Audisi di Surabaya yang digelar di GOR Sudirman, Surabaya, 23-25 April diikuti 380 anak. Meloloskan 21 atlet, yakni finalis U-13 Putri, finalis U-15 Putri, semifinalis U-13 Putra dan semifinalis U-15 Putra. Selain itu, ada sembilan atlet yang lolos setelah mendapat Super Tiket Pilihan Tim Pencari Bakat.
Sembilan pemain tersebut lolos bukan berdasar hasil turnamen, namun murni pengamatan tim pencari bakat yang melihat potensi mereka. Semula tim pencari bakat hanya memilih delapan atlet lewat jalur ini. Tapi ada dua atlet yang harus bersaing di babak penentuan. Mereka adalah Rahma Elvira Jowitasari asal Mojokerto dan Salgea Saptania Fransisca asal Sidoarjo
Keduanya harus unjuk kemampuan kembali di lapangan. Rahma dan Salgea diadu akurasi pukulan drop-shot. Hasilnya, Rahma memenangkan adu drop-shot dengan memasukkan empat shuttlecock ke keranjang. Namun, tim pencari bakat memberi Salgea 'door prize' berupa Super Tiket di dalam tasnya. Dengan demikian total ada sembilan atlet lolos berdasar keputusan tim pencari bakat.
Jika melihat hasil audisi di Surabaya tersebut, Kab Gresik merupakan daerah terbanyak pebulutangkisnya yang terpilih. Gresik mampu mengalahkan Surabaya yang hanya meloloskan 2 atlet saja. Kedua atlet itu adalah Satriya Prayu Nakula Putra dan Priyo Gesang Katon. Padahal, Surabaya terkenal dengan sebutan gudangnya pebulutangkis. Dari Surabaya lahir pebulutangkis kelas dunia macam Alan Budi Kusuma, Sony Dwi Kuncoro hingga legenda Indonesia Rudy Hartono.
"Surabaya itu lumbung perbulutangkisan nasional yang selalu menyumbangkan atlet-atlet nasional. Tapi, tahun ini atletnya yang lolos hanya dua saja. Tentu, kami tidak bisa memaksakan mereka mendaftar dan tidak bisa pula melarang mereka mendaftar," ujar salah satu pemandu bakat dari PB Djarum Fung Permadi kepada awak media seusai usai pengumuman peserta yang lolos audisi dari Surabaya.
Meski demikian, Fung optimistis atlet yang lolos ke Kudus nanti akan semakin terasah karena mendapatkan pengarahan dari pelatih-pelatih profesional. "Mereka akan ditangani pelatih dan legenda bulutangkis Indonesia. Kami harapkan mereka akan menjadi pebulu tangkis masa depan Indonesia," kata mantan pemain bulu tangkis Indonesia di era 1990-an ini.
Sementara itu kritik datang dari salah satu legenda bulutangkis Indonesia, Liem Swie King. Ia menyatakan sejak eranya Sony Dwi Kuncoro, praktis tidak ada lagi yang bisa mengikuti jejak.
"Saya belum menemukan atlet yang spesial. Saya tidak tahu ini faktor apa. Tapi dari kategori kelompok umur (KU) 13 dan 15 tahun, sejak hari pertama belum ada yang terlihat menonjol," sebutnya.