101 Tahun PSM Makassar: Dari MVB hingga Lahirkan Legenda Sepakbola Indonesia

Rabu, 2 November 2016 18:51 WIB
Editor: Gerry Anugrah Putra
 Copyright:
Ramang, Dewa PSM Makassar Sepanjang Masa

Terlahir dengan nama Andi Ramang pada 24 April 1924, nama Ramang saat ini sudah mendunia sebagai legenda sepakbola yang diakui oleh FIFA. Bermain sepakbola sejak kecil, Ramang masuk ke skuat MVB (nama lama PSM) pada tahun 1947. Saat itu dia bermain untuk klub internal MVB, yakni Persatuan Sepakbola Induk Sulawesi (Persis).

Dirinya dilirik masuk skuat utama MVB saat mencetak banyak gol dalam satu musim kompetisi internal MVB tahun 1947. Hasil tersebut membuat Ramang diminati pengurus MVB untuk memperkuat tim utama di turnamen-turnamen sepakbola yang dibuat oleh pemerintah Jepang.

Yang menarik Ramang pernah ditawari bekerja sebagai opas di Departemen Pekerjaan Umum (DPU) Makassar. Gajinya saat itu tak pernah naik dan tak pernah turun, stuck di angka Rp3.500,-. Namun, Ramang mendapat keistimewaan, yakni bisa bermain sepakbola memperkuat PSM dan Timnas Indonesia.

Ramang memang istimewa, dia punya kemampuan untuk mencetak gol dengan posisi yang tak terduga. Bahkan ia mampu mencetak gol dari sudut yang sempit dan bahkan dengan gaya khas pemain jago saat itu, tendangan salto.

Kejayaan Ramang ada pada tahun 1956 dan 1957. Saat itu, Ramang menjadi pesepakbola top dengan menjadi andalan Timnas Indonesia dan juga PSM Makassar. Bersama dengan rekan-rekannya di Timnas Indonesia, Ramang dkk mampu menahan tim kuat Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956. Bahkan, kiper yang jadi legenda dunia, Lev Yashin, pun hampir dibuat malu. Ramang hampir membobol gawang Uni Soviet jika saja kausnya tak ditarik oleh pemain belakang Soviet.

Di tahun 1957, Ramang berhasil mempersembahkan gelar juara Perserikatan PSSI. PSM yang dipimpin Ramang tak terbendung pada tahun tersebut. Akan tetap, kariernya sebagai pesepakbola tergolong cepat. Tahun 1960 dirinya dituduh terlibat suap dan dijatuhi skorsing. Namanya pun perlahan menurun dan digantikan beberapa bintang muda baru seperti Soetjipto Soentoro dari Persija atau Rukma dari Persib Bandung.

Tahun 1962, dirinya kembali memperkuat PSM Makassar, namun pamornya sudah terlanjur jatuh. Usia 40 tahun, tepatnya tahun 1964, Ramang terakhir membela PSM Makassar menghadapi PSMS di Medan. Sejak saat itu, dirinya pensiun dari PSM. Ramang meninggal tahun 26 September 1987, di usia 59 tahun, sang legenda meninggal dunia di rumahnya yang sangat sederhana yang ia huni bersama anak, menantu dan cucunya yang semuanya berjumlah 19 orang. 

Meski demikian, generasi sepakbola Makassar masih ingat dengan jasa Ramang sebagai pemain besar PSM. Namanya bak dewa bagi Juku Eja. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya patung Ramang di Lapangan Karebosi. Untuk menghormati Ramang, hingga saat ini, PSM punya julukan lain selain Juku Eja, yakni Pasukan Ramang.

534