Sigit Pamungkas pernah membawa pasangan ganda putra andalan Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan meraih medali emas di ajang Olimpiade Beijing 2008.
Namun, meski Indonesia kerap meraih prestasi gemilang di panggung dunia, Sigit menyebut jika Malaysia lebih maju dalam menerapkan sport science untuk pengembangan para atlet mereka, termasuk para pebulutangkis muda.
“Saya sedang mengamati betul perkembangan bulutangkis di sini (Malaysia), yang paling menonjol dan harus kita tiru,” ujar Sigit Pamungkas kepada INDOSPORT.
“Yang terlihat menonjol di sini yakni visinya, kemudian untuk kemajuan atlet, sport science-nya sangat menonjol dan di ke depankan,” tandasnya.
Saat ini, Sigit sendiri tengah menemani salah satu anak asuhnya, pebulutangkis muda Indonesia yang bermain untuk klub Malaysia. Ia pun memberikan penilaiannya untuk klub-klub bulutangkis di Negeri Jiran yang perkambangannya ternyata lebih maju ketimbang klub-klub bulutangkis di Tanah Air.
“Mereka sudah lebih dahulu menerapkan sport science dibanding kita. Sekarang kita belum pakai, sudah mulai diterapkan tapi saya belum lihat sampai ke bawah pembinaan bulutangkis se-Indonesia,” lanjut Sigit.
“Di sini, klub-klub sudah maju sport science-nya, kalau di kita belum kelihatan. Hanya segelintir klub saja yang mungkin sudah terapkan,” tambahnya.
Malaysia menjadi salah satu lawan tangguh Indonesia di jagat bulutangkis. Para pemain muda mereka tak bisa dipandang sebelah mata, selain pemain veteran Negeri Jiran seperti Lee Chong Wei, yang masih menjadi raja di nomor tunggal putra dunia.
Hal tersebut dibuktikan saat pasangan ganda campuran muda mereka, Peng Soon Chan/Liu Ying Goh meraih medali perak di Olimpiade Rio 2016, usai ditaklukan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Jika Indonesia tak memperbaharui pembinaan atlet muda di level klub, bukan mustahil Malaysia bisa mempecundangi Indonesia dengan prestasi mentereng bulutangkis mereka.