondisinya tetap bugar.
Pria yang juga merupakan pemegang rekor muaythai nasional di kelas 64 Kg itu hanya akan bertanding sekali pada Sabtu (14/01/17) besok di lapangan Desa Pucung Lor.
“Iya saya ikut pencak dor juga jaga kondisi biar stamina tetap terjaga,” ujarnya kepada INDOSPORT.

Maxi Nahak tengah bersiap menghadapi sebuah kompetisi tarung tradisional.
“Saya hanya sekali main saja, tandingnya nanti besok lawan peringkat kedua di pencak dor se-Jawa, namanya Bimo dari Kediri. Saya sudah nonton video tandingnya dia dan semoga bisa diatasi,” sambung Maxi Nahak.
Pencak dor sendiri merupakan olahraga rakyat berupa tarung bebas layaknya Mixed Martial Art (MMA) yang belakangan marak dipertandingkan.
Dengan kata lain pencak dor merupakan MMA tradisional dari Indonesia, di mana menggunakan ring bertanding layaknya di tinju dan MMA.
Namun hal yang membedakan adalah jika pembatas ring tinju menggunakan tali maka di pencak dor menggunakan bambu dan juga diawasi oleh dua orang wasit bahkan lebih untuk menjaga keselamatan para petarung yang berkompetisi.