Drama Kutukan Liga Champions Zlatan Ibrahimovic
Zlatan Ibrahimovic, satu nama dengan seribu cerita yang mengekor di belakang. Hebat, bad guy, pahlawan, pembangkang, kontroversial bahkan segala macam sisi antagonis melekat dalam diri striker jangkung berusia 34 tahun ini.
Publik tak sedikitpun membenci sosok Ibra sebagai seorang pesepakbola meski ia agak bengal. Sisi buruknya berhasil ia bayar tuntas dengan penampilan impresif dan menghibur di atas lapangan. Mari buka kembali video-video tayangan ulang dan lihat gol-gol akrobatik Ibra, tingkah usil sampai menjadi pahlawan bagi klub yang ia bela.
Pernah suatu waktu bintang timnas Swedia ini terlibat perseteruan dengan Pep Guardiola di Barcelona sampai akhirnya ia hengkang ke AC Milan sebagai pemain pinjaman. Kala itu Guardiola dianggap meng-anakemaskan Lionel Messi. Ibra tak suka karena merasa dipinggirkan Guardiola dan lantas hengkang.
Zlatan Ibrahimovic saat masih berseragam Juventus
Apakah publik benci dengan tingkah Ibra yang membangkang itu? Tentu tidak. Itu hanya bagian kecil dari cerita kontroversial Ibra. Orang-orang akan lebih senang mengingat momen konyol saat Ibra memikul Gennaro Gattuso dan melempar pemain temperamental, sangar dan disegani pemain lawan tersebut ke tempat sampah saat masih sama-sama berseragam AC Milan.
Lalu, cerita Ibra yang mana yang lebih menggelitik? Ya, cerita soal kutukan pemain kelahiran 03 Oktober 1981 ini yang belum pernah mencicipi gelar Liga Champions. Entah apa yang salah dari Ibra, yang jelas setiap klub besar yang ia singgahi akan bernasib sial dan akan gagal mengangkat trofi Si Kuping Besar.
Selebrasi Zlatan Ibrahimovic usai mencetak gol bagi Paris Saint-Germain di pentas Liga Champions
Kutukan Ibra berlanjut saat PSG harus tersingkir dari babak perempatfinal Liga Champions, pada Rabu (13/04/16) dini hari WIB usai dikalahkan wakil Inggris, Manchester City dengan skor tipis 1-0. City sukses melaju ke semifinal usai menang agregat 3-2. Ibra kembali gigit jari dan gagal menyentuh trofi Liga Champions untuk kesekian kalinya.
INDOSPORT akan mengulas drama kutukan Zlatan Ibrahimovic yang kembali gagal membawa timnya dan bahkan tak pernah meraih gelar Liga Champions sepanjang karier profesionalnya.
1. Ibra dan Kutukan Bersama 6 Klub Besar
Waktu Ibra untuk memecahkan kutukan rasanya sudah habis. Ibra tampak selamanya akan menyandang status sebagai pemain hebat yang tak pernah menjuarai Liga Champions. Gelar Liga Champions juga sepertinya akan menjadi satu-satunya hal yang tak ada di curriculum vitae Ibra.
Sudah 6 klub besar ia bela seperti Ajax Amsterdam, Juventus, Inter Milan, Barcelona, AC Milan dan kini Paris Saint-Germain. Namun, Ibra gagal mengantarkan 6 klub tersebut berjaya di kompetisi elit antar klub Eropa. Ibra telah dikutuk untuk menuai kegagalan jika bermain di pentas Liga Champions.
2. Ibra dan Ajax Amsterdam di 2001-2002
Petualangan Ibra menembus kompetisi Eropa dimulai dari Ajax Amsterdam setelah hijrah dari klub kota kelahirannya Malmo.
Ibra jarang dimainkan di bawah pelatih Co Adriaanse, tetapi ketika Adriaanse dipecat pada tanggal 29 November 2001, pelatih baru Ronald Koeman mempercayakan Ibra ke dalam starting line-up awal Ajax yang akhirnya sukses memenangkan gelar Eredivisie 2001/02.
Musim berikutnya, Ibra sukses mencetak 2 gol dalam kemenangan 2-1 atas juara Prancis, Lyon di debut Liga Champions pada 17 September 2002. Ibra berhasil mencetak total 5 gol di Liga Champions secara keseluruhan pada saat itu meski akhirnya Ajax dikalahkan AC Milan di perempat final.
Pada tanggal 18 Agustus 2004, saat pertandingan internasional Swedia melawan Belanda, Ibra melanggar rekan setimnya di Ajax, Rafael van der Vaart. Akibat aksi tersebut, Ibra dituduh mencederai van der Vaard dengan sengaja. Hal tersebut lah yang kemudian membuat Ibra dijual ke Juventus secara tiba-tiba pada 31 Agustus 2004.
Bersama Ajax, Ibra hanya berhasil meraih 2 gelar Liga Eredivisie Belanda, 1 gelar KNVB Cup.
3. Ibra dan Calciopoli di Juventus
Ibra melanjutkan petualangannya di Eropa dengan hijrah dari Ajax ke salah satu raksasa Italia, Juventus dengan biaya 16 juta Euro. Ibra akhirnya dimasukkan ke dalam starting line-up karena top scorer Juventus kala itu, David Trezeguet mengalami cedera, dan mencetak 16 gol.
Menjelang akhir musim, Juventus dilaporkan menolak tawaran sebesar 70 juta Poundsterling dari Real Madrid yang menginginkan jasa Ibra. Memasuki musim kedua, penampilan Ibra justru menurun dan tak setajam musim pertama. Perannya berubah dari sebagai pencetak gol dan hanya menjadi pemain yang bergerak lebih banyak dari pinggir lapangan.
Musim 2004/05, Ibra bersama Juventus langsung berjumpa Ajax di babak penyisihan Grup C Liga Champions. Total 5 kemenangan beruntun dengan skor 1-0 berhasil membawa Ajax memuncaki klasemen dan lolos ke 16 besar meski Ibra tak mencetak gol.
Harapan Ibra meraih gelar Liga Champions semakin membesar saat Juventus berhasil menyingkirkan raksasa Spanyol, Real Madrid. Sayang, langkah Bianconeri terhenti usai ditaklukkan Liverpool di babak 8 besar dan The Reds keluar sebagai juara pada musim tersebut.
Musim 2005/06, Ibra kembali berhasil membawa Juventus memuncaki Grup A dan melaju ke babak 16 besar. Namun lagi-lagi Juventus harus tersingkir dari babak perempatfinal usai ditaklukkan Arsenal dengan total agregat 2-0.
Bersama Juventus, Ibra hanya berhasil meraih 2 gelar Serie A Italia yakni pada musim 2004/05 dan 2005/06. Sialnya dua gelar tersebut harus dicabut karena skandal Calciopoli yang melanda Juventus.
4. Petulangan Ibra Bersama Inter Milan
Ibra melanjutkan petualangannya bersama klub Italia lainnya yang merupakan rival Juventus pada musim panas 2006. Kala itu Ibra diboyong Inter dengan harga 20 juta Poundsterling.
Namun, kepindahan Ibra ke Inter tetap tak mengubah peruntungannya di pentas Liga Champions. Kala itu Inter harus terjegal oleh wakil Spanyol, Valencia di babak 16 besar. Di musim selanjutnya 2007/08, Ibra juga gagal membawa Inter melangkah jauh di Liga Champions setelah disingkirkan Liverpool dengan total agregat 3-0 di babak 16 besar.
Tak selesai sampai disitu, musim selanjutnya Inter kembali gagal melangkah ke fase perempatfinal setelah ditaklukkan Manchester United dengan agregat 2-0 di babak 16 besar. 3 musim beruntun Ibra dan Inter harus tersingkir dari babak 16 besar Liga Champions.
Bersama Inter, Ibra berhasil meraih 3 gelar Serie A Italia pada musim 2006/07, 2007/08 dan 2008/09 serta 2 gelar Supercoppa Italia pada musim 2006 dan 2008.
5. Perseteruan Ibra dan Guardiola di Barcelona
Kapten timnas Swedia ini melanjutkan peruntungannya bersama Barcelona pada 2009. Namun, dana besar senilai 59 juta Poundsterling yang dikeluarkan Barcelona untuk mendapatkan Ibra juga gagal membuahkan hasil.
Sialnya, Ibra bersama Barcelona harus tersingkir dari babak semifinal Liga Champions usai dikalahkan tim yang ia bela musim sebelumnya, Inter yang dilatih Jose Mourinho. Musim tersebut, Inter justru berhasil meraih gelar Liga Champions.
Bersama Barcelona, Ibra gagal meraih gelar Liga Champions dan hanya meraih La Liga musim 2009/10, 2 gelar Supercopa de Espana pada musim 2009 dan 2010, UEFA Super Cup 2009 dan FIFA Club World Cup 2009.
6. Kutukan Berlanjut di Milan
Pindah ke AC Milan pada 2010/11, Ibra dipaksa hanya gigit jari dan menonton saat Barcelona berhasil meraih gelar Liga Champions pada tahun 2011 setelah mengalahkan Manchester United di Wembley. Musim tersebut, Milan disingkirkan Tottenham Hotspur di babak 16 besar.
Di musim berikutnya pada 2011/12, Milan malah disingkirkan Barcelona dari babak perempatfinal Liga Champions dengan agregat total 3-1.
Bersama Milan, Ibra berhasil memenangkan gelar Serie A Italia pada 2010/11 dan Supercoppa Italiana pada tahun 2011.
7. Kutukan Terakhir Ibra di PSG
Pindah ke PSG, Ibra menjadi bintang baru andalan raksasa Ligue 1 Prancis tersebut. Ibra begitu digdaya di pentas domestik dengan beberapa kali membawa PSG meraih gelar Ligue 1 Prancis.
Sayang, kutukan Ibra kembali berlanjut di pentas Liga Champions. Hingga saat ini, Ibra tak juga berhasil membawa PSG meraih gelar Liga Champions. Terakhir, PSG justru disingkirkan wakil Inggris, Manchester City di perempatfinal dengan agregat total 3-2.
Setelah ditaklukkan The Citizens, PSG kini semakin akrab dengan babak perempatfinal Liga Champions karena selalu tersingkir di babak tersebut.
Dalam 4 musim beruntun, PSG selalu gagal menembus babak semifinal karena terhenti di babak perempatfinal. Pada musim 2012/13, Ibra dan kawan-kawan tersingkir usai takluk dari Barcelona dengan agregat 3-3 lewat agresivitas gol tandang.
Musim berikutnya, PSG disingkirkan Chelsea dengan agregat 3-3. Namun, Chelsea menang agresivitas gol tandang karena pada leg pertama PSG berhasil menang 3-1 namun pada leg kedua PSG justru kalah 2-0 di Stamford Bridge.
Lalu di musim 2014/15, PSG sukses balas dendam kepada Chelsea di babak 16 besar dan melaju ke babak perempatfinal. Namun, tim asuhan Laurent Blanc kembali mendapatkan hadangan Barcelona yang menang agregat 5-1 dan akhirnya berhasil menjadi juara di musim tersebut.
Dan musim ini, PSG gagal melangkah ke semifinal usai ditaklukkan City. Padahal di babak 16 besar, PSG berhasil mendepak Chelsea.
Bersama PSG, Ibra sudah memenangkan 4 gelar Ligue 1 Prancis dalam 4 musim beruntun yakni pada musim 2012/13, 2013/14, 2014/15 dan 2015/16, 3 gelar Trophée des champions pada 2013, 2014, 2015 lalu 2 gelar Coupe de la Ligue di musim 2013/14, 2014/15 serta gelar Coupe de France pada musim 2014/15.