Liga Indonesia

Ada Kebanggaan Warga Bogor, 5 Klub Indonesia yang Juara Usai Ganti Nama

Senin, 27 April 2020 12:05 WIB
Penulis: Prabowo | Editor: Indra Citra Sena
© Grafis: Yanto/Indosport.com
Perjalanan Era Profesional Sepak bola Indonesia. Grafis: Yanto/Indosport.com Copyright: © Grafis: Yanto/Indosport.com
Perjalanan Era Profesional Sepak bola Indonesia. Grafis: Yanto/Indosport.com

INDOSPORT.COM - Kompetisi sepak bola Indonesia termasuk salah satu yang memiliki jumlah klub peserta terbanyak di level resmi. Bukan sebatas Asia Tenggara, melainkan juga di dunia.

Sebanyak 18 tim berlaga di Liga 1, 24 tim di Liga 2, plus ratusan klub yang ikut berkompetisi di level Liga 3, baik tingkat provinsi maupun nasional. Semua itu belum termasuk klub-klub 'almarhum' jebolan Liga Galatama maupun Perserikatan.

Namun, ada fakta unik di balik klub-klub Indonesia, yakni tentang perubahan nama. Banyak faktor memang yang mempengaruhi, terutama karena alasan kepemilikan dan sponsor.

Tidak bisa dipungkiri bahwa finansial menjadi faktor paling krusial untuk menjalankan sebuah klub dalam kompetisi sepak bola. Alasan itu seringkali memunculkan kesepakatan kucuran dana yang diiringi dengan perubahan nama.

Proses itu lantas memunculkan cerita tersendiri di setiap perjalanan masing-masing tim tersebut. Ada yang mampu meraih kesuksesan, namun tak sedikit justru melempem.

INDOSPORT mencoba merangkum lima klub Indonesia yang sukses besar setelah berganti nama, bahkan sekaligus berpindah home base dari daerah asal ke daerah lain.

Yanita Utama

© Tabloid Bola
Bambang Nurdiansyah tahun 1991, sesaat sebelum bermain di SEA Games. Copyright: Tabloid BolaBambang Nurdiansyah tahun 1991, sesaat sebelum bermain di SEA Games.

Masyarakat pecinta sepak bola di Bogor pernah memiliki klub kebanggaan di era Liga Galatama bernama Yanita Utama. Awalnya, klub itu bernama Jaka Utama domisili Lampung dan sudah berkompetisi sejak 1979.

Namun, skandal isu suap tahun 1982 membuat Jaka Utama bubar, sebelum pengusaha Pitoyo Haryanto mengakuisisi dan lantas berubah nama menjadi Yanita Utama. Klub baru ini bermarkas di Stadion Padjajaran, Bogor.

Setelah peresmian, klub berkostum biru-biru itu memulai petualangan di Galatama 1983/84. Tidak disangka, musim perdana langsung berbuah manis berupa gelar juara usai memetik kemenangan tipis 1-0 atas Mercu Buana di final.

Sukses itu tak lepas dari materi pemain mentereng, termasuk eksodus bintang NIAC Mitra seperti Joko Malis, Yudi Suryata, hingga Rudy W. Keltjes. Yanita Utama juga diperkuat striker muda potensial, Bambang Nurdiansyah.

Musim berikutnya, prestasi serupa kembali diraih. Kali ini giliran klub legendaris asal Jakarta, UMS 80, mereka kalahkan, tapi final Galatama 1984 sekaligus menandai bubarnya Yanita Utama.

Sriwijaya FC

© Grafis: Eli Suhaeli/INDOSPORT/Sriwijaya FC
Logo Sriwijaya FC. Copyright: Grafis: Eli Suhaeli/INDOSPORT/Sriwijaya FCLogo Sriwijaya FC.

Lahir dengan nama Persijatim Jakarta Timur, klub yang bermarkas di Stadion Bea Cukai Rawamangun itu sempat jadi tim papan atas di akhir 1990-an hingga awal 2000-an. 

Namun, minimnya dukungan dari pemerintah yang lebih memprioritaskan Persija Jakarta memaksa mereka hijrah ke Solo dengan menggunakan nama Persijatim Solo FC.

Hanya saja, kemesraan bersama masyarakat pecinta sepak bola di Kota Bengawan hanya berlangsung dua setengah tahun saja. Persijatim lantas pindah ke Palembang setelah diakuisisi Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan dan berganti nama menjadi Sriwijaya FC.

Tak butuh waktu lama bagi tim Laskar Wong Kito untuk berprestasi. Mereka meraih double winner yakni Divisi Utama dan Piala Indonesia 2007/08. Sriwijaya FC juga menyabet kampiun Liga Super Indonesia 2011/12.

Tim yang bermarkas di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring belakangan menambah koleksinya dengan trofi Piala Indonesia (2009, 2010), Inter Island Cup (2010, 2012), dan Community Shield (2010). 

Sayang, Sriwijaya FC kini tengah terpuruk karena masih berkutat di Liga 2 setelah turun kasta dari Liga 1 2018. Mereka nyaris promosi musim lalu andai tidak dikalahkan sesama wakil Sumatra, Persiraja Banda Aceh, dalam laga perebutan peringkat ketiga Liga 2 2019.

Borneo FC

© INDOSPORT
Logo Borneo FC Copyright: INDOSPORTLogo Borneo FC

Klub ketiga yang juara setelah berganti nama, bahkan kepemilikan adalah Borneo FC. Mengakuisisi Perseba Super Bangkalan pada 2014, Pesut Etam langsung menjelma sebagai tim kuat di kompetisi Divisi Utama 2014.

Sokongan dana dari pengusaha muda Nabil Husein Said Amin membuat Borneo FC bisa mendatangkan pemain-pemain berlabel bintang. Mulai Danilo Fernando, Fernando Soler, Usep Munandar, Arie Supriyatna, hingga I Wayan Gangga Mudana.

Hasilnya, mereka langsung menjadi juara di musim perdana berkompetisi di Divisi Utama. Borneo FC lantas juga meraih tiket promosi ke Liga Super Indonesia (ISL) dan bertahan hingga saat ini.

Bali United

© Instagram Bali United
Bali United juara Liga 1 2019 Copyright: Instagram Bali UnitedBali United juara Liga 1 2019

Sukses Borneo FC promosi ke kasta tertinggi perlahan menyingkirkan Persisam Putra Samarinda (Pusam). Hal itu berdampak pada masalah finansial, mengingat suporter juga lebih condong mendukung Borneo FC.

Pengusaha bernama Pieter Tanuri lantas mengakuisisi Putra Samarinda untuk hijrah ke Pulau Dewata. Perubahan nama lantas terjadi menjadi Bali United dan bermarkas di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Dengan dana melimpah, Bali United lantas menjelma sebagai tim mewah di Tanah Air. Bahkan, Serdadu Tridatu dianggap sebagai contoh tim dengan pengelolaan modern layaknya klub-klub Eropa.

Kerja keras dan profesionalitas mereka akhirnya berbuah hasil. Bali United sukses mengunci gelar juara Liga 1 2019 saat kompetisi masih menyisakan empat pertandingan.

Bhayangkara FC

© Herry Ibrahim/INDOSPORT
Skuat Bhayangkara FC merayakan keberhasilan menjadi juara Liga 1 2017. Copyright: Herry Ibrahim/INDOSPORTSkuat Bhayangkara FC merayakan keberhasilan menjadi juara Liga 1 2017.

Klub terakhir yang juara setelah berganti nama adalah Bhayangkara FC. Singkat cerita, klub itu berdiri setelah Surabaya United (sebelumnya Persikubar Kutai Barat, Persebaya Surabaya, hingga Bonek FC) melakukan merger dengan PS Polri tahun 2016.

Nama Bhayangkara Surabaya United lantas melekat dan mengikuti turnamen Piala Bhayangkara 2016 hingga Indonesian Soccer Championship (ISC) B di tahun yang sama. Namun, sejak 10 September 2016, nama itu kembali berubah menjadi Bhayangkara FC yang bertahan hingga kini.

Tak butuh lama bagi pasukan The Guardian untuk meraih prestasi tinggi. Pada gelaran Liga 1 2017 atau edisi perdana, mereka langsung membawa pulang trofi juara.