Kegagalan tim muda Indonesia meraih target di Kejuaraan Junior Asia 2016, langsung dievaluasi oleh PBSI. Sebelumnya para tunas muda dibekali target untuk mencapai partai final.
Namun, perjalanan Indonesia harusterhenti di babak perempatfinal usai kalah 1-3 dari Korea Selatan. Meski demikian Fing Permadi selaku Manajer Tim Indonesia mengaku perjuangan para pemain sudah maksimal.
“Dilihat dari target memang kita tidak bisa mencapai hal itu. Saya akui sebagai tanggung jawab saya. Tapi saya lihat para atlet juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Dari susunan tim pun, ini sudah merupakan komposisi terbaik yang bisa diturunkan,” kata Fung dalam rilis yang diterima INDOSPORT.
Fung melihat para pemain memiliki mental yang kurang cakap. Padahal kesempatan untuk menang terbuka cukup lebar.

Pasangan Muhammad Fachrikar/Rinov Rivaldy dinilai kurang mampu menjaga mental saat bertanding.
Saat pertandingan beregu pasti ada tekanan harus menang, tekanan bahwa ini pertandingan beregu, bahwa kekalahan bisa mempengaruhi kondisi tim. Itu menjadi tekanan sendiri. Di sinilah mental para atlet diuji,” jelas Fung
Hal ini juga diakui oleh Chief de Mission tim Indonesia, Achmad Budiharto. Budiharto mengatakan bahwa para pemain Indonesia harus lebih meningkatkan kepercayaan diri dan tampil lebih gigih.
Sebenarnya peluang menang melawan Korea itu terbuka. Namun menurut kacamata saya, kegigihan anak-anak kurang ditunjukkan. Terlalu gampang kehilangan poin. Itu yang harus banyak dipelajari pemain-pemain muda,” kata Budiharto.
Selain itu, Budiharto juga menilai bahwa para pemain cepat putus asa dan ditunjukan dari bahasa tubuh mereka. Hal ini dilihat Budiharto cukup berbahaya karena pemain lawan akan mudah mengetahuinya.