Juara Buah Kerja Keras
Nico, demikian panggilan Nicholas Thomas, melambungkan nama Indonesia usai merebut sabuk juara dunia kelas mini IBF dari tangan Samuth Sithnaurepol pada 17 Juni 1989 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Kemenangan ini diraih dalam partai ulang melawan petinju asal Thailand serta berkat kerja dan latihan keras selama tiga bulan. Pada duel pertama 23 Maret 1989 masih di Senayan, Nico kalah dari Samuth.
Lama tak terdengar, Nico beraktivitas dengan melatih olahraga beladiri di sebuah dojo di wilayah utara Jakarta. Tak bisa lepas dari dunia tinju, Nico mengamati perkembangan tinju Indonesia. Nico menyesalkan kemunduran dunia tinju Indonesia.
Praktis tinggal Daud Yordan yang punya daya jual, meski masih kelas regional. Sebelum Daud, tinju Indonesia pernah melambung lewat Chris Jhon yang 18 kali mempertahankan sabuk juara dunia kelas bulu WBA.
“Saya kecewa regenerasi di kita sangat lama. Kita selepas Chris Jhon hingga kini tak ada penggantinya. Seharusnya sudah ada Chris Jhon lain. Saya tak mau menyalahkan siapa-siapa. Kita balikan ke individu masing-masing,” kata Nico Thomas kepada INDOSPORT.
Nico yang lahir di Ambon, Maluku, pada 10 Juni 1966 ini meyakini tidak seorang seorang pelatih yang mampu melahirkan juara dunia. Baginya, semua datang dari petinju sendiri.
“Hingga saat ini tidak ada pelatih yang bisa melahirkan juara-juara dunia. Seharusnya kalau mereka bisa sudah ada Ellyas Pical lain, Nico Thomas lain. Kembali ke diri sendiri, mau tidak mereka menjadi juara dunia,” tegas Nico.
Tak hanya mengungkap kekecewaan melihat kemandekan regenerasi tinju nasional, bapak dari tiga putra ini membagi sedikit ilmu kepada mereka yang ingin menjadi seorang petinju dunia.
“Saya berlatih sangat keras hingga puncak karier. Kalau mau jadi juara dunia harus berlatih keras. Kata orang, Indonesia tidak bisa melahirkan dunia. Kata saya itu salah, kita bisa melahirkan juara dunia, namun kembali berbalik ke individu masing-masing,” tegas Nico yang merupakan anak nomor 12 di antara 16 bersaudara ini.