In Depth Sports

Sepakbola Jadi Alat Mesir untuk Bangkit Usai Alami The Arab Spring

Selasa, 24 Januari 2017 19:06 WIB
Editor: Galih Prasetyo
© Onze/Issue
Pemain Timnas Mesir (kiri) saat berduel dengan pemain Senegal di perhelatan Piala Afrika 1986. Copyright: © Onze/Issue
Pemain Timnas Mesir (kiri) saat berduel dengan pemain Senegal di perhelatan Piala Afrika 1986.
Ingin mengulang memori 1974 dan 1986

Mesir tidak hanya satu kali mengalami sebuah aksi revolusi di bidang politik. Pada 1952 misalnya, sejumlah gerakan perwira muda yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser melakukan revolusi untuk gulingkan kekuasaan Raja Faruq. 

Selang 22 tahun kemudian, Timnas Mesir hampir meraih titel pertamanya di Piala Afrika. Bertindak sebagai tuan rumah Piala Afrika 1974, Ali Abo Greisha cs harus puas sebagai juara ketiga event tersebut. 

Mesir 1974 gagal ke partai puncak usai dikalahkan Zaire di babak semifinal. Zaire sendiri akhirnya keluar sebagai juara usai kalahkan Zambia di laga final yang masih menggunakan sistem home and away

Sebenarnya Mesir sudah pernah meraih titel juara Afrika pada 1957 dan 1959, namun saat itu mereka masih menggunakan nama Republik Uni Afrika. 

Pada perhelatan Piala Afrika 1986, Mesir yang kembali menjadi tuan rumah sukses meraih titel Piala Afrika. Bertemu Kamerun yang saat itu diperkuat oleh bintang mereka, Roger Milla, Taher Abouzaid cs sukses pecundangi mereka lewat babak adu penalti usai di waktu normal hanya mampu bermain tanpa gol. 

Piala Afrika 2017 ini, Mesir pun berupaya untuk kembali meraih titel juara di tengah kondisi dalam negeri yang masih berada di kondisi transisi secara politik, sosial, dan budaya. Sama persis yang mereka alami usai revolusi 1952. 

418