Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Rexy Mainaky, menilai bahwa sistem rangkap bisa diterapkan kepada pemain-pemain muda. Selain itu, sistem rangkap pemain itu sendiri memang sudah di rencanakan oleh PBSI dan akan mulai dibahas di jajaran pelatih.
"Jadi kita akan berfikir ke situ (main rangkap), tapi mungkin kita akan mulai dari usia muda. Nah makanya nanti Jumat ini saya akan bertemu dengan pelatih, saya akan bicarakan lagi dan akan saya tegaskan di sini. Jadi nanti jelas siapa yang main rangkap dan siapa yang akan tanding," jelas Rexy, Kamis (07/01/15).
Namun begitu, menurunkan pemain untuk bermain rangkap bagaikan pedang bermata dua, ada nilai positif dan negatifnya bagi para atlet yang bermain rangkap. Rexy menilai, para pemain yang bermain rangkap kerap mengalami cedera.
"Sekarang kita bisa bilang gini, ada plus minusnya main rangkap. Ya mungkin orang melihat China main rangkap, tapi ujung-ujungnya kamu lihat kan akhirnya setiap akhir tahun Zhao Yunlei cedera, Zhang Nan cedera. Semua itu kan cedera.
Contohnya juga kita kembali dulu, Hendra pernah main rangkap juga. Ujung-ujungnya dia give up (sering cedera). Ini kita juga harus lihat dari segi atletnya juga," sambung pasangan dari Ricky Soebagdja ini.
Penerapan untuk bermain rangkap sendiri memang sudah di programkan oleh PBSI. Namun, pada perinsipnya akan ditegaskan lagi siapa-siapa yang memang akan bermain rangkap.
"Harus jelas ini pemainnya, jangan kirim-kirim pemain hanya untuk main saja, gak ada tujuan. Kita mau main rangkap ada tujuan juga," ungkap Rexy.
"Jadi jangan hanya orang bilang ya untuk buat masyarakat senang, oh ternyata Indonesia main rangkap juga. Nah itukan gak bagus juga," sambung Rexy.
Pemain rangkap akan diterapkan pada pemain lapis satu ataupun pemain lapis dua, yang rata-rata dihuni oleh para pemain-pemain muda.
"Saya kira bukan pemain baru, pemain yang layer berikutnya. Ada yang Olimpian layer, first layer terus second layer. Second layer ini termasuk pemain muda yang sudah ada, dan juga pemain baru," imbuhnya.
Lebih jauh Rexy menambahkan, untuk sementara ini PBSI hanya bisa menerapkan sistem rangkap ini hanya sampai April 2016.
Alasannya sementara ini PBSI tengah fokus kepada pemain-pemain yang akan diloloskan ke Olimpiade Rio de Janeiro.
Karena jika dilakukan secara random, takutnya malah akan merusak program yang telah dibuat oleh PBSI.