Hari ini, Kamis (04/05/17), Indonesia akhirnya resmi merilis 20 pemain yang akan masuk dalam tim inti untuk mengikuti di Piala Sudirman 2017. Sebanyak 10 atlet putra dan putri siap membawa Merah Putih terbang tinggi di ajang tersebut.
Turnamen campuran beregu dua tahunan edisi kali ini akan berlangsung di Gold Coast, Australia. Dua arena, Carrara Sport and Leisure Centre akan menjadi saksi bisu turnamen bergengsi ini pada 21 hingga 28 Mei mendatang.
Jauh sebelumnya, Indonesia sudah pernah mendapatkan kesempatan menyelenggarakan atau menjadi tuan rumah ajang Piala Sudirman, tepatnya pada 24-29 Mei 1989 silam di Jakarta. Piala Sudirman 1989 di Jakarta merupakan yang pertama kalinya digelar.
Sejarah munculnya ajang Piala Sudirman memang tak lepas dari Indonesia. Nama Sudirman sendiri diambil dari nama Dick Sudirman, yang merupakan mantan pemain nasional dan salah satu pendiri induk organisasi bulutangkis Tanah Air, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sekaligus mantan ketua PBSI pada tahun 1952 hingga 1963 dan di tahun 1967 hingga 1981.
Trofi Piala Sudirman yang berbentuk sangat unik dengan corak khas Indonesia tersebut dirancang oleh Rusnadi dari Fakultas Seni Rupa ITB dan terdiri dari lima bagian. Memiliki tinggi 80 cm, di bagian puncak piala tersebut (tutup piala) terdapat ukiran replika Candi Borobudur yang terbuat dari perak dan dibalut oleh emas 22 karat.
Lalu, badan piala berbentuk shuttlecock (bola bulutangkis) yang juga berlapiskan emas 22 karat dengan berat 600 gram. Sementara pegangan piala berbentuk benang sari. Bagian keempat berbentuk daun sirih yang merupakan ornamen ucapan selamat datang.
Kemudian bagian kelima berupa alas berbentuk segi delapan atau oktagon yang melambangkan arah mata angin yang terbuat dari kayu jati. Piala ini dikerjakan perusahaan bernama PT. Masterix Bandung dengan harga 15.000 dolar (sekitar Rp27 juta) di kala itu.
Kiprah Indonesia di Piala Sudirman
Pada gelaran Piala Sudirman 1989, Indonesia menjadi tuan rumah. Tim Merah Putih sukses menjadi juara setelah berhasil mengalahkan Korea dengan skor tipis 3-2. Disusul oleh Tiongkok dan Denmark. Sayangnya setelah berhasil meraih gelar di edisi pertama, Piala Sudirman belum pernah lagi bisa dibawa pulang ke Tanah Air hingga hari ini.
Indonesia gagal mempertahankan Piala Sudirman di tahun 1991 dan 1993 setelah dipaksa mengakui keunggulan Korea 2-3 di final. Sementara di tahun 1995, Indonesia dipaksa mengakui keunggulan Tiongkok dengan 1-3. Ini menjadi kali pertama Tiongkok berhasil membawa pulang Piala Sudirman.
Selanjutnya di tahun 1997 dan 1999, Indonesia harus terhenti di babak semifinal. Harapan untuk membawa pulang Piala Sudirman sempat muncul di tahun 2001, saat tim merah putih sukses menembus babak final Piala Sudirman di Sevilla, Spanyol. Namun, lagi-lagi tim merah putih berhasil dijegal oleh Tiongkok, saat itu dengan 1-3 di partai puncak.
Dua tahun berikutnya, di Eindhoven, Belanda, Indonesia kembali harus menjadi semifinalis setelah ditaklukan oleh Tiongkok dengan 1-3. Di tahun 2005 dan 2007, Indonesia kembali berhasil menembus partai final. Namun, pasukan tirai bambu masih terlalu dominan. Punggawa dan srikandi tanah air dipaksa akui keunggulan Tiongkok dengan 0-3.
Trofi Piala Sudirman.Di tahun 2009 dan 2011, Indonesia kembali harus terhenti di semifinal. Di Guangzhou, Tiongkok Indonesia dipaksa menyerah 1-3 oleh Korea, sementara di Qingdao, Indonesia dipaksa mengakui keunggulan Denmark dengan 1-3.
Catatan terburuk tim Piala Sudirman Indonesia terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2013. Hal ini menjadi kenangan buruk setelah tim merah putih harus terhenti di perempat final dengan skor tipis 2-3 atas Tiongkok. Dan di gelaran terakhir Piala Sudirman di Qingdao, Tiongkok 2015 lalu, Indonesia kembali terhenti di semifinal setelah dipaksa menyerah 1-3 oleh tim tuan rumah.
Dari 14 kali gelaran, tercatat hanya tiga negara yang pernah membawa pulang Piala Sudirman. Indonesia di tahun 1989, Korea di tahun 1991, 1993 dan 2003 dan Tiongkok menjadi dominator setelah berhasil membawa pulang piala ini sebanyak 10 kali, enam diantaranya beruntun sejak tahun 2005 hingga 2014 lalu.
Sedangkan Denmark berhasil dua kali menjadi runner up, dan Jepang berhasil menjadi runner up dua tahun silam. Sementara itu catatan terbaik Malaysia, Inggris dan Thailand adalah mencapai babak semifinal. Inggris sukses menjadi semifinalis di tahun 2007, Malaysia di tahun 2009 dan Thailand di tahun 2013.