x

5 Kasus Mafia Sepakbola Internasional

Selasa, 19 Mei 2015 23:15 WIB
Editor: Galih Prasetyo

Sepakbola saat ini memang sudah menjadi industri. Untung dan rugi menjadi hal tak terpisahkan dari sepakbola era ini. Jadi tak mengherankan jika mafia judi masuk ke dalamnya. Ini jadi rahasia umum. Banyak yang membantah namun faktanya banyak kasus-kasus mafia sepakbola terungkap ke khalayak.

Baca juga: Skandal Pengaturan Pertandingan Italia, 50 Orang Lebih Ditangkap

Sepakbola yang harusnya berprinsip Fair Play sudah berbelok saat tangan-tangan mafia ini masuk ke dalamnya. Untung dan Rugi menjadi prinsip sepakbola yang sudah 'dimainkan' oleh para mafia. 

Berikut INDOSPORT rangkumkan 5 kasus mafia sepakbola internasional: 

Baca Juga

Liga Indonesia | Liga Primer | Liga Champions | Bundesliga
La Liga | Serie A | Selebrita | Komunitas | Transfer Pemain


1. Tan Seet Eng

Ia sering disebut Dan Tang, disebut-sebut ia merupakan bos mafia sepakbola yang berbasis di Singapura. Dilansir dari Europol, Dan terlibat dalam pengaturan hasil pertandingan sekitar 700 pertandingan di seluruh dunia. 

Dan disebut-sebut memimpin sindikat yang mengeruk keuntungan jutaan dolar dari pengaturan hasil pertandingan di Italia. Ia juga diduga terlibat dalam pengaturan 380 laga di kompetisi Eropa. 

Dan bahkan pernah diwawacarai majalah Jerman, Der Spiegel bahwa pertandingan yang dilakoni Barcelona pun bisa ia atur skornya. Laga Barcelona melawan Fenerbache yang digelar di Istanbul pada September 2001 lalu, tak lepas dari tangan kotor Dan Tan.


2. Pengusaha Slovenia, kaki tangan Dan Tang

Pada Februari 2013, pihak Interpol berhasil membongkar kasus pengaturan pertandingan yang dilakukan oleh seorang pengusaha asal Slovenia namun berkantor di Milan, Italia. 

Seperti dilansir BBC Sport, si pelaku ditangkap oleh Interpol karena berkaitan dengan sindikat mafia sepakbola yang memiliki basis di Singapura kepunyaan Tan Seet Eng atau yang biasa dipanggil Dan Tang.


3. Kasus Andres Escobar

Escobar adalah korban dari kejamnya mafia sepakbola Internasional. Pada 2 Juli 1994, 12 peluru menghujam di tubuhnya. Ia tewas seketika. 

Polisi mempercayai penembakan itu berkaitan dengan gol bunuh diri yang terjadi saat laga Kolombia vs Amerika Serikat di laga Piala Dunia 1994 di Pasadena, California. AS menang 2-1 pada laga itu dan Kolombia yang lebih difavoritkan gagal maju ke babak kedua.

Dua hari kemudian polisi menangkap Humberto Castro Muñoz, yang bekerja sebagai sopir dan bodyguard untuk seorang pemimpin kartel narkoba Kolombia. Namun kaitannya dengan bos-bos besarnya sendiri tak bisa terbukti. Muñoz dijatuhi hukuman penjara 43 tahun, namun belakangan dibebaskan setelah 11 tahun di balik jeruji.


4. Kasus Giuseppe Sculli

Pada 2006, pesepakbola Giuseppe Sculli dinyatakan bersalah karena terlibat pengaturan skor di pertandingan Crotone versus Messina pada Serie B Italia musim 2001/02. Eks pemain Juventus  dan Lazio memang jadi rahasia umum dekat dengan mafia judi sepakbola Italia. 

Akibat ulahnya ini Sculli dihukum delapan bulan di kompetisi sepakbola Italia. Selesai masa hukuman, Sculli tak kapok. Di 2011, ia terlibat kasus pengaturan skor yang melibatkan Lazio, Lecce dan Genoa. 

Terlibatnya Sculli dalam pengaturan skor seperti hal lumrah pasalnya darah mafia memang mengalir dalam tubuh Sculli. Pemain ini memiliki hubungan darah dengan Giuseppe Morabito, bos dari Ndrangheta. Bahkan Sculli adalah cucu yang paling dicintai Morabito. Morabito juga terlibat dalam pengaturan skor pada 2006. 


5. 'Kasus' Liverpool dan Manchester United

Dua klub elit liga Primer Inggris, Liverpool dan Manchester United, pernah terseret skandal menghebohkan ini. Untung, status dua klub papan atas Premier League itu masih sebatas "korban". 

Laga Liverpool kontra Debrecen pada 2009 diduga telah disusupi kecurangan. Kiper Debrecen, Vukasin Poleksic menjadi tertuduh. Poleksic akhirnya mendapatkan hukuman dua tahun dari Federasi Sepakbola Eropa (UEFA).

Kasus pengaturan skor diduga pernah terjadi di laga Manchester United melawan Zalaegerszeg, yang bertemu di babak kualifikasi Champions League 2002/2003. "Keterlibatan" MU ini diungkapkan salah satu mantan gangster Serbia, Karesz kepada The Sun. Kata Karesz, sejumlah bos gangster di Eropa ingin melihat Zalaegerszeg kalah. Setidaknya tiga gol di leg kedua.

Manchester UnitedLiverpool

Berita Terkini