x

Lima Pembelian Panik EPL

Selasa, 2 September 2014 15:13 WIB
Editor: Raditya Adi Nugraha

Beberapa klub besar sudah menjalani laga mereka di awal musim dengan beragam hasil.

Manchester United dan Real Madrid akhirnya menyudahi daftar buruan mereka dan berharap hasil buruk di laga terakhir tak lagi terulang.

Real Madrid sepeninggal Angel di Maria dan Xabi Alonso secara mengejutkan takluk dari Real Sociedad 2-4.

Sementara Manchester United belum juga mendapat hasil maksimal setelah menjalani tiga laga.

Liga Inggris yang identik dengan jual beli pemain yang melibatkan uang ratusan juta pounds di tiap musimnya tak luput dari panic buying atau pembelian panik.

Kami memiliki catatan tentang lima panic buying di Premier League dalam kurun enam musim terakhir.


1. Andy Carroll

Direktur strategi sepakbola Liverpool, Damien Comolli hanya memiliki waktu sepuluh hari saat Fernando Torres mendatangi kantornya untuk minta dijual.

"Fernando datang bersama agennya sekitar tanggal 21 atau 22 Januari dan berkata kami akan mendapat tawaran dari Chelsea dan saya akan pergi," kata Comolli via BBC.

"Jadi saat itu saya menelepon pihak Newcastle United untuk membicarakan pembelian Andy Carroll," tambah dia.

Meski telah memmbeli Luis Suarez, publik dikejutkan dengan pembelian striker berambut panjang itu. Terlebih dengan harga 35 juta pounds di tanggal 31 Januari 2011.

Pembelian Carroll terbukti sebagai blunder besar Liverpool karena ia malah sering berkutat dengan cedera dan hanya mencetak enam gol dari 26 laga.


2. Benjani Mwaruwari

Tenggat waktu transfer pemain nyaris selalu bertautan dengan kekacauan. Inilah yang terjadi pada 31 Januari 2008 saat Manchester City membeli Benjani Mwaruwari dari Portsmouth.

City yang saat itu masih dilatih Sven-Goran Eriksson membutuhkan kemenangan yang seakan alpa sejak pergantian tahun.

Striker asal Zimbabwe mencetak 12 gol dari 27 laga untuk The Pompey dan hal itu dirasa cukup bagi manajemen Manchester Biru untuk membeli Mwaruwari di tanggal 31 Januari, batas akhir pembelian pemain di masa transfer musim dingin.

Baik Portsmouth dan Benjani kaget karena mendapat dana segar di akhir bulan Januari. Saking tak ada persiapannya, Benjani dikabarkan tertidur dan ketinggalan dua penerbangan ke Manchester dan empat hari kemudian berkas kepindahan Benjani baru diserahkan kepada badan Liga.

Benjani memang mencetak gol di laga debutnya, namun setelahnya hanya mempersembahkan tujuh gol di total tiga musimnya.


3. Marouane Fellaini

Sulit membayangkan sebuah tim yang diarsiteki David Moyes tanpa gelandang kesayangannya, Marouane Fellaini. Saat pertama kali hijrah ke Old Trafford, Moyes mengaku tak akan memboyong Fellaini.

Namun satu jam sebelum masa transfer ditutup, Iblis Merah secara resmi mengumumkan telah membeli gelandang berambut kribo itu seharga 27,5 juta pound, empat juta pound lebih mahal dari klausul kontraknya di Everton.

"Di posisi Inilah kami kekurangan pemain. Paul Scholes pensiun dan Darren Fletcher belum bisa kami mainkan," kata Moyes sesaat Fellaini tiba di Old Trafford.

Sayang bakat Fellaini tak sebesar ukuran rambutnya. Pemain berpaspor Belgia itu tampil mengecewakan dengan hanya tampil sebanyak 16 kali. Bahkan Napoli membatalkan niatnya untuk membeli jasa Fellaini.


4. Mikel Arteta

Tak selamanya pembelian di menit-menit akhir berujung petaka, Mikel Arteta menjadi pembeda.

Kepindahan Arteta ke Arsenal menjadi drama tersendiri karena sempat gagal di sore hari waktu setempat. Namun satu jam sebelum masa transfer ditutup, Arsenal dan Everton menemukan kata sepakat.

Meski saat itu dipandang sebagai imitasi dari Cesc Fabregas yang mudik ke Barcelona, Arteta menunjukkan kualitasnya dengan menorehkan 6,622 passing dan 289 tekel.

"Arsene Wenger memang selalu membeli pemain di waktu yang mepet. Andre Santos dibeli di hari yang sama dengan Arteta, Denilson bergabung bersama kami di hari terakhir di musim 2006, begitupun dengan Julio Baptista. Tapi hanya Arteta yang sukses," kata mantan bek Arsenal, Nigel Winterburn. 


5. Roman Pavlyuchenko

Hadirnya Roman Pavlyuchenko ke White Hart Lane tanggal 1 September 2008 jelas merupakan pembelian panik. Striker asal Rusia itu diplot untuk mengisi pos Robbie Keane yang hijrah ke Liverpool.

Dana sebesar 14 juta pound pun digulirkan untuk mendaratkan Pavlyuchenko dari Spartak Moscow. Roman meretas 14 gol dari 36 penampilan di musim pertamanya.

Andai Juande Ramos lebih memilih membelanjakan uang transfer untuk membeli Samuel Eto'o dan David Villa ketimbang Roman Pavlyuchenko dan Darrent Bent, mungkin Hotspur tak akan memecatnya.

Pavlyuchenko akhirnya bergabung dengan Lokomotiv Moscow di tahun 2012 setelah "diasingkan" Harry Redknapp yang menggantikan Ramos.

Bursa TransferPremier LeagueLiverpoolArsenalManchester City

Berita Terkini