Taufik Hidayat Tersingkir

Mimpi Panas Lee Buyar

Kamis, 13 Juni 2013 12:17 WIB
Editor: Jhon Purba
 Copyright:

Kiprah Taufik Hidayat terhenti di Indonesia Open 2013 saat kalah 21-15, 12-21 dan 17-21 dari Sai Praneeth B, Rabu (12/06/13) malam. Kekalahan dari lawan asal India menggenapi janji Taufik.

Sebelum ambil bagian di Indonesia Terbuka 2013, Taufik berjanji akan mundur apapun hasil yang terjadi. Indonesia Open edisi tahun 2013 jadi penutup 25 tahun kiprah Hidayat.

“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada pecinta bulutangkis, orangtua, keluarga dan PBSI. Terima kasih atas dukungan selama ini dalam karier saya sebagai atlet,” kata Taufik Hidayat.

Soal kekalahan dari pebulutangkis India yang baru berusia 22 tahun, Taufik yang kini berusia 31 tahun menegaskan tidak ada yang salah.

“Mungkin hasil pertandingan kurang baik. Tetapi jangan dilihat hari ini, tetapi dari proses saya selama ini,” tegas peraih emas Olimpiade 2004 Athena.

Taufik Hidayat menjadi ikon bulutangkis dunia dalam rentang 20 tahun terakhir. Berbagai prestasi dan trofi juara menjadi milik pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1981.

Masuk pelatnas PBSI sejak usia 14 tahun, Hidayat menjadi juara dunia tahun 2005, juara Asian Games (1988, 2002 dan 2006), dua kali Piala Thomas dan enam kali menjuarai Indonesia Open.

Hidayat menyimpan 27 trofi juara dari berbagai level (19 kali juara kedua). Ketidaksempurnaan Taufik hanya kegagalan di All England dan ketidakmampuan membawa Indonesia jadi juara Sudirman Cup.

“Susah senang saya lalui. Dibanding atlet lain, saya paling banyak gelar. Itu saya syukuri. Meski dinilai banyak kontroversi, vokal dan bandel, tapi saya buktikan dengan prestasi,” Taufik urai sejarahnya.

Kehebatan di lapangan hampir berbanding lurus dengan sikap dan perilaku Taufik di luar lapangan. Selain cerita panas kehidupan pribadi, Taufik terkenal kontroversial dan temperamental.

Taufik pernah melawan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) saat memilih memperkuat Singapura sambil mengikuti pelatih Mulyo Handoyo.

“Kenanglah saya dengan mengingat hal yang telah saya beri buat negara. Seperti saya mengingat olahraga ini sebagai seuatu yang memberi banyak hal. Saya lupakan semua yang menyakitkan pada masa lalu.”

Tujuan selanjutnya atau berganti peran menjadi pelatih, Taufik tidak berani berjanji.

“Saya tidak berhasrat melatih. Saya bisa saja mengatakan jadi pelatih dan orang pasti bersedia membayar mahal. Saya tidak mau berbohong karena saya sudah merasakan sakitnya diperlakukan seperti itu.”

Pesta Perpisahan

Kegagalan Taufik Hidayat melewati Sai Praneeth dan bertahan di Indonesia Open 2013 melahirkan kesedihan mendalam bagi Lee Chong Wei.

Taufik Hidayat dan Lee Chong Wei menjadi sahabat karib di luar lapangan, usai bertarung mati-matian di lapangan.

Bila Taufik bisa melewati Sai Praneeth, maka duel Taufik dengan Lee pasti terjadi di Indonesia Open 2013. Lee sudah menyiapkan pertandingan terbaik sebagai kado perpisahan untuk sahabatnya.

“Saya tidak akan pernah melupakan Taufik. Seluruh dunia tahu siapa Taufik karena dia adalah salah pemain terbaik. Dia membuat saya selalu rajin karena dulu dia musuh besar saya,” kata Lee.

“Di lapangan kami musuh besar, di luar kami berteman baik. Saya akan berusaha lakukan yang terbaik dan dia bisa merasakan duel terbaik di pertandingan terakhirnya,” kata Chong Wei.

Soal rencana Lee Chong Wei menggelar pesta dalam pertandingan terbaik dan super panas sebelum Taufik kalah dari Sai Praneeth, Taufik berkomentar ringan.

“Saya bisa saja meminta Chong Wei melakukan pertandingan ekshibisi besok atau nanti saat Chong Wei juga pensiun. Nyatanya hari ini saya kalah,” kata Taufik saat jumpa pers usai kalah dari Sai Praneeth.