Sepakbola yang Melarikan Mereka Dari Neraka Dunia

  • Banyak imigran yang memmiliki harapan pada sepakbola.
  • Malaysia mewujudkan mimpi pemuda-pemuda Rohingya.
  • Kisah sedih mantan pelatih sepakbola Suriah yang berakhir bahagia di Madrid.
Rabu, 6 September 2017 12:38 WIB
Penulis: Annisa Hardjanti | Editor: Galih Prasetyo
© bbc.com
Ilustrasi pengungsi yang bermain sepakbola. Copyright: © bbc.com
Ilustrasi pengungsi yang bermain sepakbola.

Mereka meninggalkan tanah kelahiran dengan cara yang tak biasa. Seperti diusir dari rumah mereka sendiri, para imigran ini terlunta-lunta mencari cara bertahan hidup di dunia.

Di tengah kekusutan pikiran mereka yang harus berpindah-pindah, bahkan seringkali terkena perlakuan tak manusiawi secara fisik maupun psikis, para imigran tertindas ini membutuhkan celah untuk tertawa dan bernafas.

Malaysia menjadi salah satu negara yang memberikan harapan itu pada para imigran Rohingya yang melarikan diri dari neraka mereka di Myanmar. 

Diskriminasi yang dihadapi oleh masyarakat Rohingya menjadi perhatian dunia saat ini. Namun di sisi lain, sebuah laga amatir di Kuala Lumpu memberikan kesempatan bagi para pemuda Rohingya mengembangkan kemampuan sepak bola mereka. 

Orang Rohingya yang bermain sepakbola. Copyright: nytimes.comOrang Rohingya yang bermain sepakbola.

Dilansir The New York Times, masyarakat Rohingya dilarang untuk bermain sepak bola oleh penduduk asli Myanmar sendiri. Hal tersebut yang menyebabkan tak ada sepakbola bagi warga Rohingya di sana.

"Sepakbola mendekatkan kita satu sama lain dan membawa kita pada pemahaman bahwa sepakbola tak memandang etnis maupun agama," ujar Mohammad Farouk Yusuf Khan, salah seorang pemain di liga tersebut. 

Sebelumnya, Rohingya sendiri akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah tim sepakbola bernama The Rohinggya Footbal Club pada 2015. Pembentukannya sendiri terinspirasi dari tim pengungsi dalam Olimpiade Rio di Brazil beberapa waktu lalu. 

Lain lagi nasib Osama Abdul Mohsen. Pria tua berambut putih itu merupakan seorang imigran Suriah yang mencari suaka ke Jerman akibat perang sipil yang terjadi di negaranya. 

Insiden penendangan yang dilakukan oleh seorang jurnalis wanita Hungaria padanya menarik perhatian dunia. Mohsen berlari melintasi perbatasan Hungaria bersama putranya yang berusia delapan tahun.

Caption Copyright: Internet
Mohsen dan putranya yang berusia delapan tahun mendapat tindakan kekerasan dari jurnalis wanita Hungaria

Di Suriah, Mohsen merupakan seorang pelatih sepak bola divisi pertama di negaranya. Tragis yang mesti ia hadapi, beberapa pemain yang bekerja untuknya justru terbunuh dalam kondisi perang. 

Berdasarkan laporan CNN, CENAFE, sebuah akademi sepak bola di Madrid mencoba menghubungi jurnalis sepakbola, Martin Mucha dari El Mundo untuk memintanya menemukan Mohsen dan anaknya.

Mohsen ditemukan ditengah ribuan pengungsu lainnya. Dirinya nampak tengah menonton liga Champion di sebuah kedai di Munich, Jerman. 

Pertemuan mereka dengan Mohsen melahirkan senyuman di bibir pria tua itu. CENAFE memberikan sebuah harapan bagi Mohsen untuk kembali berkecimpung dalam dunia sepakbola. 

Caption Copyright: Internet
Mohsen ketiba tiba di Madrid bersama putranya

"Berada di sini adalah mimpi saya. Terima kasih Madrid, terima kasih Spanyol," ucapnya penuh sukacita setibanya ia di Madrid dengan kereta bersama anaknya. 

Luis Miguel Pedraza dari CENAFE mengatakan pada media Spanyol bahwa dirinya akan memberikan pelatihan kepada Mohsen terkait penggunaan bahasa Spanyol sebelum pria tua itu bergabung sebagai pelatih di akademi tersebut. 

Sepakbola membuktikan dirinya sebagai sebuah medium pengantar perdamaian ditengah gerahnya dunia pada masalah kekerasan di tengah para imigran. Tawa mereka merekah ketika sepakbola berhasil mengantarkan mimpi mereka.