Piala Bhayangkara 2016

Stadion Dipta Pun Sisakan Tempat Untuk Beribadah

Jumat, 25 Maret 2016 16:38 WIB
Kontributor: Ian Setiawan | Editor: Hendra Mujiraharja
© Ian Setiawan/INDOSPORT
Suporter Arema Cronus mewarnai Stadion I Wayan Dipta. Copyright: © Ian Setiawan/INDOSPORT
Suporter Arema Cronus mewarnai Stadion I Wayan Dipta.

Stadion Kapten I Wayan Dipta di Gianyar, sekilas tak beda jauh dengan stadion lainnya di Pulau Jawa atau daerah lainnya. Bangunan tribun untuk penonton tergabung menjadi satu mengelilingi lapangan, dan hanya sisi barat yang memiliki atap (VIP).

Perbedaan terlihat ketika di dalam, saat menjumpai ada Pura kecil yang berada di atas tribun sisi utara, yang biasanya diramaikan oleh ribuan Aremania. Pura sebagai tempat beribadah itu sudah ada sejak ditempati klub Persegi Gianyar tahun 1990-an silam.

"Di Bali, setiap desa memiliki Pura yang besar dan kecil. Yang di atas tribun itu, salah satu pura kecil untuk ibadah per orang," tutur Ida Bagus Mahendra, salah satu rekan jurnalis media cetak lokal Bali kepada INDOSPORT.

Pura di dalam stadion itu pun dimaksudkan agar para penonton bisa menonton pertandingan sepak bola tanpa mengganggu waktu ibadah. Dalam kepercayaan Hindu, dalam satu hari para umat menjalani ibadah Tri Sadya yang masing-masing dilaksanakan pasa pukul 6 pagi, 12 siang dan 6 malam.

"Kalau seperti sekarang (Turnamen Piala Bhayangkara), penonton sudah di tribun dari jam 3 sampai 9 karena dua pertandingan. Mereka bisa melaksanakn ibadah Tri Sadya yang malam," imbuh Indra, panggilan akrabnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa proses ibadah pada pura itu dimulai dengan menemui seorang Mangku Pura. Setelah diberi izin, seseorang dapat beribadah di pura Stadion Dipta dengan dipandu doa-doa dari sang Mangku.

"Mangku Pura itu seperti juru kunci pura. Beliau yang menjaga pura sekaligus memberi izin seseorang yang ingin beribadah sekaligus memandu doa-doanya," terangnya.

217