(ANALISIS) Ini Alasan Empat Klub Elit Italia Kurang Aktif di Bursa Transfer
Juventus mungkin boleh jadi satu-satunya klub Serie A Italia yang terlibat di jendela transfer musim panas ini. Meski mereka ‘hanya’ mendatangkan satu pemain, yakni Gonzalo Higuain dari klub rival Napoli, namun transfer yang dilakukan tersebut tidaklah berjumlah sedikit.
Uniknya lagi, Napoli pun sudah dapat dikatakan tidak memiliki pemain berkualitas lagi yang dapat diandalkan, setelah hengkangnya Higuain ke klub rival.
Berbeda dengan kampiun Serie A di musim 2015/16 kemarin itu, beberapa klub pesaing seperti AC Milan, AS Roma, Internazionale Milan, hingga Napoli, keempat klub ini dapat dikatakan kurang aktif di jendela transfer musim panas ini.
Padahal, sudah tidak asing lagi jika setiap bursa transfer beberapa klub elit Eropa berani mendatangkan pemain dengan jumlah yang fantastis, lantas mengapa mereka terlihat adem ayem alias kurang banyak melakukan pergerakkan di jendela transfer musim panas ini?
Berikut ini beberapa analisisnya versi INDOSPORT:
1. Meningkatnya Nilai Jual
Tak dapat dipungkiri, seiring dengan berjalannya waktu, nilai jual setiap pemain tentu memiliki peningkatan yang besar terlebih jika sang pemain memiliki peforma yang apik di musim sebelumnya.
Hal tersebutlah yang membuatnya dihargai cukup mahal oleh klub induknya dan sudah pasti, mereka tidak ingin melepas asetnya tersebut dengan cara yang mudah.
Beberapa klub kurang terkenal yang memiliki pemain bagus tentunya tidak tanggung-tanggung dalam melabeli asetnya dengan harga tinggi.
Apalagi banyak klub elit di Eropa yang juga tidak keberatan memenuhi harga tinggi itu, sebut saja klub-klub seperti, Chelsea, Manchester City, Real Madrid atau Paris Saint-Germain (PSG) yang memiliki dana melimpah.
Kalau sudah begini, wajar rasanya jika AC Milan, Internazionale, AS Roma, dan Napoli harus mengubur impan mereka untuk mendatangkan pemain incaran tersebut, mengingat dana mereka tentunya terbatas.
Belum lagi mereka harus menyeimbangkan neraca keuangan klub agar tidak terkena Financial Fair Play (FFP).
2. Harga Tak Sesuai dengan Kualitas Pemain
Sudah tidak jarang pemain yang didatangkan dengan harga tinggi namun pada kenyataannya, sang pemain justru tampil melempem atau kualitasnya jauh dari harapan yang diharapkan.
Masih bagus jika sang pemain ternyata harus cedera, lalu bagaimana sejak dimainkan namun ia tidak dapat beradaptasi dengan baik?
Hal inilah yang pastinya membuat beberapa klub termasuk keempat klub besar di Negeri Pizza itu berpikir dua kali.
3. Nama Besar Klub Mulai Berkurang
Harus diakui, dalam beberapa musim terakhir, kompetisi sepakbola di Negeri Spaghetty ini telah didominasi sepenuhnya oleh Juventus.
Sementara para pesaingnya justru tampil compang-camping, bahkan boleh dikatakan mereka tampil kurang konsisten.
Internazionale, Napoli, dan AS Roma misalnya, ketiga klub ini pernah menempati posisi puncak klasemen sementara di musim 2015/16 lalu. Karena tidak konsisten, mereka justru terpeleset dan bergantian menyerahkabn singgasana Serie A.
Juve yang tertatih-tatih sejak awal musim ini justru secara perlahan tapi pasti dapat menyusul mereka ke posisi puncak, bahkan sukses menutup musim menjadi juara.
Sementara Milan yang juga sempat memberikan angina sejuk kepada para fansnya, juga harus berjuang untuk mendapatkan posisi terbaik, sempat mendekati posisi zona Liga Champions, mereka justru terpeleset jauh ke posisi di bawah 10 besar.
Barulah pada akhir musim, mereka mulai mengincar zona Eropa, sayangnya karena kurang konsisten membuat klub berjuluk Rossoneri ini harus puas mengakhiri musim di posisi ke-7.
Tidak heran, nama besar klub mereka pun mulai berkurang sehingga beberapa pemain elit yang namanya hangat dibicarakan di jendela transfer banyak yang merundingkan, bahkan bukan tidak mungkin mereka langsung memberikan penolakkan untuk keempat klub tersebut.
4. Tawaran Gaji dari Klub Lain Lebih Menarik
Selain banyaknya klub elit Eropa lain yang berani mendatangkan pemain incaran di jendela transfer, mereka juga tidak segan-segan menawarkan gaji tinggi demi menarik minat pemain tersebut.
Situasi inilah yang juga membuat klub besar di Serie A ini kembali harus menggigit jari karena harus mengalah dalam mendatangkan sang pemain.
Bahkan, bukan tidak mungkin jika gaji pemain itu bahkan bisa setara atau melebihi lebih dari satu pemain dalam satu skuat mereka.
5. Banyak Pemain Ingin Bermain di Liga Champions
Kurang konsistennya keempat klub yang telah disebutkan di liga domestik tentu membuat mereka juga minim kesempatan tampil di Liga Champions, kompetisi yang selalu diidam-idamkan oleh pesepakbola manapun.
Di Serie A Italia kini hanya menempatkan dua klub yang dipastikan lolos ke Liga Champions, satu tempat lagi bisa diraih andai klub tersebut berhasil lolos dari babak kualifikasi.
Pastinya menjadi alasan kuat juga beberapa pemain incaran terlebih yang namanya sedang melambung menolak untuk bergabung dengan mereka yang tidak bermain di Liga Champions.