x

(Analisis) Mourinho-Rodgers, Beda Nasib, Beda Perlakuan

Rabu, 21 Oktober 2015 12:50 WIB
Editor:

Menengok penampilan Liverpool dan Chelsea di awal musim ini tentu yang terlintas ialah penampilan kedua tim sarat prestasi di liga Primer Inggris ini cukup buruk. Maka tak heran jika kemudian direksi Liverpool putuskan untuk memecat Brenda Rodgers. 

Hal berbeda justru dialmi oleh Jose Mourinho. Meski di musim keduanya bersama Chelsea, pria Portugal tersebut tidak mampu mengangkat prestasi Chelsea di awal musim ini, ia masih berada posisi aman sebagai pelatih Chelsea. 

Menarik memang melihat kondisi dua pelatih ini. Rodgers dan Mourinho, beda nasib dan beda perlakuan di dua klub yang mereka latih. 


1. Mourinho istimewa, Rodgers tak dianggap

Hingga pekan ke 9 liga Primer Inggris, Chelsea hanya mampu meraih 3 kali kemenangan, 2 hasil seri dan telah 4 kali kalah. Chelsea pun terpuruk di peringkat 12 liga Primer Inggris. Namun meski banyak pemberitaan mengenai terpuruknya Chelsea, posisi Jose Mourinho masih aman. Ia bahkan mendapat keluluasan penuh di Chelsea. Seperti dilansir onefootball.com, Mourinho dapat perlakuan istimewa dari Roman Abramovich, misal terkait pembelian dan penjualan pemain. 

Chelsea dengan leluasa bisa membuang sosok seperti Kevin de Bruyne dan merekrut Radamel Falcao. Padahal prestasi dua pemain ini berbanding terbalik.Belum lagi ketika Jose Mourinho menyetujui kepergian bek andalan Chelsea, David Luiz ke PSG. 

Hal berbeda justru dialami Brendan Rodgers di Liverpool. Meski pria Irlandia Utara tersebut sudah total untuk berikan hal terbaik kepada Liverpool, ia dianggap pelatih 'kecil'. Namanya bahkan tak sebanding jika dibandingkan dengan sosok mantan kapten Liverpool, Steven Gerrard. Maka tak mengherankan jika kemudian Gerrard tak mau mendengar kala Rodgers tetap memintanya jangan pindah dari Anfield akhir musim lalu. 


2. Beda Perlakuan Direksi

Saat Jose Mourinho mendapat hasil buruk di awal musim ini, sejumlah pemberitaan muncul mengenai kegelisahan direksi Chelsea akan posisi Jose Mourinho, namun mereka berusaha tetap diam. Hal istimewa yang nyata juga diberikan Jose Mourinho dari direksi ialah saat pria Portugal tersebut memperpanjang kontrak. Direktur Chelsea kala itu, Marina Granovskaia hanya menyebut Jose Mourinho perpanjang kontrak, namun mengenai rentang waktunya tak disebutkan pihak direksi. 

Mourinho seperti sosok istimewa dan direksi Chelsea pun berusah untuk menjaga stabilitas tim tanpa memberi penambahan informasi yang buat kegaduhan di ruang ganti pemain. Lihat juga bagaimana perlakuan direksi kepada Jose Mourinho saat kegaduhan Eva Carniero. 

Sementara Rodgers di Liverpool seperti bukan sosok pelatih besar yang layak dihargai tidak hanya pemain namun juga direksi. Sejumlah pemberitaan mengenai kegelisahan direksi klub akan masa depan Rodgers terpampang jelas di media-media lokal Inggris. Pengusaha Amerika Serikat pemilik Liverpool berulang kali isyaratkan atas posisi genting dari Rodgers di Liverpool. Ini membuat ketidaknyamanan dan kegaduhan di ruang ganti. 


3. Perlakuan pemain

Brendan Rodgers jadi sosok pelatih yang benar-benar tak dianggap bagi pemain Liverpool atau mantan pemain yang pernah ia asuh. Maka tak heran jika kemudian, eks kapten Liverpool, Steven Gerrard tak risau ketika mengangkat kegelisahan dan kritik kerasnya ke Rodgers di otobiografinya. 

Gerrard dengan tenang menunjuk hidung sosok Brendan Rodgers sebagai biang kekalahan atau permainan buruk dari Liverpool beberapa musim saat dilatihanya. Hal itu tentu membuat kegaduhan di ruang ganti pemain karena sosok Gerrard pun sudah dianggap besar dibanding Rodgers itu sendiri. 

Bandingkan dengan Mourinho yang jarang sekali mendapat kritikan dari para pemain atau mantan pemain Chelsea. Bahkan saat dengan mudahnya Mourinho membangkucadangkan kapten John Terry, tak ada yang memprotes bahkan John Terry itu sendiri diam seribu bahasa dan memahami keputusan Mourinho.  

LiverpoolChelseaJose MourinhoBrendan Rodgers

Berita Terkini