In-depth

Ligina 2001, Ketika Bobotoh dan The Jakmania Terakhir Mesra dalam Satu Tribun

Rabu, 20 Mei 2020 20:48 WIB
Editor: Prio Hari Kristanto
© Grafis: Eli Suhaeli/INDOSPORT
The Jakmania dan Bobotoh (terutama Viking) merupakan dua kelompok suporter di Indonesia yang dikenal tak akur. Copyright: © Grafis: Eli Suhaeli/INDOSPORT
The Jakmania dan Bobotoh (terutama Viking) merupakan dua kelompok suporter di Indonesia yang dikenal tak akur.

INDOSPORT.COM - Di masa silam, kelompok suporter The Jakmania dan Bobotoh tergolong akur dan minim perselisihan. Hal itu terekam jelas dalam momen satu tribun kedua tim di tahun 2001. 

The Jakmania dan Bobotoh (terutama Viking) merupakan dua kelompok suporter di Indonesia yang dikenal tak akur. Pendukung dari klub Persib Bandung (Bobotoh) dan Persija Jakarta (The Jakmania) itu kerap terlibat berbagai pertikaian dan perselisihan selama era Liga Indonesia ini. 

Namun, tak banyak yang tahu jika dua basis suporter besar di Tanah Air itu sebetulnya memiliki hubungan yang cukup harmonis di masa lalu. Di era 90-an keduanya tergolong kelompok suporter yang minim perselisihan. 

Sayang tradisi baik itu hanya berlangsung sampai tahun 2001. Tahun 2001 bisa dibilang sebagai tahun terakhir kali Bobotoh dan The Jak guyub dalam satu tribun. 

Pada Liga Indonesia 2001 baik Bobotoh maupun The Jak saling melakoni laga away day ke stadion rival masing-masing. Jika Persib bermain kandang, maka The Jak ikut hadir di Stadion Siliwangi. 

Sebaliknya, ketika Persija yang bermain kandang, Bobotoh akan hadir menyaksikan di Stadion Lebak Bulus. Hal ini tergambar dalam unggahan foto sejumlah pendukung kedua tim di masa silam beberapa waktu lalu. 

Sayang, sebuah perselisihan yang terjadi di tahun tersebut akhirnya menyisakan dendam yang tak ada habisnya hingga saat ini. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh mantan ketua The Jakmania, Ferry Indrasjarief, dalam acara telewicara Mata Najwa tahun 2018 silam. 

Kebetulan saat itu Bung Ferry sudah menjabat sebagai ketua umum The Jakmania. Gesekan yang melibatkan sebagian suporter itu terus berkembang bak bola salju dan berkelanjutan dalam waktu yang lama. 

Bahkan suporter remaja yang dulu belum lahir di awal 2000-an pun kini ikut-ikutan terseret dalam pusara kebencian tersebut. Di era Liga 1 ini rasanya sulit mengharapkan kedua kelompok suporter duduk akur dalam satu tribun. 

Pihak kepolisian kerap melarang kedua kelompok suporter untuk hadir saat laga tandang demi meminimalisir risiko bentrokan. Maklum, bentrokan kedua tim sering memakan korban jiwa. 

Maka tak jarang entah itu Persija atau Persib beberapa kali harus bermain di tempat netral atau tanpa penonton karena tak mendapat izin keamanan.

Merintis Jalan Damai

Sejumlah usaha terus dilakukan untuk mendamaikan kedua suporter. Masing-masing pimpinan suporter telah bertemu satu sama lain untuk berikrar damai. Meski begitu, korban tetap saja berjatuhan. 

Meski begitu, usaha untuk mendamaikan tetap tak pernah padam. Pada musim lalu, baik Persib maupun Persija melakukan kampanye damai yang cukup masif. 

Melalui media sosial masing-masing, klub Persib dan Persija saling menebar pesan damai yang positif. Kampanye ini pun sebetulnya disambut baik oleh suporter. 

Meski begitu, kita semua pecinta sepak bola nasional mesti waspada karena di luaran sana masih ada orang-orang yang memang hanya berniat untuk anarkis.

Menjadikan fanatisme sepak bola sebagai wadah untuk menyalurkan sifat anarkis. Hal inilah yang perlu ditekan dan diperangi oleh kedua klub. 

Sudah saatnya sepak bola Tanah Air berjalan damai dengan rivalitas yang sehat dan tidak ada memakan korban baik fisik maupun materiil. Mari sama-sama fokus untuk memajukan sepak bola.

IDS Emoticon Suka
Suka
0%
IDS Emoticon Takjub
Takjub
0%
IDS Emoticon Lucu
Lucu
0%
IDS Emoticon Kaget
Kaget
0%
IDS Emoticon Aneh
Aneh
0%
IDS Emoticon Takut
Takut
0%
IDS Emoticon Sedih
Sedih
0%
IDS Emoticon Marah
Marah
0%