Bulutangkis Indonesia tak segarang beberapa dekade lalu. Kompetisi kelas atas kian banyak tapi prestasi atlet-atlet Tanah-Air tak selalu mengibarkan Merah-Putih di dalam dan luar negeri.
Penurunan prestasi atlet Indonesia mendorong tiga mantan pebulutangkis top Indonesia mengundang wartawan untuk menjelaskan rencana kerja PB PBSI.
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres), Rexy Mainaky, dalam konferensi pers mengatakan PBSI akan mengadakan promosi-degradasi terhadap atlet pelatnas di Cipayung.
Saat ini, sebanyak 83 atlet masuk pemusatan latihan nasional. Namun untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia akan mengurangi jumlah menjadi 50 orang.
“Ada 83 atlet pelatnas namun hanya segelintir yang mampu mencapai hasil memuaskan. Idealnya nanti setelah pengurangan menjadi 50, atlet mampu mencapai kalkulasi memuaskan,” ujar Rexy.
“Promosi degradasi sudah jadi ketentuan dalam AD/ART tiap tahun. Kami akan melakukan seleksi yang terbaik untuk masuk ke pelatnas,” lanjut Rexy, mantan ganda campuran terbaik Indonesia.
Untuk dapat masuk ke pelatnas, PBSI memiliki standard yaitu berupa lima kali tes fisik, termasuk tes VO2max (ukuran kemampuan daya serap paru-paru terhadap oksigen).
Sejalan dengan Rexy, mantan rekan gandanya, Ricky Subagja mengatakan, seluruh atlet akan memiliki rencana untuk mengejar target sebagai penilaian kelayakan mereka bergabung pelatnas.
“Siapapun penghuni pelatnas harus mencapai target dalam 5 kejuaraan dunia, yaitu Wolrd Championship, Thomas Cup, Uber Cup, dan Olimpik,” kata Ricky yang menjabat Kasubid Pelatnas.
Selain Rexy dan Ricky yang dulu merupakan pasangan peraih medali emas Olimpik 1996, Yuni Kartika juga hadir dalam temu wartawan di pelatnas Cipayung, Jakarta Timur.