Melawan juniornya tersebut, Tommy mengaku kesulitan di awal game. Beberapa kali Tommy kalah dalam kecepatan, sehingga Jonatan mampu menampilkan determinasi untuk menjangkau celah kelemahannya. Usia yang lebih muda pun diakui sebagai salah satu keunggulan atlet yang di usia 15 tahun tersebut memenangkan gelar Indonesia International Chalenge.
Tommy yang merupakan unggulan kedua tunggal putra pun dibuat kewalahan dengan permainan cepat Jonatan. Terbukti, Tommy sempat takluk di set pertama dengan 10-21, namun kemudian unggul dengan skor sama 21-12 di set kedua dan set penentuan.
"Awal game memang saya terlambat panas. Dia (Jonatan) langsung main cepat dan bis unggul," ungkapnya usai babak perempatfinal.
Namun secara perlahan, Tommy yang unggul pengalaman mampu mengatasi tekanan tersebut dan bermain lebih efektif. Tommy bermain cerdik dengan mencari celah tersempit untuk melakukan serangan tanpa membuang banyak tenaga.
"Faktor terlambat panas tadi yang menjadi salah satu kelengahan saya. Tapi, dia juga main bagus dan sempat menyulitkan," imbuhnya.
Jeda yang hanya satu hari menjelang semifinal bakal dimanfaatkan untuk lebih fokus lagi menyusun strategi. Pasalnya, dia akan kembali berhadapan dengan pebulutangkis muda, Wisnu Yuli Prasetyo, yang mengalahkan andalan asal Malaysia, Iskandar Zulkarnain Zainuddin.
"Nanti kita benahi beberapa kekurangan yang ada. Yang jelas, saya semakin merasa ada grafik kemajuan soal permainan sejak di kualifikasi lalu," pungkas Tommy.