Meneropong Kisah Hidup 'Maradona dari Carpathians' (PART I)
Rumania sangat menghormati dan menghargai peran serta jasanya dengan memberinya penghargaan "Player of The Year" sebanyak tujuh kali dan menobatkannya sebagai pesepakbola terbaik dari abad ke-20.
Penampilan impresifnya saat memimpin tim nasional Rumania di tiga Piala Dunia tahun 1990, 1994 dan 1994 serta dalam tiga kejuaraan Sepakbola Eropa pada tahun 1984, 1996 dan 2000 membuatnya dijuluki sebagai "Maradona dari Carpathians".
Hagi tidak hanya dikenal memiliki skill dan kemampuan bermain yang luar biasa, pemain yang terpilih sebagai Golden Player Rumania itu juga dikenal dengan memiliki jiwa kepemimpinan yang besar, sehingga fans Rumani memanggilnya dengan sebutan 'Regele' (Raja).
Sementara, di level klub, mantan pemain yang pernah bermain untuk dua rival bebuyutan klub Spanyol, Real Madrid dan Barcelona ini dipanggil dengan sebutan 'Komandan' oleh para penggemar fanatik Galatasaray.
Hagi juga dikenal memiliki jiwa patriotisme yang tinggi meskipun dirinya juga memiliki kepribadian yang liar, tempramental dan cenderung bengal.
Sikap liar dan tempramennya bahkan tidak hanya muncul saat dirinya berlaga di lapangan karena di luar lapangan sikap tempramennya itu kerap muncul dan nyaris tak terkendali.
Namun semua itu berbaur menjadi satu, terbungkus rapi dalam sosok kepribadian yang mengantarkannya menjadi sosok seorang legenda besar yang sulit untuk terlupakan.
Dalam edisi legenda olahraga bersambung kali ini, INDOSPORT coba mengupas sosok Georghe Hagi dari berbagai sisi kehidupan, kepribadian, hingga sederet prestasi yang pernah dicapainya.
1. Masa Kecil yang Suram
Lahir di sebuah desa kecil di daerah Constanta County bernama Sacele, Rumania pada 25 Februari 1965 dari keluarga seorang petani miskin.
Namun kedua orang tuanya yang merupakan keturunan Macedonia yang harus dua kali berimigrasi sebelum menetap di Sacele, menaruh harapan besar di pundaknya.
Harapan dan cita-cita besar orang tuanya disematkan dalam nama belakang yang disandangnya, 'Hagi'. Hagi atau hagiu memiliki arti, orang yang harus dihormati dan dihargai.
Ya, Hagi kecil menghabiskan waktu bermainnya dalam kubangan lumpur tanah desa bersama teman-teman kecilnya sambil membantu orang tuanya menjaga binatang-binatang ternak di sekitar rumahnya.
Saking miskinnya Hagi yang memang memiliki hobi dan bakat sepakbola bahkan harus membuat bola dari lilitan rambut kuda ketika ia ingin bermain sepakbola.
Meski demikian, Hagi tak pernah menundukkan wajahnya dan menutup-nutupi latar belakang masa kecilnya yang kurang beruntung secara ekonomi itu.
Dalam beberapa kesempatan ia tanpa malu-malu menceritakan masa suramnya ke hadapan publik, karena faktor inilah yang secara langsung atau tidak telah membangun wataknya menjadi seorang yang tempramen dan cenderung liar dan keras.
“Aku ini anak petani dan tinggal dengan binatang-binatang ternak di rumah,” ungkapnya bangga.
2. Liar Tapi Berjiwa Patriot
Hagi pun tumbuh besar, beragam macam pengalaman yang didapatnya setelah menjadi seorang pesepakbola hebat tetap tidak mengubah karakter, watak dan kepribadiannya yang liar dan keras.
Sebuah kisah menarik terjadi dalam sebuah lawatannya ke Belanda bersama timnas Rumania pada tahun 2000. Saat tiba di bandara, Hagi merasa mendapat perlakukan kurang mengenakkan dari petugas bandara yang dianggap tidak menghargai tim Rumania.
Saat itu, Hagi tanpa lagi melihat kondisi sekitar tak segan menlontarkan cacian dan makian ke petugas bandara. Hagi bahkan nyaris melayangkan bogem mentahnya ke arah petugas yang dianggapnya telah berlaku arogan.
Sikap liar Hagi tidak hanya terjadi di luar lapangan, sikap tempramennya terbawa sampai ke lapangan hijau. Laga Rumania vs Italia pada ajang Piala Eropa tahun 2000 menjadi salah satu contoh ledakan emosionalnya.
Saat itu, Hagi memaki-maki dan mengumpat Vitor Manuel Melo Pereira wasit yang memimpin jalannya pertandingan, karena memberinya kartu merah akibat menganggapnya telah melakukan takcling keras terhadap Antonio Conte.
Namun Hagi tidak sependapat dengan putusan wasit karena menurutnya Conte telah melakukan diving dan menyikapinya dengan sangat tempramen.
Meskipun kerap tampil meledak-ledak dan emosional, tidak satupun orang Rumania yang memprotes apalagi menghujat tindakan dan perilakunya. Mereka menganggap Hagi melakukannya atas dasar cinta dan bentuk serta sikap patriotismenya pada negara melalui sepakbola sebagaimana yang sering diungkapkan Hagi.
"Aku akan melakukan apa pun untuk negaraku," prinsip Hagi dalam membela Rumania.
Sikapnya itu ternyata tidak hanya dimaklumi oleh rakyat Rumania, bahkan presiden FIFA kala itu, Sepp Baltter menganggap prilaku tempramennya sebagai sebuah kewajaran.
"Hagi adalah pemain hebat. Dia memang terlihat tempramen. Tapi itu hanyalah salah satu faktor yang membuatnya berbeda dengan legenda sepakboal lainnya," kata Blatter.
Jiwa patriotisme dan kepemimpinan yang tinggi dari seorang Hagi tidak hanya didedikasikan untuk negaranya. Di level klub, jiwa patriotisme dan kepemimpinan Hagi pun diakui oleh rekan-rekan satu timnya.
"Galatasaray tidak punya rasa takut sedikitpun selama Hagi ada di lapangan. Dia sangat kuat dan memberi rasa percaya diri. Dia memang terlahir untuk jadi seorang pemimpin," kata Bulent Korkmaz salah satu rekan satu timnya di Galatasaray.
3. Cinta dan Awal Karier Sepakbola
"Ketika saya 6 tahun, ibu memberi saya bola sebagai hadiah. Itu kemudia saya gunakan untuk bermain di jalan-jalan. Mulai dari usia sepuluh tahun saya tidak pernah menyerah bermain sepakbola. Saya pikir saya terlahir untuk sepakbola. Saya sangat mencintai sepakbola. Sulit untuk menggambarkannya," kata Hagi.
Ya, itulah ungkapan rasa cinta Hagi terhadap dunia yang membesarkan namanya. Dan, usia 10 tahun merupakan titik awal baginya menapaki karier sepakbola. April 1975, seorang pemain muda FC Constanta membawa kabar kepada pelatihnya Losif Bukossi.
"Ada seorang anak di sekolah, dia menghancurkan semua orang."
Bukokssi yang penasaran lantas mencoba untuk menemui Hagi dan tanpa beban apa pun memberinya kesempatan untuk bermain.
"Dia begitu kecil, saya tidak yakin sebelumnya. Tapi saya putuskan, tidak ada salahnya jika kita coba. Saya kirim anak itu ke belakang gawang," kisah Bukossi.
"Suatu ketika bola meleset dari tangkapan kiper, dia sempat memainkan bola beberapa kali sebelum mengirimnya kembali ke tengah lapangan. Caranya menendang sangat berbeda dari mereka yang pernah saya latih sebelumnya selama beberapa tahun," sambungnya.
Hagi pun memulai kariernya bermain untuk tim muda dari Farul Constanta pada tahun 1975. Bakat bermain bolanya sungguh luar biasa. Jika berlari, bola seperti lengket di kakinya. Pengatur permainan yang cerdas. Tendangan kaki kirinya pun bukan main dahsyatnya.
Hal inilah yang membuatnya kemudian dipilih oleh Federasi Sepakbola Rumania untuk bergabung bersama tim Luceafarul Bucuresti pada tahun 1980 selama dua tahun.
Pada tahun 1982, ia kemudian kembali ke Constanta, hingga satu tahun kemudian setelah usianya menginjak 18 tahun, ia pun siap untuk membuat langkah ke klub papan atas.
Awalnya ia diarahkan untuk bergabung ke Universitatea Craiova, namun Hagi lebih memilih untuk bergabung ke Sportul Studenţesc sebelum akhirnya merapat ke Steaua Bucuresti yang mengantarkannya tampil ke final Piala Super Eropa melawan Dynamo Kyiv.
Lantas bagaimana kiprah dan prestasi yang dicapai Hagi dikancah sepakbola Eropa dan dunia? Simak lanjutan kisahnya pada edisi legenda olahraga selanjutnya.