x

Atletico Madrid dan 5 Kisah Sedih Kekalahan di Final Liga Champions

Minggu, 29 Mei 2016 11:28 WIB
Editor: Gema Trisna Yudha

Atletico Madrid harus menerima kenyataan pahit dan merelakan trofi Liga Champions kembali lepas dari genggaman. Atleti harus kembali merelakan Si Kuping Besar kembali diangkat oleh rivalnya karena kalah di babak adu penalti. 

Atleti tak cuma kali ini menerima kekalahan menyakitkan saat berhadapan dengan Real Madrid di final Liga Champions. Los Colchoneros mengalami kekalahan serupa dari El Real di final Liga Champions 2013/2014 yang dihelat di Estadio da Luz, Lisbon, Portugal. 

Atletico yang kala itu telah unggul lewat gol Diego Godin di menit 36 harus menahan kegembiraan meraih kemenangan. Sebabnya, Sergio Ramos mencetak gol penyama pada masa injury time sehingga laga harus dilanjut ke babak tambahan.

Di babak tambahan inilah Real Madrid seperti mendapat tambahan energi. El Real mengamuk dan menambah tiga gol sekaligus hanya dalam waktu 10 menit. Gareth Bale mencetak gol di menit 110, Marcelo pada menit 118, lalu Cristiano Ronaldo mengukuhkan kemenangan lewat eksekusi penalti brilian yang menjadikan kedudukan menjadi 4-1. 

Namun tak cuma Atletico Madrid yang merasakan kekalahan pahit di final Liga Champions. Kali ini INDOSPORT mengulas lima kekalahan menyakitkan lainnya di pentas sepakbola paling bergengsi di tanah Eropa ini. 


1. Camp Nou, 1999

Kekalahan menyakitkan Bayern Munchen terjadi di final Liga Champions 1998/1999 kala berhadapan dengan Manchester United. Bau kemenangan Die Bayern tercium sangat kuat di Stadion Camp Nou, Barcelona, yang kala itu menjadi lokasi pertandingan. 

Munchen yang saat itu berada dalam komando Ottmar Hitzfeld telah unggul cepat di menit ke-6 lewat gol kreasi Mario Basler. Usaha keras pasukan Alx Ferguson berkali-kali hanya menemui jalur buntu. 

Dwight Yorke, Andy Cole, David Beckham dan Ryan Giggs tak mampu menerobos kuatnya benteng pertahanan FC hollywood. Ferguson kemudian menarik Andy COle untuk digantikan oleh Ole Gunnar Solskjaer di menit 81. 

Strategi Ferguson terbukti efektif merubah ritme permainan Setan Merah. Daya gedor MU semakin bertenaga setelahnya. Berawal dari tendangan sudut Beckham, Ryan Giggs melepas tembakan yang tak bertenaga. Namun Teddy Sheringham melanjutkannya dengan lebih powerfull dan menusuk ke sudut gawang. Saat itu laga berada pada menit 90+0,36 detik, Mu berhasil menyamakan kedudukan. 

Solksjaer menjadi pahlawan MU dengan mencetak gol kemenangan di menit 90+3. Gol MU lagi-lagi diawali tendangan sudut Beckham yang ditanduk Sheringham sebelum diteruskan sepakan keras Solksjaer. 

Para pemain dan fans Munchen langsung meradang, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa karena wasit Pierluigi Collina meniup peluit panjang yang menandakan kemenangan MU. 


2. Ataturk Olympic Stadium, 2005

Laga final Liga Champions 2004/2005 antara Liverpool dan AC Milan berakhir serupa dengan final Liga Champions musim ini. Milan yang telah unggul sejak menit pertama harus merelakan kemenangannya direbut Liverpool lewat drama adu penalti. 

Kapten Paolo Maldini dengan cepat membawa keunggulan bagi Milan lewat golnya di menit pertama. Herman Crespo menambah dua gol di menit 39 dan 44. 

Liverpool bangkit di babak kedua dengan mencetak tiga gol hanya dalam waktu enam menit. Steven Gerrard membuka gol The Reds di menit 54. Vladimir Smicer menyusul dua menit kemudian. Dua gol ini praktis membuat mental The Reds kembali melambung, apalagi Xabi Alonso kemudian menyamakan kedudukan di menit 60.

Setelah babak tambahan tak merubah keadaan, laga berlanjut ke babak penalti. Disinilah petaka menimpa Rossoneri. Dua kali penalti awal yang dieksekusi Serginho dan Andrea Pirlo gagal menembus gawang Jerzy Dudek. 

Sementara dua penalti awal Liverpool yang dieksekusi Dietmar Hamann dan Djibril Cisse sukses memberi keunggulan. Sempat gagal kala penalti dieksekusi John Arne Riise, pasukan Rafael Benitez mengklaim kemenangan lewat penalti mulus Vladimír Smicer. 

Fans Liverpool yang sejak awal pertandingan menahan cemas berteriak kesetanan. Atatürk Olympic Stadium, Istanbul, Turki pun bergemuruh. Sementara para pemain Rossoneri menahan tangis dibawah komando Carlo Ancelotti. 


3. San Siro, 2001

Valencia mengakhiri final Liga Champions musim 2000/2001 dengan sangat menyakitkan kala bentrok dengan Bayern Munchen. Betapa tidak, tim Kelelawar Hitam berhasil menahan amukan FC Hollywood hingga laga paling ujung. 

Suporter Valencia yang memadati San Siro saat itu sangat yakin mereka dapat merebut kemenangan. Els Taronges yang saat itu berada di bawah komando Hector Cuper unggul cepat lewat gol penalti Gaizka Mendieta di menit ke-3. 

Munchen mendapat gol penyama juga lewat tendangan penalti yang dieksekusi Stefan Effenberg di menit 50. Kedua tim terus saling serang, namun keadaan tak berubah hingga babak tambahan. Keadaan ini membuat pertandingan terpaksa dilanjutkan ke babak adu penalti.

Di babak penentu ini pun valencia masih tetap tampil ngotot untuk meraih kemenangan. Kelelawar Hitam memasukkan empat gol, sejumlah yang dibobol pasukan Munchen ke gawang mereka. Sayang pada tendangan penentu, Mauricio Pellegrino gagal membobol gawang Oliver Kahn. Mereka pun harus merelakan trofi juara diangkat Munchen. 


4. Olympiastadion, 1993

AC Milan gagal meraih trofi kelima di final Liga Champions 1992/1993 berhadapan dengan Olympique de Marseille. Kekalahan ini sangat menyakitkan sekaligus mengejutkan karena saat itu Rossoneri berada di masa-masa kejayaan.

Milan memang kembali meraih trofi si Kuping Besar pada musim berikutnya kala membantai Barcelona dengan skor telak 4-0. Namun kekalahan atas Marseille tetap menorehkan luka yang tak terlupakan, sebab klub asal Prancis itu sama sekali tak diunggulkan. 

Sebelum laga berlangsung di Olympiastadion, Munchen, Jerman, hampir semua penggemar sepakbola meyakini kemenangan AC Milan. Bahkan ketika Basile Boli membobol gawang Sebastiano Rossi di menit 43, semua masih percaya Rossoneri mampu membalik keadaan. 

Sayang hingga akhir pertandingan pasukan Fabio Capello tak sekalipun berhasil menggetarkan gawang Fabien Barthez. 


5. Wembley Stadium, 1992

Final Liga Champions musim 1991/1992, yang saat itu masih bernama European Cup mempertemukan Sampdoria dan Barcelona. Itu merupakan final pertama bagi Sampdoria dan ketiga bagi Barcelona di pentas tertinggi Eropa. Keduanya sama-sama belum pernah meraih gelar juara. 

Hanya saja, Sampdoria yang saat itu tengah berada di era kejayaannya percaya diri akan mengangkat meraih kemenangan. Target mereka melengkapi trofi Serie A, Supercoppa, dan Piala Winner yang diraih sebelumnya. 

Roberto Mancini dan Gianlucca Vialli yang berduet di lini depan Sampdoria terus menggempur lini pertahanan El Barca. Namun Ronal Koeman dan Josep Guardiola berkali-kali pula menggagalkan upaya Blucerchiati.

Keadaan tanpa gol bertahan hingga akhir laga di waktu normal. Petaka bagi Sampdoria terjadi di babak tambahan. Kala mereka berusaha menggagalkan upaya Eusebio Sacristan. Wasit Jerman, Aron Schmidhuber memberi Barca tendangan bebas. 

Sepakan Ronald Koeman, yang menjadi eksekutor, berhasil menerobos pagar betis para pemain Sampdoria dan membuat skor berubah 1-0. Sampdoria harus merelakan gelar incaran mereka kepada Barca yang mendapatkan gelar ini untuk kali pertama. 

Manchester UnitedLiverpoolBarcelonaLiga ChampionsBayern MunchenAC MilanValenciaOlympique MarseilleSampdoria

Berita Terkini