Pecundangi Hamilton Sampai Makian Raikkonen, Ini 5 Pengalaman Tak Terlupakan Rio Haryanto di F1
Rio Haryanto harus menerima kenyataan pahit tak lagi menjadi pembalap utama setelah Manor mendepaknya akibat tak kunjung melunasi sisa pembayaran 'pay driver'.
Pembalap berusia 23 tahun itu hanya mampu menyetor dana sebesar 8 juta Euro (Rp119 miliar), dari total 15 juta Euro atau setara Rp223 miliar yang harus dilunasi.
Pemerintah Indonesia pun mengklaim telah melakukan segala cara untuk membantu Rio agar terus bertahan di F1. Meski akhirnya pihak Kemenpora mengaku memang tak 100 persen siap membantu Rio di ajang balap bergengsi tersebut, meski telah melakukan yang terbaik.
Meski tak lagi menjadi pembalap utama di F1, namun Rio tetap berlapang dada dan menerima tawaran Manor untuk menjadi reserve driver alias pembalap cadangan mereka.
“Saya sangat senang balapan karena saya juga sangat bangga bisa menjadi satu-satunya wakil Indonesia dan Asia di F1,” ujar Rio melalui situs Twitter miliknya sesaat setelah menerima tawaran Manor sebagai pembalap cadangan.
Rio Haryanto tak lagi jadi pembalap utama Manor di sisa musim 2016 Formula 1
Berbagai pengalaman berharga telah dilalui pembalap asal Surakarta tersebut sepanjang menjadi pembalap F1 selama setengah musim. Pahit manis serta ketatnya kompetisi balapan bergengsi itu pun dicicipi Rio.
Berikut INDOSPORT merangkum pengalaman tak terlupakan yang dialami Rio Haryanto selama menjalani setengah musim di F1.
1. Tabrak Mobil Grosjean di Debut Pertama
Rio tampaknya benar-benar gugup jelang menghadapi debut pertamanya di Formula 1 hingga Romain Grosjean jadi korbannya. Tak sengaja, mobil MRT05 Rio menabrak mobil pembalap asal tim Haas itu saat keluar dari pit di sesi latihan bebas ketiga GP Melbourne, Australia.
Insiden tersebut menyebabkan Rio harus menerima konsekuensinya. Pengawas perlombaan memutuskan pembalap 23 tahun itu mendapat penalti dua poin hukuman dan akan diturunkan sebanyak 3 posisi saat memulai start.
Tak sampai di situ, Rio pun harus menerima sindiran panas dari bos Haas Team yang tak terima mobil pembalapnya ditabrak Rio. Bos tim Haas bahkan menyebut pembalap kelahiran 22 Januari 1993 silam itu tak bisa mengendarai mobil dengan benar.
"Saya pikir itu adalah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi. Jelas FIA harus memberi mereka hukuman, sehingga mereka mengambil keputusan yang tepat. Kami berada di posisi yang benar dalam masalah ini. Kami tidak melakukan kesalahan," ujar Bos tim Haas, Gunther Steiner, seperti dikutip motorsport.
2. Tak Dapat Poin Hingga Setengah Musim
Hingga menjalani seri terakhirnya di GP Jerman di Sirkuit Hockenheim, Rio Haryanto tak kunjung menuai satu poin pun. Menjalani debutnya di 12 seri F1 musim 2016, Rio lebih sering finish di posisi buncit, atau bahkan gagal menyelesaikan balapan karena berbagai kendala teknis.
Pencapaian terbaik Rio adalah saat finish di urutan ke-15 di GP Monako. Namun, saat itu putra dari pasangan Indah Pennywati dan Sinyo Haryanto itu berstatus sebagai juru kunci. Tercatat, dari 12 seri yang dilakoninya, Rio gagal finish sebanyak 3 kali yakni di GP Australia, GP Rusia, dan GP Inggris.
Hal itu tentu bisa dimaklumi, karena musim 2016 merupakan musim perdana Rio membalap di F1. Selain itu, Manor juga menjadi penyebab hasil buruk yang diraih Rio, akibat berbagai kendala teknis.
3. Dipuji Juara dunia F1
Sesaat setelah mengumumkan ia tak lagi menjadi pembalap utama Manor di ajang F1 musim ini melalui akun Twitter-nya, Rio Haryanto langsung banjir dukungan. Salah satu orang spesial yang mengapresiasi penampilan Rio sepanjang setengah musim mengarungi musim 2016 adalah Damon Hill.
Hill yang merupakan juara dunia F1 tahun 1996, membalas cuitan Rio di Twitter dengan pujian dan motivasi. Pembalap yang pernah jaya bersama tim Williams ini, memuji performa pembalap asal Solo itu selama turun di lintasan F1.
“Rio, semua yang terbaik untukmu. Saya pikir, anda sudah melakukan pekerjaan berkelas. Mari kita berharap pintu lain terbuka segera.”
Rio pun pada akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Manor sebagai pembalap cadangan mereka. Posisi Rio di kursi utama pembalap Manor digantikan oleh Esteban Ocon.
4. Pecundangi Lewis Hamilton
Meskipun berbagai kendala teknis membuat Rio beberapa kali gagal finish atau selesai di urutan buncit, namun ia boleh berbangga karena sempat mempecundangi juara dunia F1, Lewis Hamilton.
Saat mengikuti sesi free practice III di Sirkuit Hungaroring, Hungaria, pembalap berusia 23 tahun itu berhasil ‘mengalahkan’ Hamilton.
Rio membukukan kecepatan terbaik di lintasan lurus yakni 318,2 km/jam, ia pun berada di urutan pertama speed trap F1 GP Hungaria. Hebatnya, Rio yang mengendarai mobil MRT05 mampu mempecundangi pembalap andalan Mercedes, Hamilton.
Saat sesi latihan bebas kala itu, Hamilton hanya berada di urutan ke-6 dengan kecepatan 313,0 km/jam. Rio juga mengungguli torehan pembalap F1 papan atas lainnya seperti Felipe Massa dan Sebastian Vettel.
5. Dimaki Kimi Raikkonen
Entah apa yang terjadi antara Rio dan Kimi Raikkonen, namun dalam salah satu rekaman video tampak Raikkonen begitu murka pada Rio. Dalam rekaman radio tim Ferrari, tampak pembalap asal Finlandia itu sedikit menghardik Rio yang berada di depannya saat overlap di GP Kanada.
“What the f**k is this Manor Doing? (apa yang pembalap Manor ini lakukan),” maki Raikkonen pada Rio yang berada di depannya.
Tindakan kurang sopan Raikkonen yang memaki Rio pun mendapat kritikan dari beberapa orang yang menyaksikan video tersebut. Beberapa netizen membela Rio dan menyebut jika Raikkonen tak seharusnya melakukan hal tersebut.