Komunitas JLO Sebagai Solusi Atasi Balap Liar
Jalan Asia-Afrika di kawasan Senayan, Jakarta kerap dijadikan arena ajang balap liar oleh sekelompok pemuda. Jalanan itu menjadi tempat favorit pebalap liar karena memiliki tipe jalanan yang lurus dan panjang.
Biasanya para pebalap liar itu memulai aksinya di atas jam 12 malam. Walau terkesan ugal-ugalan, namun ata-rata dari peserta balap liar itu mengendarai mobil berkategori mewah.
Danny, salah satu pebalap liar yang INDOSPORT temui pada Jumat (13/11/14) dini hari WIB, mengatakan dia sering ikut ambil bagian pada balapan di Asia-Afrika karena sejak remaja memiliki hobi modifikasi mesin mobil.
"Mulai senang balapan di sini sejak kuliah. Sampai sekarang sudah kerja masih suka juga. Gimana ya, hobi saya otak-atik mesin mobil. Kalau tidak balapan jadi tidak seru," ujar Danny.
Pria berusia 30 tahun itu menambahkan, mengikuti ajang balap liar membuat adrenalinnya menjadi semakin terpacu. Karena di saat itu dia tidak hanya beradu kecepatan dengan lawan, tapi juga merasa waspada akan kedatangan polisi.
"Lagi pula kita bisa dapat banyak ketegangan di sini. Tidak cuma karena ingin menang balapan, tapi ada takutnya juga kalau ada polisi datang pas kita lagi balapan," lanjut dia.
Jalan Asia-Afrika sudah puluhan tahun dijadikan arena ajang balap liar. Walau sudah memakan banyak korban akibat kecelakaan, namun tidak membuat para pebalap liar yang biasa beraksi di sana jera.
Tak dapat dipungkiri, menjamurnya ajang balap liar di Jakarta dikarenakan kurangnya fasilitas sirkuit yang ada. Saat ini, hanya ada sirkuit Sentul saja yang bisa dijadikan tempat latihan resmi bagi mereka yang hobi melakukan balapan.
Namun, harga sewa yang lumayan tinggi membuat para pebalap liar berpikir dua kali. Jadi, satu-satunya alternatif mereka menyalurkan hobi balapan adalah di jalan umum yang juga dilalui oleh pengguna yang lain.
"Mending uang buat sewa trek kita pakai buat modifikasi mesin. Lumayan kan 2-3 kali balapan uangnya bisa buat beli sparepart," kata Danny sembari tertawa.
Melihat akar masalah seperti itu, nampaknya peran aparat kepolisian untuk menekan maraknya balap liar mesti turut didukung pihak lain. Setidaknya ada usaha dari pemerintah untuk membuat fasilitas balapan yang legal sehingga para pebalap liar terakomodir dan tidak mengganggu pengguna jalan umum yang lain.
Berikut masalah dan solusi untuk mengurangi balap liar:
1. Balap Liar Jadi Ajang Perjudian
Balap liar tidak hanya digunakan sebagai pemacu adrenalin saja. Bagi sebagian pesertanya, taruhan dalam bentuk uang juga menjadi penambah semangat mereka untuk memacu kendaraan sekencang mungkin.
Uang yang ditaruhkan pun tidak sedikit. Rata-rata dari mereka yang biasa turun di ajang balap liar di sekitar Asia-Afrika, jumlah taruhannya bisa mencapai jutaan rupiah.
"Kalau saya biasanya paling minim taruhan 2 sampai tiga juta. Kadang bisa sampai 3 kali lipat dari itu," ujar Danny salah satu pebalap liar yang biasa beraksi di sana.
Melihat fakta tersebut, memang tidak mengherankan. Karena rata-rata mobil yang berjejer di daerah itu, masuk dalam kategori mewah.
Danny melanjutkan, baginya menyelipkan taruhan uang dalam balapan yang diikutin membuatnya mendapatkan kesenangan lebih.
"Lagian kalau cuma ngebut bolak-balik "kering" juga. Kalau ditambah taruhan kita nge-gas jadi makin semangat," lanjut Danny.
"Kalau menang jajan-jajan, kalau kalah ya masuk bengkel lagi bagusin mobil. Tapi begitu selesai entah kenapa kita jadi merasa dapat kesenangan lebih aja," tandas dia.
2. Otoclub Jadi Altenatif Mengurangi Balap Liar
Maraknya aksi balap liar di jalan-jalan utama baik di Jakarta maupun daerah-daerah lain turut membuat pengguna jalan yang lain menjadi resah. Resiko kecelakaan yang tinggi seperti tidak dihiraukan oleh pebalap liar. Bahkan tak sedikit dari mereka yang harus bersinggungan dengan aparat berwajib.
Walau begitu, Upaya kepolisian melakukan penindakan dan pencegahan balap liar seperti tidak pernah selesai. Para pebalap liar justru semakin banyak. Berbagai cara mereka tempuh agar bisa lepas dari penindakan polisi.
Dengan melihat kenyataan di lapangan itulah, maka upaya pencegahan balap liar tidak hanya bisa diserahkan kepada polisi semata. Peranan dari luar seperti komunitas atau klub mobil juga amat diperlukan untuk mendukung tindakan kepolisian juga menjadi penting.
Salah satu gerakan untuk menekan jumlah pebalap liar telah dirintis oleh sebuah komunitas, yakni Jabar Lancer Otoclub (JLO). Hingga saat ini JLO memiliki 84 anggota terdaftar yang tersebar di tiga daerah, yakni Bekasi, Karawang, dan Bandung. Walau terhitung masih sedikit, namun keseriusan mereka tidak bisa dianggap sebelah mata. Hal itu dibuktikan dengan bergabungnya mereka di bawah naungan Ikatan Motor Indonesia (IMI) wilayah Jawa Barat.
Berdiri sejak 2012, JLO tidak hanya bertujuan untuk menjadi ajang tukar informasi bagi sesama penggemar mobil merek Lancer saja. Tapi mereka juga turut aktif memfasilitasi anggota mereka yang ingin menyalurkan hobi balapan secara resmi.
“Kami di JLO juga sebenarnya juga memiiki tujuan untuk memfasilitasi bakat-bakat yang ada. Jadi jika ada yang punya kemampuan di balap tidak tersalurkan, kami disini ikut membantu mereka mengembangkannya,” ujar Ferry Mardihardjo selaku pendiri dan pembina JLO.
Pria yang akrab disapa dengan panggilan Pak Haji itu menambahkan, walau anggota JLO tidak ada yang berprofesi sebagai pebalap profesional, akan tetapi mereka disyaratkan menjadi anggota resmi IMI. Selain itu mereka juga dituntut untuk membangun kesadaran menjaga keselamatan dalam berkendara, baik saat balapan maupun saat berada di jalan umum.
Berbekal visi dan misi yang kuat itulah, kini JLO dikenal bukan hanya menjadi sebuah komunitas saja. Tetapi mereka juga dikenal karena prestasi di ajang balapan resmi seperti Sentul D2 dan beberapa kejuaran lain.
“Kalau prestasi sih alhamdulillah sampai sekarang sudah lumayan. Ada sekitar 20 lebih gelar yang berhasil kami dapatkan,” lanjut Ferry.
Di wilayah Jabodetabek memang tidak banyak kejuaraan drag race mobil resmi yang digelar pemerintah atau pihak swasta. Walaupun peminat olahraga ini terhitung banyak dan memiliki prospek yang bagus. Namun, dalam prosesnya memang tidak mudah bagi mereka yang ingin menjadi peserta.
Sejak masa persiapan mereka akan terbentur dengan sarana latihan. Mahalnya biaya sewa sirkuit sentul membuat mereka harus putar otak agar bisa mengetahui kemampuan mesin mobil sebelum bertanding.
"Kami dipaksa putar otak mencari tempat untuk test drive. Karena di Sentul itu biaya sewanya sangat mahal. Kalau tidak ada test drive kan sulit untuk mengetahui kemampuan mesin," ujar Micko selaku ketua JLO.
Dukungan dari pemerintah sebenarnya sangat dibutuhkan. Karena bagaimanapun, bila infrastruktur untuk ajang balap diberi dukungan, kemungkinan menjamurnya aksi balap liar bisa diminimalisir.
3. Membangun Komunitas Bernuansa Kekeluargaan
Memasuki pukul 8 malam, hujan yang mengguyur sebagian kota Bekasi baru saja reda, satu-persatu anggota Jabar Lancer Otoclub mulai berdatangan ke sebuah gerai makanan ternama yang dijadikan sebagai titik temu, Sabtu (08/11/14). Tidak hanya kaum pria saja yang bergabung pada malam itu, tapi ada juga beberapa wanita serta anak-anak.
Gelak tawa dan sapaan hangat meluncur dari mereka yang hadir malam itu. Walau setiap anggota memiliki rentang usia berbeda, namun tak nampak ada kekakuan di antara mereka.
"Di sini sistemnya kekeluargaan. Susah senang dijalani bareng-bareng. Teman-teman sering bawa keluarga, dan pas touring yang laki-laki tidur di mobil. Kamar cuma buat perempuan dan anak-anak," ujar Ferry Mardihardjo selaku pendiri dan pembina Jabar Lancer Otoclub.
"Biasanya kalau ada teman yang mobilnya mengalami kerusakan, siapa yang berada di posisi terdekat datang membantu. Bahkan kadang bisa sekali lima orang yang ikutan bantuin," lanjut dia.
Nuansa kekeluargaan di dalam JLO terjalin dengan baik. Yang berusia lebih muda menghormati yang lebih tua, sebaliknya yang lebih tua menghargai mereka yang lebih muda. Mungkin faktor itulah yang membuat kepercayaan dan keterikatan di antara mereka tumbuh dan menguat.
Yang menjadi obrolan malam itu tidak hanya sekedar bertukar informasi mengenai bagian pada mobil saja. Tapi ada juga perbincangan mengenai hal yang lain.
"Dalam komunitas enaknya begini. Kita bisa ngobrol apa saja, tidak fokus ke mobil. Bisa juga terkait pekerjaan, karena kami disini berlainan profesi," ujar Micko selaku ketua JLO.
Menjelang tahun kedua sejak JLO didirikan, total sudah 84 anggota terdaftar di dalamnya. Mereka tersebar di tiga daerah, yakni Bekasi, Karawang, dan Bandung.
Sebagai organisasi yang terdaftar di bawah naungan Ikatan Motor Indonesia (IMI) wilayah Jawa Barat, mereka juga turut aktif dalam upaya menekan menjamurnya balap liar. Caranya ialah dengan memfasilitasi para anggota yang ingin balapan dengan mengikutsertakan pada gelaran balap resmi.
Dengan cara itu, para anggota JLO pun dapat berprestasi. Hingga saat ini terhitung sudah lebih dari 20 gelar juara yang berhasil didapatkan oleh JLO. Sebuah torehan prestasi yang baik, menimbang para anggotanya bukanlah pebalap profesional.