Thailand Masters 2017

Tak Ada Semangat Menang, Ganda Putri Indonesia Sulit Jadi Juara

Senin, 13 Februari 2017 11:55 WIB
Penulis: Lanjar Wiratri | Editor: Ramadhan
© PBSI
Selebrasi Greysia Polli dan Rosyita Eka Putri Sari. Copyright: © PBSI
Selebrasi Greysia Polli dan Rosyita Eka Putri Sari.

Indonesia memiliki 4 wakil untuk sektor ganda putri di Thailand Masters 2017 kemarin, yakni Greysia Polii/Rosyita Eka Putri Sari, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani, Tiara Rosalia Nuraidah/Rizki Amelia Pradipta, dan Della Destiara Haris/Apriani Rahayu.

Namun hanya pasangan ganda putri anyar, yakni Greysia/Rosyita yang sukses mencapai babak semifinal.

Sayangnya, di partai semifinal, Greysia/Rosyita harus mengakui keunggulan wakil China, hen Qingchen/Jia Yifan dalam dua set langsung dengan skor 16-21 dan 7-21.

Pelatih ganda putri Indonesia, Eng Hian, pun mengaku cukup kecewa dengan hasil tak maksimal yang diperoleh anak-anak asuhnya tersebut.

“Secara keseluruhan, saya merasa tidak puas dengan pencapaian tim ganda putri di turnamen ini. Apa yang sudah dilakukan selama persiapan, latihan, capek, sakit, semua hasilnya tidak terlihat,” ujar Eng seperti rilis resmi PBSI yang diterima INDOSPORT.

“Teknik itu bisa keluar kalau atlet bisa mengatasi diri sendiri dan situasi di lapangan. Lawan mana ada yang mau ngasih kemenangan ke kita? Nah cara mengatasi masalah ini yang saya belum bisa lihat."


Ganda putri Indonesia belum menunjukkan fighting spirit di ajang Thailand Masters

"Misalnya di pertandingan Greysia/Rosyita di semifinal, give up begitu saja adalah suatu hal yang tidak bisa diterima. Saya tidak mengutamakan hasil, tetapi proses."

"Mau kalah dapat angka tujuh atau delapan tetapi perjuangannya mati-matian ya saya mengerti."

Meski kecewa, Eng Hian masih memberikan apresiasi bagi permainan pasangan ganda putri, Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istirani.

Pria berusia 39 tahun tersebut menganggap Angia/Ketut mampu menunjukkan penampilan maksimal mereka meskipun akhirnya mereka terpaksa mundur di game ketiga karena Ketut mengalami sesak napas.

“Ada poin plus untuk Anggia/Ketut dari 4 pasangan ini. Mereka progresnya kelihatan, dari persiapan hingga tanding, semua sesuai dengan harapan saya."

"Saya tidak mau mendahului kehendak Tuhan, kalau Ketut tidak sesak nafas dan bisa bermain normal, saya rasa mereka bisa menang."

Greysia Polli bersama sang pelatih, Eng Hian.

“Bisa dibilang fighting spirit untuk mencapai kemenangan itu saya belum lihat. Masih banyak PR di ganda putri. Untuk meningkatkan kualitas mereka dan mengharapkan jadi juara itu masih jauh sekali."

"Grup pelatnas utama ini berat. Bicara seorang juara itu bukan cuma sekali-sekali juara, tetapi konsisten, misalnya seperti pasangan Jepang yang juara Olimpiade kemarin (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi)."

"Kalau tidak ada kemauan dari diri sendiri untuk maju dengan disiplin, menambah porsi latihan, ya sulit."

“Saya akan lihat selama enam bulan ini, kalau tidak ada perubahan, tidak ada progres positif, akan saya rombak semua. Saya akan mengharapkan pemain-pemain pratama saja,” tutup Eng Hian.

Di Thailand Masters 2017 sendiri, Indonesia hanya berhasil membawa pulang satu gelar lewat Tommy Sugiarto di sektor tunggal putra. 

Pada laga final yang berlangsung di Nimibutr Stadium, pebulutangkis berusia 28 tahun itu mengalahkan wakil tuan rumah, Kanthapon Wangcharoen lewat dua game langsung, 21-17, 21-11.

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%