Liga Indonesia

Sempat Panas Membara, Hubungan 4 Suporter Ini Sekarang Super Mesra

Selasa, 14 April 2020 09:59 WIB
Penulis: Prabowo | Editor: Cosmas Bayu Agung Sadhewo
© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo (kanan) menerima cendera-mata dari perwakilan Slemania. Copyright: © Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo (kanan) menerima cendera-mata dari perwakilan Slemania.

INDOSPORT.COM - Dalam sepak bola, tentu klub dan suporter adalah bagian yang saling berkaitan. Kedua elemen itu tidak bisa dipisahkan dan terus melekat sampai kapanpun.

Suporter adalah peman ke-12 tiap klub yang tak henti-hentinya memberikan dukungan dari atas tribun. Sementara bagi suporter, klub kecintaanya wajib diberikan support penuh agar semakin termotivasi di lapangan hingga akhirnya mendapatkan kemenangan.

Hanya saja, kecintaan atau banyak orang menyebut fanatisme yang kelewat batas wajar sering berakibat negatif. Salah satu contoh konkret adalah permusuhan antarsuporter.

Suka tidak suka, kerusuhan antarsuporter di sepak bola Indonesia jadi hal yang masih sulit dihilangkan. Gengsi dan rivalitas jadi bumbu segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab untuk terus memunculkan hawa panas.

Bukti nyata adalah hubungan antara Jakmania dan Bobotoh atau Bonek dan Aremania yang hingga saat ini belum akur. Dampaknya setiap laga digelar, tim tamu harus mendapatkan pengawalan ekstraketat bahkan sering diangkut menggunakan kendaraan lapis baja untuk menuju stadion.

Namun, bukan berarti cerita negatif itu tak bisa terhenti. INDOSPORT merangkum empat hubungan suporter yang awalnya panas membara, sekarang berbalik menjadi super mesra.

  • Semarang (Panser Biru dan Snex) dengan Jepara (Banaspati dan Jatman)
© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Suporter Persijap Jepara (Banaspati). Copyright: Ronald Seger Prabowo/INDOSPORTSuporter Persijap Jepara (Banaspati).

Kompetisi Divisi Utama 2000-an jadi hari kelam yang tak akan dilupakan suporter kedua tim. Kelompok suporter pernah terlibat kerusuhan hebat setelah sama-sama menyaksikan laga Persijap melawan PSIS di Stadion Kamal Junaidi, 12 Maret 2006.

Bentrokan parah yang meluas akhirnya menimbulkan korban jiwa. Sejak saat itulah, hubungan suporter PSIS dan Persijap selalu panas dengan munculnya nyanyian rasis hingga tindakan anarkis.

Namun, sanksi FIFA kepada PSSI tahun 2015 silam jadi titik balik cerita kelam itu. Pada ajang Piala Polda Jawa Tengah, PSIS dan Persijap yang kebetulan jadi satu grup sama-sama mendapatkan dukungan masing-masing suporter dalam satu stadion.

Tak pelak, hubungan baik itu berlanjut hingga saat ini. Tahun lalu di ajang Piala Indonesia, Panser Biru dan Snex disambut hangat saat memberikan dukungan di Stadion Gelora Bumi Kartini.

"Memang tidak mudah dan semua butuh proses. Namun dengan niat tulus dan keinginan untuk menjalin hubungan baik, pasti ada jalan. Terbukti kan sekarang hubungan suporter PSIS dan Persijap sangat kondusif," kata sesepuh Banaspati, Saadi Asirozi, saat berbincang dengan INDOSPORT beberapa waktu silam.

© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Aksi harmonis suporter PSIS Semarang dan Persijap. Copyright: Ronald Seger Prabowo/INDOSPORTAksi harmonis suporter PSIS Semarang dan Persijap.

Hal senada diungkapkan dedengkot Snex, Donny Kurniawan yang menilai rekonsiliasi bisa terjadi jika masing-masing suporter berfikir dewasa. Mengedepankan sikap saling menghormati dan keinginan untuk menghilangkan rasa permusuhan jadi kunci hubungan harmonis tersebut.

"Tapi ya harus ada langkah nyata seperti menghilangkan nyanyian rasis di tribun. Lalu juga sering menggelar saresehan bersama sehingga hubungan kita semakin baik," ujar dia.

  • Solo (Pasoepati) dan Sleman (Brigata Curva Sud)
© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo (kanan) menerima cendera-mata dari perwakilan Slemania. Copyright: Ronald Seger Prabowo/INDOSPORTPresiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo (kanan) menerima cendera-mata dari perwakilan Slemania.

Hubungan Pasoepati dan suporter PSS Sleman bisa dikatakan seperti roller coaster. Pada kompetisi Liga Indonesia 2000-an, PSS yang baru didukung Slemania punya hubungan yang super harmonis dengan Pasoepati.

Banyak orang mengatakan kedua kelompok suporter itu bak pinang dibelah dua karena saing harmonisnya. Namun, kondisi itu berbalik saat kompetisi Divisi Utama versi Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) era dualisme musim 2012.

Pertikaian antarsuporter yakni Pasoepati dengan Brigata Curva Sud (BCS) yang menjelma sebagai basis besar suporter PSS tak bisa diindahkan. Setidaknya, tiga kali bentrokan kedua suporter pecah saat musim lalu, hingga tahun 2013.

Namun, cerita kelam itu hilang bak tersapu angin saat kompetisi Liga 2 2017. Uniknya, moment perdamaian itu terjadi saat Persis Solo maupun PSS Sleman tidak tergabung dalam satu grup.

Saat itu, sekitar 1500-an Pasoepati yang berangkat ke Stadion Sultan Agung, 7 April saat Persis dijamu Persiba Bantul, mendapat sambutan positif dari Sleman Fans, baik BCS maupun Slemania.

Selain sambutan selamat datang, suporter BCS juga memberikan air mineral kepada Pasoepati di seputaran Jalan Piyungan-Wonosari. Hal tersebut cukup positif mengingat hubungan Pasoepati dengan BCS mulai mencair. Tagar #penakseduluran menggema di media sosial yang menjadi simbol kembalinya hubungan mesra Pasoepati dengan Sleman Fans hingga saat ini.

© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Suporter Persis Solo (Pasoepati). Copyright: Ronald Seger Prabowo/INDOSPORTSuporter Persis Solo (Pasoepati).

Pasoepati menjalani tur perdana ke Surabaya saat memberikan dukungan untuk Pelita Solo di Liga Indonesia tahun 2000. Sekitar 7.000 anggota Pasoepati yang datang ke Stadion Tambaksari menggunakan berbagai transportasi masal.

Pasoepati saat itu bahkan sampai mencarter Kereta Luar Biasa (KLB). Lalu ada pula puluhan bus besar hingga menggunakan taksi untuk menuju ke ibu kota Jawa Timur. Mereka disambut positif hingga kepulangan.

Hanya saja, pertemuan Persis Solo dan Persebaya di pentas Divisi I 2005/2006 menjadi awal rivalitas dan gesekan panas suporter kedua tim. Hingga akhirnya chaos terjadi di laga final yang berlangsung di Stadion Brawijaya Kediri mempertemukan kedua tim. Hubungan itu memburuk hingga beberapa tahun kemudian.

Namun lagi-lagi, niat baik untuk kembali merajut keharmonisan membuahkan hasil. Diawali dengan Pasoepati dan Bonek membuat satu kegiatan yang dinamakan pohon cinta di Solo dan Surabaya pada 8 Januari 2011.

Lalu, cerita indah itu dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Bonek saat Pasoepati memberikan dukungan untuk Solo FC dalam Liga Primer Indonesia (LPI) di Gelora Tambaksari, Surabaya, 9 Mei 2011. Mulai saat itu, hubungan keduanya super mesra hingga sekarang.

© Ronald Seger Prabowo/INDOSPORT
Suporter Persebaya (Bonek). Copyright: Ronald Seger Prabowo/INDOSPORTSuporter Persebaya (Bonek).

Terakhir adalah cerita hubungan suporter yang saling bertetangga, Bonek dan LA Mania. Sudah bukan kisa baru jika kedua kelompok suporter itu berseteru sejak awal 2000-an.

Bahkan, tak jarang setiap kali berpapasan, keduanya berujung bentrok hingga menimbulkan korban jiwa. Dulu rasanya sulit membayangkan Bonek dan LA Mania berdamai.

Namun semua berubah di pentas Liga 1 2018 saat Persela menjamu Persebaya dalam pekan kedua di Stadion Surajaya, 30 Agustus 2018. Seperti biasa, panpel Persela tidak memberi kuota tiket kepada Bonek.

Meski demikian, suporter setia Persebaya itu tetap berangkat ke Lamongan untuk memberikan dukungan langsung. Hebatnya, semua suporter Persela baik LA Mania maupun Curva Boys menyambut hangat kehadiran Bonek.

Sejak saat itulah, hubungan suporter dua tengga itu akhirnya super mesra. Persela fans juga mendapat sambutan hangat kala bertandang ke Stadion Gelora Bung Tomo.

1