Langkah Indonesia terhenti di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, Jumat (23/05) malam, saat kalah 0-3 dari Malaysia. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang menjadi tumpuan gagal mengamankan angka.
Hendra/Ahsan yang turun di partai kedua kalah 19-21, 21-8 dan 21-23 dari Tan Boon Heong/Hoon Thien How. Pasangan rangking satu dunia Hendra/Ahsan diharapkan mencuri kemenangan di partai kedua saat Indonesia sudah tertinggal 0-1 setelah tunggal Tommy Sugiarto takluk di tangan Lee Chong Wei di partai pembuka.
Di partai ketiga, Dionysius Hayom Rumbaka bermain dalam tekanan saat timnya sudah tertinggal 0-2 hingga kalah dari tunggal kedua Malaysia. Indonesia kalah 0-3 dari Malaysia.
Berikut wawancara dengan Herry Iman Pierngadi soal penampilan Hendra/Ahsan dan evaluasi yang akan dilakukan seperti termuat di Badmintonindonesia.org.
Komentar Anda soal penampilan Hendra/Ahsan?
Hendra/Ahsan bisa dibilang kurang beruntung, pada kedudukan 20-19, Tan/Hoon dalam posisi sulit untuk mengembalikan bola, tetapi belum bisa dimatikan oleh Hendra/Ahsan. Saat adu setting, mungkin Hendra/Ahsan masih kepikiran soal ini. Dalam pertandingan ini, ada beberapa kemampuan Hendra/Ahsan yang tidak keluar, tetapi kami mengakui lawan bermain bagus.
Apakah bisa dibilang lawan tampil lepas menghadapi Hendra/Ahsan yang merupakan ganda putra terbaik dunia?
Betul, Tan/Hoon tampil tanpa beban, mereka mainnya lepas. Hendra/Ahsan lebih diunggulkan dan menjadi tumpuan untuk menyumbang angka sehingga bisa menahan laju Malaysia. Tekanan pasti ada, tetapi seharusnya Hendra/Ahsan bisa mengatasi tekanan. Posisi Tan/Hoon juga lebih enak karena Malaysia sudah unggul 1-0.
Sehari sebelumnya, Hendra/Ahsan bertanding cukup ketat melawan pasangan Korea. Apakah ini mempengaruhi penampilan melawan Malaysia?
Hendra/Ahsan dalam kondisi fit, tidak ada masalah dengan stamina yang terkuras. Pada pertandingan tadi memang lawan lebih lepas dan kami kurang beruntung. Intinya kami harus banyak berbenah, harus lebih kerja keras lagi. Bukan cuma di nomor tunggal, ganda pun demikian.
Apa yang harus dilakukan jelang Piala Thomas 2016?
Kami harus mempersiapkan regenerasi, tak bisa selalu mengandalkan Hendra/Ahsan. Angga Pratama/Rian Agung Saputro masih turun naik. Kami akan mempersiapkan pasangan muda, seperti Ricky Karanda Suwardi/Berry Angriawan dan Wahyu Nayaka Arya Pankaryanira/Ade Yusuf. Sayang Ricky/Berry belum dapat kesempatan turun di Piala Thomas ini, tapi mereka dapat pengalamannya berada di tim Thomas.
Apa yang harus diutamakan dalam proses regenerasi?
Jam terbang sangat penting. Saya rasa pengalaman pemain muda, seperti Ricky/Berry dan Wahyu/Ade, masih kurang. Kami optimistis ganda putra bisa lebih maju. Mencetak pasangan ganda tidak semudah tunggal. Kalau diperhatikan, usia kematangan pemain ganda rata-rata di atas 24 tahun. Coba perhatikan ganda-ganda terbaik dunia, seperti Hendra/Ahsan, Cai Yun/Fu Haifeng (China), Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark). Nomor ganda itu lebih rumit, menyatukan dua karakter jadi satu.