Kesalahan-kesalahan yang Harus Dimusnahkan Tunggal Putri Indonesia
INDOSPORT.COM- Disaat tunggal putra Indonesia berjaya, tunggal Putri, justru kian melempem setiap harinya. Apa penyebabnya? Dan apa yang harus diperbaiki?
Dalam beberapa tahun terakhir, tunggal putri Indonesia yang digawangi oleh Gregoria Mariska, Fitriani dan Ruselli Hartawan terus mendapatkan kritik pedas. Alasannya, mereka tak mampu menorehkan catatan positif saat mengikuti berbagai turnamen.
Bukan hanya di turnamen saja. Keterpurukan ini juga mereka alami bila menilik rangking dunia untuk sektor tunggal putri dunia.
Gregoria yang pada awalnya digadang-gadang akan menjadi andalan, justru saat ini rangkingnya terjun bebas hingga peringkat ke-17 per tanggal 28 September 2019. Begitupula dengan Fitriani yang stagnan di posisi ke-30.
Mungkin hanya Ruselli yang hingga kini peringkatnya masih bisa dikatakan cukup bagus karena terus menanjak. Itupun masih berada di peringkat ke-36.
Artinya, tidak ada satupun dari pebulutangkis putri Indonesia yang berhasil menembus--setidaknya--10 besar dalam rangking dunia BWF. Mengapa bisa begini? Apa penyebabnya? Apa yang perlu diperbaiki?
Untuk menjawab seluruh pertanyaan tersebut, redaksi berita olahraga INDOSPORT pun coba mengulasnya. Berikut ulasannya.
Konsistensi Selalu Jadi Momok Menakutkan
Tidak bisa dipungkiri bahwa konsistensi menjadi momok yang menakutkan bagi tunggal putri Indonesia. Contohnya, ialah Gregoria.
Pada kompetisi Chinese Taipei Open 2019, Gregoria sukses melaju hingga babak perempatfinal. Sebelumnya, ia sukses mengalahkan Cheung Ngan Yi dan Sabrina Jaquet. Sayang, saat bertemu wakil Korea Selatan, Sung Ji Hyun, Gregoria harus takluk saat dipaksa bermain tiga set.
Pencapaian apik Gregoria, nyatanya tidak berlanjut saat mengikuti kejuaraan China Open 2019. Pebulutangkis 20 tahun ini hanya mampu menembus 32 saja, atau babak pertama.
Menariknya, saat di kejuaraan Korea Open 2019 yang hanya berselang beberapa hari setelahnya, Gregoria kembali sukses menuju perempatfinal usai mengalahkan wakil Malaysia, Soniia Cheah dan wakil Korea Selatan, Kim Ga Eun. Langkah Gregoria sendiri terhenti saat bertemu wakil Chinese taipei Tai Tzu Ying.
Mental dan Stamina Harus Diperbaiki
Untuk urusan mental dan stamina tunggal putri, memang selalu menuai perdebatan. Tak sedikit yang mengatakan, itulah kelemahan sesungguhnya para pebulutangkis putri Tanah Air saat ini.
Bahkan, legenda putri Indonesia, Lidya Djaelawijaya pernah meminta Riony Mainaky, selaku pelatih tunggal putri untuk memperbaiki kekurangan itu.
"Kak Riony memiliki tugas yang ekstra untuk melatih fisik serta mental tunggal putri Indonesia. Pukulan dan skill pebulutangkis Indonesia itu lebih baik sebenarnya, hanya saja daya juangnya sangat kurang," ucapnya kepada INDOSPORT bulan Agustrus lalu.
Bila menilik pertandingan tunggal putri Indonesia, hal tersebut bisa dibilang adalah kelemahan utama para pebulutangkis kebanggan Tanah Air ini.
Dalam turnamen tersebut, ia dikalahkan oleh pebulutangkis Amerika Serikat setelah bermain tiga set selama 41 menit. Begitupula di Chinese Taipei Open 2019 saat Gregoria dikalahkan wakil Korea Selatan dengan tiga set.