Bola Internasional

Pernah Asingkan Benzema, Manajer Prancis Kini Jilat Ludah Sendiri

Senin, 11 Oktober 2021 22:00 WIB
Penulis: Izzuddin Faruqi Adi Pratama | Editor: Prio Hari Kristanto
© UEFA
Didier Deschamps menilai kini Karim Benzema sudah jadi pemain yang lebih baik usai sebelumnya sempat tidak bekerja sama untuk Prancis selama enam tahun. Copyright: © UEFA
Didier Deschamps menilai kini Karim Benzema sudah jadi pemain yang lebih baik usai sebelumnya sempat tidak bekerja sama untuk Prancis selama enam tahun.

INDOSPORT.COM - Didier Deschamps mengangkat topinya untuk Karim Benzema setelah sukses membawa Prancis menjadi kampiun UEFA Nations League 2020/2021 lalu. Walau hubungan keduanya sempat renggang dalam beberapa tahun ke belakang namun Deschamps tidak segan memuji sang pemain yang tampil baik usai kembali dipanggil.

Benzema sempat absen membela Prancis sejak terjerat kasus pemerasan pada kompatriotnya, Mathieu Valbuena, pada 2015 lalu. Federasi sepak bola negaranya, FFF, terutama Noel Le Graet selaku presiden menganggap keberadaannya akan mempengaruhi harmoni di tubuh Le Bleus.

Isu rasisme mengingat Benzema memiliki darah Aljazair pun sempat diangkat sang pemain untuk menekan Deschamps yang ia anggap tidak melawan hasutan dari petinggi federasi. Sayangnya usaha itu tidak berhasil dan Benzema akhirnya tidak ikut serta di EURO 2016 dan Piala Dunia 2018.

Deschamps dan Benzema akhirnya bisa bersatu kembali sejak EURO 2020 dan bahkan langsung menjadikan sang bomber 33 tahun sebagai striker utama menggantikan Giroud. Kepercayaan tersebut tetap diberikan di Nations League di mana Benzema mengemas masing-masing satu gol pada semi final dan final.

"Karim adalah pemain kunci bagi kami. Itu dibuktikannya saat melawan Belgia dan Spanyol. Aku turut senang dengan pencapaiannya sejauh ini bersama tim," papar Deschamps pada L’Équipe.

"Sekarang ia lebih efisien sebagai striker. Karim bukan pemain yang sama seperti di 2015 dulu. Kini ia lebih tajam. Kepribadiannya juga semakin dewasa,"

"Memang benar jika ia tidak akan bermain di empat atau lima turnamen lagi namun Karim tetap penting bagi Prancis. (Nations League) bukan gelar paling prestisius namun tetap saja wajib kami menangkan," tambahnya lagi.