x

Inilah 5 'Rising Star' yang Redup Sebelum Bersinar

Selasa, 17 Februari 2015 13:59 WIB
Editor:

Nama-nama seperti Nii Lamptey, Wayne Harrison atau Haruna Babangida mungkin nama yang terdengar asing untuk kita saat ini. Namun di beberapa tahun ke belakang nama-nama tersebut diatas banyak diberitakan media internasional miliki bakat sepakbola yang akan mengangkat nasib mereka sebagai rising star. Namun nasib berkata lain. Jangankan bermain reguler di klub menengah di Eropa, bertahan hidup saja mereka kesulitan. 

Berikut lima nasib pesepakbola yang dulu berpredikat rising star:


1. Nii Lamptey

Di usia 19 tahun, Lamptey pernah menyandang rising star. Ia bermain di liga Belanda bersama PSV Eindhoven saat pemain-pemain bintang seperti Del Piero, Albertini, Veron dan Guardiola masih merumput. Saat masih di PSV di musim 1993/1994, ia sempat menjadi top skor klub. Prestasinya juga mentereng mulai dari peraih Golden Ball di Piala Dunia U17 pada 1991, meraih Olimpiade Perunggu pada 1992, prestasi yang sempat membuat Real Madrid meliriknya.  

Namun nasib tragis menghampiri. Lamptey yang miliki latar belakang keluarga tidak harmonis harus kembali menjalani masa suram sebelum ia bermain di PSV. Sekarang ia diketahui mendirikan sebuah sekolah di kampung halamannya di Ghana sembari menjadi seorang peternak sapi. 


2. Wayne Harrison

Ia sempat disebut sebagai pemain muda berbakat yang dimiliki Liverpool akhir era 80an dan awal 90an. Harrison yang berposisi sebagai penyerang ternyata jauh dari harapan manajemen Liverpool saat direkrut dari Oldham Athletic. Memang saat masih berkostum Oldham, tidak hanya Liverpool yang ingin merekrutnya. Ron Atkinson bos Manchester United kala itu juga beberapa kali mengawasi penampilan Harrison. 

Ternyata Harrison hanya sekedar prediksi untuk jadi seorang Rissing star. Karir sepakbolanya terhenti di 1988 tapi satu kalipun pernah melakukand debut bersama Liverpool di pertandingan resmi. Lantas apa yang ia lakukan setelah pensiun dari sepakbola? Harrison tercatat sebagai seorang supir truk pengakut bir di salah satu pabrik bir di Inggris. 


3. Haruna Babangida

Babangida sempat menjadi bagian dari klub junior Barcelona di 1997 hingga 1998. Ia lalu dipromosikan untuk Barcelona B dari 1998 hingga 2004 dengan torehan 42 gol dari 110 caps. Media pun langsung mengekspos pemain yang berposisi sebagai penyerang sayap itu. Ia bahkan disebut sebagai salah satu winger berbakat dan berpredikat rising star

Namun di Barcelona B ia tak juga mendapat kesempatan promosi ke tim utama Barcelona. Berulang kali Babangida harus dipinjamkan ke klub-klub medioker di Eropa seperti Vitesse, Mainz 05, Cadiz dan Terrassa. Meski sudah berusia 32 tahun, Babangida ternyata masih bermain sepakbola, tapi bermain disebuah klub di negara kecil Malta. Mosta FC jadi klub Babangida di 2015. 


4. Cherno Samba

Samba ialah kelahiran Gambia yang membela timnas Inggris U20. Darah sebagai pesepakbola digariskan dari sang ayah yang ternyata pernah menjadi kiper timnas Gambia. Samba berposisi sebagai penyerang dan beberapa media lokal Inggris pernah menyebutnya sebagai rising star saat ia membela timnas Inggris U16. 

Samba berakhir tragis jika bisa disebut demikian. Samba tak jua dapat kontrak profesional dari klub besar, meski beberapa klub besar sempat mengawasi permainan Samba. Terakhir ia bermain untuk klub sepakbola ialah saat membela klub asal Norwegia, FK Tønsberg di 2012. Sampai sekarang ia masih menunggu-nunggu kontrak profesional dari klub sepakbola yang artinya ia adalah pesepakbola tanpa klub.  


5. Freddy Adu

Adu pernah diberi label 'The Next Pele'. Ternyata Adu bernasib sama dengan empat pesepakbola diatas. Adu kabarnya kesulitan untuk mendapat kontrak dari klub sepakbola. Meski terbilang masih sangat muda 25 tahun, Adu sudah pasrah dan tidak lagi menjadi pesepakbola. 

Adu kini pulang ke kampung halamannya di Washington dan bekerja sebagai host di sebuah kelab malam bernama Shadow Room. 

Real MadridManchester UnitedLiverpoolBarcelonaFreddy Adu

Berita Terkini