Liga Indonesia

Daeng Uki Sebut Naturalisasi Seperti Penjajahan di Timnas Indonesia

Kamis, 2 Juli 2020 20:36 WIB
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat | Editor: Ivan Reinhard Manurung
© Zainal Hasan/Indosport.com
Pentolan suporter klub Liga 1 PSM Makassar, Daeng Uki, menyebut program naturalisasi menjadi model penjajahan gaya baru di tubuh Timnas Indonesia dan PSSI. Copyright: © Zainal Hasan/Indosport.com
Pentolan suporter klub Liga 1 PSM Makassar, Daeng Uki, menyebut program naturalisasi menjadi model penjajahan gaya baru di tubuh Timnas Indonesia dan PSSI.

INDOSPORT.COM - Pentolan suporter klub Liga 1 PSM Makassar, Daeng Uki, menyebut program naturalisasi menjadi model penjajahan gaya baru di tubuh Timnas Indonesia dan PSSI.

Pria dengan nama asli Uki Nugraha ini menilai program yang pertama kali ditempuh oleh federasi sepak bola pada tahun 2010 silam tidak berdampak signifikan untuk prestasi Timnas Indonesia.

Namun, dia lebih menyoroti kebijakan PSSI yang lebih banyak menaturalisasi pesepak bola asing dengan usia di atas 30 tahun, di saat semakin banyaknya talenta muda terbentuk dari kompetisi Liga 1.

"Banyak yang berkualitas justru tidak dipanggil ke Timnas Indonesia, apalagi naturalisasi ini menjadi penjajahan gaya baru," ungkap Daeng Uki dalam sebuah sesi wawancara beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Daeng Uki meminta kepada federasi sepak bola Indonesia untuk tidak terlalu bermimpi sampai menembus Piala Dunia jika masih membuat kebijakan yang lebih menguntungkan klub saja.

"Jangan mimpi petik durian kalau kita cuma tanam tomat. Mau main di level dunia tapi kompetisi kita masih begini, masih banyak kebijakan yang justru tidak berdampak ke Timnas Indonesia," tutur Daeng Uki.

"Kalau federasi mau betul-betul profesional mencari bibit pesepak bola, masa tidak bisa dapat satu pemain seperti Messi, Ronaldo, Maradona dari jutaan penduduk Indonesia," tegas dia.

PSM Makassar sendiri memiliki dua pemain naturalisasi yang telah disahkan oleh PSSI yang mana keduanya masih dan/atau pernah memperkuat Timnas Indonesia, yakni Osas Saha dan Ezra Walian.