Ketum PBSI: Indonesia Harus Rebut Kembali Kejayaan Bulutangkis Dunia!

Rabu, 11 Januari 2017 20:48 WIB
Editor: Yohanes Ishak
© Herry Ibrahim/INDOSPORT
Ketua umum Persatuan Bulutangkis Seluru Indonesia (PBSI) Wiranto. Copyright: © Herry Ibrahim/INDOSPORT
Ketua umum Persatuan Bulutangkis Seluru Indonesia (PBSI) Wiranto.

Ajang Djarum Superliga 2017 yang akan berlangsung 19-26 Februari 2017 mendatang di GOR DBL Arena, Surabaya memang menjadi salah satu ajang yang cukup bergengsi karena menghadirkan sejumlah pemain dunia.

Rupanya kehadiran ajang tersebut pun diapresiasi oleh ketua umum PBSI, Wiranto. Ia menilai kejuaraan Djarum Superliga bisa menjadi ajang pemain muda Indonesia untuk menimba pengalaman dan mengasah kemampuannya.

“Sekarang ini badminton sudah mendunia, karenanya bibit pemain Indonesia harus diberi pengalaman untuk bertemu dengan pemain dunia, salah satunya dengan melalui Djarum Superliga ini,” ujarnya saat ditemui di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.


Ketua Umum PBSI, Wiranto (tengah) dalam konfrensi pers.

“Karena setiap klub memakai pemain dunia maka secara tidak langsung mereka memberikan kesempatan pemain Indonesia untuk bertemu dengan pemain dunia. Artinya pemain junior bisa punya pengalaman dan ini sangat baik,” sambung pria 69 tahun tersebut.

Wiranto juga menegaskan bahwa dengan banyaknya kejuaraan berkelas maka akan membuat kemampuan pebulutangkis Indonesia semakin meningkat. Hal tersebut juga akan membawa dampak positif untuk mengembalikan kejayaan Indonesia di kancah bulutangkis dunia.

“Mudah-mudahan ada simbiosis mutualisme antara pengurus pusat PBSI dengan para sponsor yang sama-sama punya keinginan untuk memajukan bulutangkis Indonesia,” tutur Wiranto.

“Kembali merebut kejayaan bulutangkis dunia bagi Indonesia, dan itu sangat mungkin karena ini permainan rakyat di samping sepakbola. Kalau kita jeli melihatnya akan ada banyak bibit baru dari daerah dan dapat dipoles jadi pemain dunia,” tutup pria yang juga merupakan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia.

67