Liliyana Natsir mengakui harapan mempersembahkan emas di ajang Olimpiade yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia membuatnya tegang.
Atlet yang akrab disapa Butet ini juga mengakui permainannya di awal laga kurang memuaskan karena ketegangan yang ia rasakan. Beruntung ia dapat merubah keadaan dan bermain lebih baik setelah cukup 'panas'.
Namun demikian, pada set kedua performa Butet kembali menurun. Ia bahkan sempat ngedrop saat Chan/Goh nyaris mengejar 12-10.

“Waktu di game kedua, kondisinya itu kami lebih enak untuk menyerang, kalau main bertahan agak kurang aman. Jadi waktu di depan net, bagaimana caranya saya harus menurunkan bola," kata Liliyana dalam keterangan pada PBSI.
"Tetapi ternyata sudah dijagain oleh lawan, saya yang maksa menurunkan bola, malah jadi mengangkat bola, saya terpancing dan buru-buru,” kata Liliyana.

Beruntung Tontowi membuatnya kembali tenang sehingga dapat kembali bermain prima. Menurut Butet, Owi mengatakan padanya akan mem-back up di belakang.
"'Ci Butet tenang aja, jaga di depan. Cici lebih unggul kok (permainan) depannya’. Kata-kata Owi ini membuat saya makin semangat dan percaya diri," terangnya.

"Setelah break, saya rileks saja, toh di game pertama saya sudah menang juga, seharusnya lawan yang under pressure,” ungkap Liliyana.
Kekompakan Liliyana dan Tontowi akhirnya berbuah manis. Tak hanya berhasil meraih satu-satunya medali emas untuk kontingen Indonesia dan memberi kado terindah untuk HUT RI ke 71, Tontowi/Liliyana juga memecahkan rekor untuk sektor ganda campuran yang akhirnya sukses mencetak prestasi emas di olimpiade, setelah sebelumnya dua kesempatan emas di final gagal diraih di Olimpiade Sydney 2000 dan Olimpiade Beijing 2008.