Mengajak Bekraf Berperan di Pemberdayaan Suporter

Jumat, 24 Maret 2017 11:58 WIB
Editor: Galih Prasetyo
 Copyright:
Kreatifitas, Edukatif, Ekonomi Kreatif Suporter

Suporter klub Indonesia sebenarnya bukan hanya melulu identik dengan aks-aksi tak terpuji dan jadi cibiran masyarakat di luar pencinta sepakbola. Sejumlah barisan supoter nyatanya memang memiliki aksi kreatifitas yang mumpuni, tak jarang aksi kreatifitas mereka mengarah ke pemberdayaan ekonomi mandiri. 

Kisah soal bagaimana kreatifitas suporter PSS Sleman, Brigata Curva Sud (BCS) bahkan sudah jadi pembicaraan publik di Asia. BCS memiliki rekam jejak tak sembarangan dalam hal kreatifitas dan ekonomi mandiri. 

Konsep berdiri di atas ekonomi sendiri (berdikari) diterapkan nyata oleh BCS. BCS tercatat membangun unit-unit usaha seperti distro CSS Shop, CS Mart, CS Pegadaian (untuk membantu anggota yang kesulitan dana saat away) dan CS Magazine. 

Salah satu distro yang dikelola oleh BCS. 

Bahkan aksi mereka yang jadi sorotan teranyar publik Tanah Air ialah saat pembukaan Piala Presiden 2017 yang dihadiri Presiden RI, Jokowi. BCS menampilkan aksi koreo 4D yang sangat jarang ditunjukkan barisan suporter lain. 

Salah satu distro yang dikelola oleh BCS. 

Tidak hanya BCS yang memiliki semangat membangun sepakbola nasional dengan aksi kreatifitas dan ekonomi mandiri, barisan suporter Semen Padang pun melakukan hal sama. 

Kreatifitas suporter Semen Padang bisa kita lihat dari goresan mereka di cerita komik yang tertuang di akun Facebook dan Instagram, Carito Kabau Sirah. 

Komik bernada satir yang menunjukkan kegelisahan para suporter di kehidupan sehari-hari atau soal sepakbola nasional dituangkan dengan cara-cara menggelitik dan sangat kreatif, misalnya di kartun yang teranyar mereka posting di akun Facebook mereka, 

Salah satu kartun yang diposting Carito Kabau Sirah.

"Selain dilarang membawa flare, giant flag, botol, dan benda tumpul lainnya ke dalam stadion. Suporter juga dilarang membawa kenangan masa lalu bersama mantan," 

Barisan suporter Semen Padang yang tergabung dalam Carito Kabau Sirah ini memanfaatkan betul kemajuan teknologi di media sosial sebagai media penunjuk eksistensi dan menunjukkan identitas mereka sebagai suporter kreatif. 

Media sosial tidak hanya dijadikan sebagai ajang caci maki antar suporter oleh para Carito Kabau Sirah, 

"Ini hanya untuk lucu-lucuan dan juga memberikan dukungan terhadap tim Semen Padang FC," kata Inggi Djambak seperti dikutip dari Padang Ekspres. 

Salah satu kartun yang diposting Carito Kabau Sirah.

Bahkan untuk hal yang lebih serius, barisan suporter juga melakukan hal kreatif dan edukatif. Lihat bagaimana akun-akun seperti komunitas Bawah Skor Mandala yang fokus pada pengarsipan sejarah sepakbola nasional khususnya PSIM Yogyakarta. 

Komunitas Bawah Skor Mandala bahkan tidak hanya mengarah ke edukasi soal arsip sepakbola nasional namun juga di tataran ekonomi kreatif. 

"Awal mula kisahnya terjadi pada tahun 2010. Saya aktif kuliah dan nonton bola. Saya merasa PSIM tidak punya merchandise yang mewakili atau representatif kecintaan klub pada saat itu. Saya coba-coba bikin merchandise yang formal dengan makna kecintaan terhadap PSIM dengan unsur yang tidak norak dan provokatif," kata Dimaz Maulana, penggagas komunitas Bawah Skor Mandala. 

Komunitas Bawah Skor Mandala.

Di Jakarta kita sangat familiar dengan Legendary 1928. Sumbangsih dari legendary 1928 untuk pengarsipan sepakbola nasional khususnya Jakarta sudah tidak ada lagi meragukan. 

Unsur edukatif sangat kental di legendary 1928, publik tidak akan pernah mengetahui soal ulasan bagaimana sepakbola jadi alat untuk bangsa ini merdeka, atau bagaimana fakta sejarah soal Lapangan Singa di pusat kota Batavia dulu. 

374