x

5 Resiko yang Bisa Hancurkan Karier Atlet eSport

Sabtu, 23 Juni 2018 17:01 WIB
Editor:
Ilustrasi pemain eSports.

Ajang Asian Games 2018 untuk kali pertama akan memasukkan perlombaan olahraga digital di dalamnya. Pasalnya dalam beberapa edisi terkahir Asian Games, olahraga digital ini belum masuk ke dalam cabang olahraga resmi.

Para atlet eSports pun tentu dituntut untuk memperlihatkan keseriusann dalam menjalani debutnya di turnamen paling bergengsi di Asia ini. Namun mereka harus tetap menjaga kondisi fisiknya jelang Asian Games 2018.

Meski tidak mengandalkan kekuatan fisik, namun atlet eSports pun memiliki masalah tersendiri yang bisa mengancam karier profesionalnya. Berikut beberapa resiko yang bisa menghancurkan karier atlet eSports.

Baca Juga

1. Cedera Punggung dan Mata

Ilustrasi kompetisi eSports.

Kendati tak mendapatkan benturan fisik antara satu atlet dengan yang lainnya, namun mereka bisa mengalami cedera punggung yang cukup parah.

Beberapa penelitian telah menjelaskan bahwa anak-anak yang bermain video game sangat rentan terhadap gangguan tulang punggung.

Tak hanya itu, atlet eSports pjuga bisa mengalami gangguan mata yang disebut dengan Computer Vision Syndrome (CVS). CVS bisa menimbulkan peradangan serta rasa nyeri pada mata.


2. Terserang Thrombosis

Ilustrasi Thrombosis.

Cedera lainnya yang bisa menimpa altet eSports adalah Thrombosis. Sekedar informasi, Thrombosis merupakan proses terjadinya penggumpalan pembuluh darah di bagian tubuh manusia, terutama pada bagian paha dan betis.

Masalah ini pun nyatanya bisa merenggang nyawa sang penderitanya. Hal itu terbukti ketika seorang gamer asal Inggris bernama Chris Staniforth meninggal dunia karena kebiasaan bermain game selama 12 jam per hari.


3. Peradangan Otot Nintendonitis

Ilustrasi peradangan otot Nintendonitis.

Peradangan otot Nintendonitis bisa menimpa para atlet eSports karena mereka menggunakan kontroler terlalu lama sehingga memunculkan efek samping yang berbahaya.

Penggunaan kontroler yang berlebihan sangat berpengaruh dalam pergerakan pergelangan tangan, siku, bahu, jemari dan jempol. Jika terlalu sering memainkan video game, maka cedera ini bisa menimpa sang atlet.


4. Gagal Jantung

Ilustrasi serangan Jantung.

Atlet eSports juga bisa mengalami gagal jantung. Hal itu terbukti ketika seorang pria asal Taiwan berumur 32 tahun meninggal dunia akibat bermain game di warnet selama tiga hari berturut-turut.

Pemicu gagal jantung sendiri antara lain karena seseorang tersebut mengalami kelelahan berat yang menyita waktu istirahatnya selama berhari-hari.


5. Epilepsi

Ilustrasi Epilepsi.

Seseorang yang memiliki riwayat epilepsi sepertinya tidak bisa menjadi atlet eSports. Karena video game dilaporkan dapat memicu kejang-kejang. Hal itu dikarenakan sensitiditas pada cahaya yang berubah-ubah mampu memebuat penderita epilepsy kejang-kejang.

Tak hanya itu, video game juga bisa membuat perubahan dalam cara kerja otak terutama di bagian cingulate cortex. Bagian itu sendiri bisa mengubah cara kerja otak dengan berbagai faktor.

Berikut jadwal lengkap siaran langsung Piala Dunia 2018 hari ini:

Terus ikuti berita terbaru INDOSPORT dengan topik: PIALA DUNIA 2018 RUSIA

Asian Games 2018eSportsTRIVIABerita Transfer

Berita Terkini