x

10 Pesepakbola Paling Egois di Liga Primer

Sabtu, 28 November 2015 15:20 WIB
Editor: Ahmad Priobudiyono

Harus diakui secara umum keindahan permainan sepakbola memang berfokus pada skill individu setiap pemain dalam menggiring si kulit bundar di lapangan. Gaya dan seni menggiring bola menjadi pusat perhatian publik sepakbola yang selalu mengundang decak kagum.

Namun keindahan sepakbola tidak hanya bisa dilihat dari sisi kemampuan satu orang pemain saja. Sepakbola menjadi lebih indah untuk dilihat dalam permainan secara  keseluruhan. Untuk itu penting sekali memadukan skill individu dengan taktik dan filosofi permainan secara tim.

Selain itu, sepakbola sejatinya adalah permainan yang mengandalkan kerjasama tim. Meskipun terkadang ada saja beberapa pemain yang ingin tampil lebih menonjol dibanding pemain lainnya. Biasanya pemain ini cenderung berusaha menguasai bola sendirian atau bersikap merugikan bagi rekan setim dan klubnya.

INDOSPORT merangkum sejumlah pemain di Liga Primer yang dicap sebagai pesepakbola paling egois dalam ulasan berikut;


1. Sergio Aguero (Manchester City)

Striker Argentina bisa diakui sebagai salah satu yang terbaik di Liga Primer. Musim ini bersama Manchester City, Kun Aguero telah mengemas 7 gol dan mebukukan dirinya dalam urutan ke delapan pencetak gol terbanyak.

Menilik gaya bermainnya, mesin gol Argentina ini cenderung bermain individual dengan menghabiskan banyak waktu untuk memainkan bola di kakinya.

Meskipun kepiawaiannya dalam mencetak gol tidak diragukan namun keputusannya untuk berlama-lama memainkan bola tak jarang membuat rekan-rekan setimnya kecewa apalagi ketika posisi mereka lebih berpeluang untuk menciptakan gol.


2. Raheem Sterling (Manchester City)

Penandatanganan Sterling musim ini ke Manchester City cukup mengesankan dan disambut baik oleh fans City. Namun di awal debutnya sepanjang musim ini bersama City, telenta muda Jamaica ini tercatat telah banyak membuang banyak peluang dengan melakukan sejumlah tembakan dari posisi yang kurang ideal.

Mengingat usianya yang masih relatif muda, mungkin hal ini bisa dimaklumi pasalnya secara umum sejumlah pemain muda memang kerap belum bisa mengontrol emosi dan menekan ambisinya yang berlebihan.

21 tahun usianya, Sterling masih punya banyak waktu dan ruang untuk membenahi bentuk permainannya dan masih sangat berpotensi menjadi bintang besar di usia keemasannya ke depan.


3. Memphis Depay (Manchester United)

Di musim awalnya bergabung bersama Manchester United, gelandang sayap Belanda terlihat frustasi untuk menemukan ritme dan bentuk permainan terbaiknya sebagaimana ditampilkannya bersama PSV musim sebelumnya.

Dari sembilan penampilannya bersama Setan Merah, Depay tampak memaksakan diri untuk memainkan bola lebih banyak di kakinya dengan berusaha men-dribbling bola melewati lawan-lawannya. Padahal jika dirinya memutuskan untuk memberikan umpan kepada rekannya yang berdiri bebas mungkin hasilnya akan jauh lebih baik.

Mengemban amanat mengenakan nomor 7 keramat Man United tantangan Depay ke depan semakin besar tidak cukup hanya menunjukkan bahwa dirinya bisa menggiring bola di lapangan.


4. Daniel Sturridge (Liverpool)

Talenta berbakat Inggris ini telah mengukir sejumlah momen besar bersama Liverpool sejak musim 2013. Namun striker 26 tahun ini memiliki dua masalah besar dalam permainannya, selain rawan dibekap cedera dirinya juga tergolong sebagai sosok pemain yang egois dan individualis.

Sturridge sering memaksakan diri untuk bisa melewati lawan-lawannya baik di saat posisinya menguntungkan atau tidak.

Meskipun tercatat sebagai pemain yang piawai dalam urusan mencetak, namun pemain 26 tahun ini kurang memiliki kemampuan untuk bermain secara tim.

Hal inilah yang mungkin menjadi alasan utama mengapa Manchester City dan Chelsea memutuskan untuk tidak memberinya kesempatan bergabung bersama mereka.


5. Erik Lamela (Tottenham)

Winger asal Argentina ini sedang memasuki musim ketiganya bersama Tottenham Hotspurt, namun entah bagaimana dirinya masih terlihat gagal untuk beradaptasi dengan gaya permainan Liga Primer.

Erik Lamela memang diakui memiliki skill dan teknik individu yang brilian namun dirinya sangat sering suka menahan bola dan bereksperimen untuk menggiring bola melewati lawan. Seandainya saja Lamela lebih bisa bermain secara tim, Spurs pasti akan lebih banyak mendapat keuntungan.


6. Aaron Lennon (Everton)

Eks pemain sayap Tottenham ini masih menjadi salah satu gelandang sayap paling berbahaya di Liga Primer, namun sejauh ini dirinya masih bermasalah dengan keegoisannya yang terkenal sejak awal kariernya.

Aaron Lennon adalah tipe pemain yang sering membuat fans dan pelatih merasa jengkel karena selalu memaksakan diri untuk menggiring bola melewati lawan dari pada bermain secara tim.

Lennon sangat berpotensi menjadi pemain yang matang jika dirinya bisa menekan ambis dan keegoisannya dalam bermain.


7. Andros Townsend (Tottenham)

Gelandang sayap tim nasional Inggris ini akhirnya lulus menjadi bagian dari skuat Tottenham setelah menghabiskan beberapa musim waktunya untuk dipinjamkan ke sejumlah tim berlevel rendah.

Pemain berusia 24 tahun itu akhirnya mendapat kesempatan untuk membuktikan dirinya layak dimainkan sebagai pemain utama di lapangan. Namun kebiasaannya untuk memaksakan diri men-dribling bola sendirian di sisi kanan membuat Pochettino selalu berpikir dua kali untuk memainkan Townsend sebagai starter.


8. Wilfried Zaha (Crystal Palace)

Zaha sempat digadang-gadang sebagai salah satu talenta yang paling berpotensi untuk bersinar bersama Manchester United. Namun setelah menjalani beberapa penampilan dirinya dinyatakan gagal dan terpaksa kembali ke Crystal Palace.

Penampilan tidak konsisten dan sering melakukan pergerakan-pergerakan tak lazim di lapangan menjadi alasan utama mengapa diriinya dinyatakan gagal memenuhi harapan besar publik Old Trafford.

Diharapkan bisa mendatangkan kejutan dalam permainan, Zaha malah sering membuat putus asa dengan menunjukkan gaya bermain individualisme tanpa visi bermain yang terarah.


9. Marko Arnautovic (Stoke City)

Pemain tim nasional Austria ini sering dibandingkan dengan Zlatan Ibrahimovic di awal karirnya, meskipun dirinya tidak pernah berhasil untuk mengembangkan permainannya ke level tersebut.

Arnautovic adalah pemain yang berpotensi untuk menghasilkan penampilan brilian dari waktu ke waktu, namun salah satu alasan utama kegagalannya inkonsistensi dan ambisinya yang berlebihan untuk lebih banyak memainkan bola di kakinya. 


10. Mauro Zarate (West Ham)

Siapakah pesebakbola paling egois yang pernah ada di dunia? Jawaban yang paling tepat mungkin mengarah pada nama pesepakbola asal Argentina Mauro Zarate.

Talenta berbakat yang dimiliki Argendina ini gagal mencapai potensi terbaiknya akibat gaya individualis dan keegoisannya dalam bermain. Kemampuannya bermain secara tim sangat rendah.

Jika dirinya berkesempatan menguasai bola penyerang 28 tahun ini tampak seperti bermain “satu melawan sebelas” atau mungkin lebih tepat lagi “satu melawan dua puluh satu”, sebab rekan setimnya sering kali dikecewakan karena keegoisannya.

Manchester UnitedLiverpoolRaheem SterlingManchester CityEvertonTottenham HotspurStoke CityWest Ham UnitedDaniel SturridgeWilfried ZahaCrystal PalaceSergio AgueroMauricio PochettinoMemphis DepayErik LamelaAaron LennonLiga Primer InggrisTottenham HotspursMauro ZarateAndros TownsendMarko Arnautovic

Berita Terkini